Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
e-dukasi.net
Edukasi
 ~ 


 
 

Pengukuran Panjang

Sebelum ada alat ukur seperti saat ini, ada sebagian orang yang mengukur panjang dengan menggunakan jengkal, hasta (lengan), depa dan alat ukur lain. Tentunya alat ukur semacam ini akan mengalami masalah perbedaan ketelitian yang relatif tajam, manakala orang yang mengukurnya berbeda. Alat-alat ukur semacam itu dinamakan alat ukur tidak baku. Karena alasan tersebut, kebanyakan orang sudah tidak menggunakannya lagi.


Sedangkan, alat-alat ukur yang telah ditunjukkan diatas merupakan alat ukur baku. Sebagai contoh hasil pengukuran dengan penggaris hasilya bersifat tetap, artinya tidak mengalami perubahan walaupun orang yang mengukur berbeda. Oleh Karena itu, orang perlu membuat alat ukur yang bersatuan baku. Dan, satuan baku yang baik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Satuan itu bersifat tetap, artinya tidak mengalami perubahan oleh pengaruh apapun.
  2. Satuan itu bersifat internasional, artinya dapat digunakan dimana-mana.
  3. Satuan itu mudah ditiru oleh siapapun.


Kamu tentunya tahu bahwa alat ukur yang digunakan untuk mengukur panjang benda haruslah sesuai dengan ukuran benda yang akan diukur. Sebagai contoh, untuk mengukur lebar buku kita gunakan pengaris, sedangkan untuk mengukur lebar jalan raya lebih mudah menggunakan meteran kelos.

Alat-alat ukur Panjang

  1. Pengukuran Panjang dengan Mistar
  2. Mistar atau penggaris berbagai macam jenisnya, seperti penggaris yang berbentuk lurus, berbentuk segitiga yang terbuat dari plastik atau logam, mistar tukang kayu, dan penggaris berbentuk pita (meteran pita). Mistar mempunyai batas ukur sampai 1 meter, sedangkan meteran pita dapat mengukur panjang sampai 2 meter. Dan meteran kelos dapat mengukur panjang sampai 3 atau 5 meter.


    Bagaimana cara membaca skala pada mistar yang benar ? Coba perhatikan keterangan berikut ini.

    Mistar memiliki ketelitian 1 mm atau 0,1 cm. Posisi mata harus melihat tegak lurus terhadap skala ketika membaca skala mistar. Hal ini untuk menghindari kesalahan pembacaan hasil pengukuran akibat beda sudut kemiringan dalam melihat atau disebut dengan kesalahan paralaks.


  3. Pengukuran Panjang dengan Jangka Sorong
  4. Nah sekarang kita pikirkan dapatkah mistar digunakan untuk mengukur kedalaman sebuah tutup pulpen, diameter dalam dan luar sebuah cincin, atau tebal sebuah koin uang logam ? Tentunya kita kesulitan Untuk mengukurnya. Lalu alat apa yang kita gunakan ? Alat yang dapat untuk mengukur semua benda-benda di atas adalah jangka sorong.

    Jangka sorong adalah alat ukur yang mampu mengukur jarak, kedalaman, maupun ‘diameter dalam’ suatu objek dengan tingkat akurasi dan presisi yang sangat baik (±0,05 mm). Hasil pengukuran dari ketiga fungsi alat tersebut dibaca dengan cara yang sama.



    Alat ini dipakai secara luas pada berbagai bidang industri enjiniring (teknik), mulai dari proses desain/perancangan, manufaktur/pembuatan, hingga pengecekan akhir produk. Alat ini dipakai luas karena memiliki tingkat akurasi dan presisi yang cukup tinggi, mudah digunakan, mudah dibawa-bawa, dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Karena alasan inilah jangka sorong lebih disukai insinyur (enjinir) dibandingkan alat ukur konvensional seperti penggaris.

    Bagian-Bagian Jangka Sorong

    Bagian-bagian jangka sorong terdiri dari skala baca yang tercetak pada badan alat ini (sama seperti skala baca/angka-angka di penggaris) yang dapat diatur berdasarkan letak “rahang” jangka sorong; terdapat dua pasang rahang, yakni sepasang rahang luar (atau rahang bawah) untuk mengukur jarak (pengukur utama) dan sepasang rahang dalam (atau rahang atas) untuk mengukur ‘diameter dalam’ (contohnya mengukur diameter dalam pada cincin). Kedua pasang rahang tersebut dapat digerakkan untuk pengukuran, jarak antar rahang untuk kedua pasang rahang tersebut dapat dibaca dengan cara yang sama. Selain itu pula, terdapat tangkai ukur kedalaman yang pergerakannya diatur dengan cara menggerakkan rahang. Karena ketiga bagian-bagian jangka sorong tersebut saling bergerak bersamaan, maka ketiga fungsi tersebut pengukurannya dibaca/dihitung dengan cara yang sama.

    Untuk lebih jelasnya, bagian-bagian jangka sorong dapat dilihat pada gambar dibawah ini: gambar bagian bagian jangka sorong

    gambar bagian bagian jangka sorong
    Sumber gambar: ecatalog.mitutoyo.com

    Cara Membaca Jangka Sorong

    gambar cara membaca jangka sorong

    Perhatikan hasil pengukuran di atas. Cara membaca jangka sorong untuk melihat hasil pengukurannya hanya dibutuhkan dua langkah pembacaan :

    1. Membaca skala utama: Lihat gambar di atas, 21 mm atau 2,1 cm (garis merah) merupakan angka yang paling dekat dengan garis nol pada skala vernier persis di sebelah kanannya. Jadi, skala utama yang terukur adalah 21mm atau 2,1 cm.
    2. Membaca skal vernier: Lihat gambar di atas dengan seksama, terdapat satu garis skala utama yang yang tepat bertemu dengan satu garis pada skala vernier. Pada gambar di atas, garis lurus tersebut merupakan angka 3 pada skala vernier. Jadi, skala vernier yang terukur adalah 0,3 mm atau 0,03 cm.


    Untuk mendapatkan hasil pengukuran akhir, tambahkan kedua nilai pengukuran di atas. Sehingga hasil pengukuran di atas sebesar 21 mm + 0,3 mm = 21,3 mm atau 2,13 cm.


    Contoh pengukuran dengan menggunakan jangka sorong


  5. Pengukuran Panjang dengan Mikrometer Sekrup
  6. Nah sekarang kita pikirkan dapatkah jangka sorong dipergunakan untuk mengukur tebal kertas ? Tahukah kamu alat ukur apa yang dapat digunakan untuk mengukur benda berukuran kurang dari dua centimeter secara lebih teliti? Alat tersebut adalah micrometer sekrup.

    Mikrometer sekrup adalah alat pengukuran yang terdiri dari sekrup terkalibrasi dan memiliki tingkat kepresisian 0.01 mm (10-5 m). Alat ini ditemukan pertama kali oleh Willaim Gascoigne pada abad ke-17 karena dibutuhkan alat yang lebih presisi dari jangka sorong. Penggunaan pertamanya adalah untuk mengukur jarak sudut antar bintang-bintang dan ukuran benda-benda luar angkasa dari teleskop.

    Meskipun mengandung kata “mikro”, alat ini tidak tepat digunakan untuk menghitung benda dengan skala mikrometer. Kata “mikro” pada alat ini diambil dari Bahasa Yunani micros yang berarti “kecil”, bukan skala mikro yang berarti 10-6.

    Bagian-Bagian Mikrometer Sekrup

    gambar mikrometer sekrup
    Sumber gambar: wikipedia.org

    • Poros Tetap (Anvil)
    • Bagian poros yang tidak bergerak. Objek yang ingin diukur ditempelkan di bagian ini dan bagian poros geser didekatkan untuk menjepit objek tersebut.

    • Poros Geser (Spindle)
    • Poros bergerak berbentuk komponen silindris yang digerakkan oleh thimble.

    • Pengunci (Lock Nut)
    • Bagian yang dapat digunakan untuk mengunci pergerakan poros geser.

    • Sleeve
    • Bagian statis berbentuk lingkaran yang merupakan tempat ditulisnya skala pengukuran. Terdapat dua skala, yaitu skala utama dan skala nonius.

    • Thimble
    • Bagian yang dapat digerakkan oleh tangan penggunanya.

    • Ratchet
    • Bagian yang dapat membantu menggerakkan poros geser dengan pergerakan lebih perlahan dibanding menggerakkan thimble.

    • Rangka (Frame)
    • Komponen berbentuk C yang menyatukan poros tetap dan komponen-komponen lain mikrometer sekrup. Rangka mikrometer sekrup dibuat tebal agar kokoh dan mampu menjaga objek pengukuran tidak bergerak, bergesar, atau berubah bentuk.


    Cara Menggunakan Mikrometer Sekrup

    Prinsip kerja mikrometer sekrup adalah menggunakan suatu sekrup untuk memperbesar jarak yang terlalu kecil untuk diukur secara langsung menjadi putaran suatu sekrup lain yang lebih besar dan dapat dilihat skalanya.

    Cara menggunakan mikrometer sekrup adalah :

    1. Objek yang ingin diukur diletakkan menempel dengan bagian poros tetap.
    2. Setelah itu, bagian thimble diputar hingga objek terjepit oleh poros tetap dan poros geser.
    3. Bagian ratchet dapat diputar untuk menghasilkan perhitungan yang lebih presisi dengan menggerakkan poros geser secara perlahan.
    4. Setelah yakin bahwa objek benar-benar terjepit diantara kedua poros, hasil pengukuran dapat dibaca di skala utama dan skala nonius.


    Cara Membaca Mikrometer Sekrup

    Pembacaan mikrometer sekrup dilakukan pada dua bagian, yaitu di skala utama dan di skala nonius atau Vernier. Skala utama dapat dibaca di bagian sleeve dan skala nonius dapat dibaca di bagian thimble.

    cara membaca mikrometer sekrup
    Sumber gambar: miniphysics.com

    Pada contoh pengukuran di atas, cara membaca mikrometer sekrup tersebut adalah :

    • Untuk skala utama, dapat dilihat bahwa posisi thimble telah melewati angka “5” di bagian atas, dan pada bagian bawah garis horizontal telah melewati 1 strip. 0.5mm. Artinya, pada bagian ini didapat hasil pengukuran
      5 + 0.5 mm = 5.5 mm. Pengukuran juga dapat dilakukan dengan prinsip bahwa setiap 1 strip menandakan jarak 0.5mm. Dikarenakan terlewati 5 strip di atas garis horizontal dan 6 strip di bawah garis horizontal, maka total jarak adalah (5+6) x 0.5mm = 5.5mm
    • Pada bagian kedua, terlihat garis horizontal di skala utama berhimpit dengan angka 28 di skala nonius. Artinya, pada skala nonius didapatkan tambahan panjang 0.28mm
    • Maka, hasil akhir pengukuran mikrometer sekrup pada contoh ini adalah 5.5 + 0.28 = 5.78mm. Hasil ini memiliki ketelitian sebesar 0.01 mm.


    Fungsi Mikrometer Sekrup

    Mikrometer sekrup pada umumnya digunakan untuk mengukur diameter atau ketebalan suatu benda yang ukurannya kecil. Seperti dijelaskan sebelumnya, alat ini memiliki kepresisian 10x lipat dari jangka sorong sehingga dapat mengukur benda yang lebih kecil tepatnya pada ketelitian 0,01 mm.

    Penggunaan alat ini untuk mengukur panjang benda kurang umum digunakan, karena umumnya panjang benda masih dapat diukur dengan baik di tingkat kepresisian 1 mm dan 0,1 mm, dimana masing-masing tingkat kepresisian dimiliki oleh penggaris dan jangka sorong.






 
 

  [ SD |  SMP |  SMA |  SMK ]


UMUM |  LAIN-LAIN ]