Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 


 
 

Pendahuluan


APA komentar kita ketika berada di pasar melihat ada perdagangan satwa liar?

Mungkin kita berkomentar begini. Aduh, kenapa polisi tidak menangkap orang yang menjual satwa liar itu? Atau pada saat itu kita melihat hewan yang diperdagangkan itu dibekuk, diikat, dikerangkeng, diseret-seret, ditelikung, dibekap atau dicekik agar jangan meronta-ronta sehingga terlepas. Bisa jadi komentar kita akan begini. Kasihan! Kenapa ada orang yang begitu sadis ya. Dan kenapa pula ada orang yang suka membelinya? Itu ‘kan transaksi ilegal. Melanggar hukum. Tidak berperi…peri apa ya?, kemanusiaan atau kebinatangan? Tetapi komentar kita hanya sebatas itu, tidak bertindak sesuatu pun dan merasa tak mampu berbuat apa-apa. Kita pun menjadi terbiasa berbuat begitu, kecuali satu dosa awal yang begitu cepat berkesimpulan dini. Lalu kita berlalu seolah tak terjadi apa-apa dan merasa tak pernah melihatnya. Hanya sampai disitu. Karena hal itu sudah menjadi pemandangan biasa.

Bisa saja yang terjadi begini. Wah, ada perdagangan gelap di sini. Komentar kita setengah hati, mulanya. Tanpa sadar kaki diayun menuju ke sana. Semakin dilihat dekat semakin terpikat kita memandangnya. Ada burung nuri dan kakaktua, dan tak terhitung jenis rupa ragam cantiknya dan merdunya, yang kesemuanya tergolong jenis aves. Masih ada jenis yang menyeramkan seperti ular, buaya, kadal sampai dengan iguana dari jenis reptil. Begitu pun ragam rupa jenis ikan, pisces. Ada beruk, kera, dan jenis mamalia lainnya seperti kuskus dan bahkan harimau dan badak. Kupu-kupu, lipan, jangkrik yang tak terhitung banyak marga dan tak terbilang jumlahnya yang dimasukkan ke golongan insect. Juga spesies coral atau kerang seperti kima, ketam, mimi dan lainnya. Masing-masing dengan sifat uniknya dan kekhasannya.

Selanjutnya masih tanpa disadari kita sudah bergabung ke dalam kerumunan perdagangan satwa liar itu. Siapa tahu ada yang murah tapi bagus. Sekalian menyayangi sesama makhluk hidup. Pikir kita mencari pembenaran diri. Juga sekalian menaikkan prestise bila mampu memilikinya, motif begini disamarkan biasanya. Kemudian kita pun ikutan menaksir-naksir lalu menawar yang cocok. Apalagi setelah melihat-lihat dan menimbang-nimbang ada di antara satwa liar itu yang kita ingin miliki. Dan kalau di kantong tersedia uang yang cukup untuk itu maka kita pun membelinya.

Penggambaran di atas memperlihatkan ragam-rupa komentar dan tindakan. Mulai dari perkara jual-beli satwa liar yang kita pikir harus dicegah, prihatin tapi tak berbuat apa-apa, sampai yang ikutan meramaikan kegiatannya. Namun, pada dasarnya satwa liar dari dulu sampai sekarang sudah dikenal sebagai salah satu komoditas pasar.

Mengenai komentar pertama, tentu saja merupakan akibat informasi yang kita cerna dari media seolah-olah kegiatan itu tak boleh dilakukan. Mengingat hal itu bersifat liar. Jadi beralasan bagi kita untuk berpikir perlunya penegakan hukum. Memang ada saja pewarta yang mengangkat berita-berita yang kadang-kadang dibuat-buat agar kedengarannya atau kelihatannya cukup seru sehingga memancing perhatian umum. Sementara bila mereka ingin meliputnya tuntas, waktu dan ruang medianya sangat terbatas. Itulah sebabnya kalangan awam pun menerimanya terbatas pula. Apalagi beberapa bagian diedit tanpa mengurangi makna namun akan menghilangkan fakta pendukung. Mereka tidak salah. Bila kita ingin mengetahui selengkapnya, sebenarnya banyak tersedia jurnal. Sayangnya, pembacanya terbatas karena penuh dengan uraian ilmiah. Jurnal populer sekali pun tetap memerlukan level pengetahuan tertentu agar dapat memahaminya.

Perlu juga diingat, makna kata-kata perdagangan satwa liar bisa menimbulkan pengertian ganda. Karena secara konotatif pemikiran kita tertuju kepada kata ‘liar’ yang berarti perbuatan melanggar hukum. Padahal pengertian denotatif tak terpisah antara kata satwa dan kata liar yang dipakai untuk membedakannya dengan hewan peliharaan atau satwa jinak.

Jadi sebenarnya transaksi jual beli atau perdagangan satwa liar adalah perbuatan legal dan sah di mata hukum. Hal ini dinyatakan oleh undang-undang yang berlaku seperti tertuang dalam Undang Undang nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dimana dinyatakan dalam pasal 36 bahwa perdagangan tumbuhan dan satwa liar diperbolehkan. Hal itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.



PUSTEKKOM © 2005





 
 

  [ SD |  SMP |  SMA |  SMK ]


UMUM |  LAIN-LAIN ]