Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
e-dukasi.net
Edukasi
 ~ 


 
 

Unsur Kebahasaan

Unsur kebahasaan yang akan kita pelajari pada teks biografi ini adalah :


Dalam bahasa Indonesia dikenal adanya berbagai makna kata yang berhubungan dengan kata-kata lainnya. Di antaranya adalah makna polisemi, hipernim, dan hiponim.


Polisemi adalah kata yang memiliki makna atau arti lebih dari satu.

"Kepala" dapat diartikan bermacam-macam walaupun arti utama kepala adalah bagian tubuh manusia yang ada di atas leher.
Contoh : "Kepala"

  1. Guru yang dulunya pernah menderita sakit gagal ginjal sekarang telah menjadi kepala SMP Mahakarya Bangsa. (kepala bermakna pemimpin).
  2. Kepala anak kecil itu besar sekali karena terkena penyakit hidrosepalus. (kepala berarti bagian tubuh manusia yang ada di atas).
  3. Pak Sukatro membuat kepala surat untuk menulis surat dinas. (kepala berarti bagian dari surat).


Contoh kata lain dari polisemi :

  1. Baru sampai kaki Gunung Salak ia sudah kelelahan dan beristirahat di pos terdekat.
  2. Daun jendela rumah Bu Muslimah sudah rapuh dimakan rayap.
  3. Mata air sungai itu sudah mengering.
  4. Alfi berlari sampai ke bibir pantai dan bermain ombak dengan gembira.
  5. Susi Susanti jatuh bangun dalam mengejar bola yang dimainkan lawan.



Hipernim adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain. Kata hipernim dapat menjadi kata umum dari penyebutan kata-kata lainnya.


Hiponim adalah kata-kata yang terwakili artinya oleh kata hipernim. Umumnya kata-kata hipernim adalah suatu kategori dan hiponim merupakan anggota dari kata hipernim.


Perhatikan contoh dalam kalimat!




  1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian atau pemerian.
  2. Misalnya :

    1. Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
    2. Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati.


    Catatan :
    Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
    Misalnya :

    1. Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
    2. Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.


  3. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
  4. Misalnya :

    1. Ketua : Ahmad Wijaya
      Sekretaris : Siti Aryani
      Bendahara : Aulia Arimbi
    2. Tempat : Ruang Sidang Nusantara
      Pembawa Acara : Bambang S.
      Hari, tanggal : Senin, 27 Juli 2015
      Waktu : Pukul 09.00?10.30


  5. Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
  6. Misalnya :

    Ibu : "Bawa kopor ini, Nak!"
    Amir : "Baik, Bu."
    Ibu : "Jangan lupa. Letakkan baik baik!"

  7. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) bab dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
  8. Misalnya :

    Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
    Surah Yasin: 9
    Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara
    Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa

  9. Tanda Petik (" ")

    1. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
    2. Misalnya :

      Pasal 36 UUD 1945 menyatakan, "Bahasa negara ialah bahasa Indonesia."
      Ibu berkata, "Paman berangkat besok pagi."
      "Saya belum siap," kata dia, "tunggu sebentar!"

    3. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
    4. Misalnya :

      Sajak "Pahlawanku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
      Saya sedang membaca "Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia" dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
      Bacalah "Penggunaan Tanda Baca" dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
      Makalah "Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif" menarik perhatian peserta seminar.

    5. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
    6. Misalnya :

      Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
      Dia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".


    Catatan :

    1. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
    2. Misalnya :

      Kata dia, "Saya juga minta satu."
      Dia bertanya, "Apakah saya boleh ikut?"

    3. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
    4. Misalnya :

      Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
      Karena warna kulitnya, dia mendapat julukan "Si Hitam".

    5. Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

    6. Tanda petik (") dapat digunakan sebagai pengganti idem atau sda (sama dengan di atas) atau kelompok kata di atasnya dalam penyajian yang berbentuk daftar.
    7. Misalnya :

      zaman bukan jaman
      asas bukan azas
      plaza bukan plasa
      jadwal bukan jadual
      bus bukan bis


    Tanda Petik Tunggal (' ')

    1. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain.
    2. Misalnya :

      Tanya dia, "Kau dengar bunyi 'kring kring' tadi?"
      "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriakan anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.

    3. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan.
    4. Misalnya :

      terpandai, 'paling' pandai
      retina, 'dinding mata sebelah dalam'
      mengambil langkah seribu, 'lari pontang panting'
      sombong, 'angkuh'

    5. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab III, Huruf M)
    6. Misalnya :

      feed-back 'balikan'
      dress rehearsal 'geladi bersih'
      tadulako 'panglima'






 
 

  [ SD |  SMP |  SMA |  SMK ]


UMUM |  LAIN-LAIN ]