Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
e-dukasi.net
Edukasi
 ~ 


 
 

Peranan PUTERA dalam Pergerakan Nasional Indonesia

Anda tentu masih ingat, langkah awal yang dilakukan Jepang untuk dapat mengerahkan Rakyat Indonesia adalah dengan mencoba mencari simpati rakyat membentuk Gerakan Tiga A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia). Sayang sekali gerakan Tiga A ini, tidak dapat bertahan lama karena tidak mendapat simpati rakyat. Rakyat justru merasakan kondisi gerakan Tiga A dengan kekuatan militer Jepang sangat kejam, bahkan lebih kejam dari Belanda dan rakyat hanya dijadikan objek eksploitasi kepentingan perang semata.

Kegagalan Gerakan Tiga A, membuat pemerintah Jepang mencari simpati Rakyat dalam bentuk yang lain yaitu menawarkan kerjasama dengan para tokoh pemimpin Indonesia. Oleh karena itu tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Ir. Soekarno,
Drs. Moh. Hatta dan Sutan Syahrir dibebaskan.

Para pemimpin bangsa Indonesia merasa bahwa satu-satunya cara menghadapi kekejaman militer Jepang adalah dengan bersikap kooperatif. Hal ini semata untuk tetap berusaha mempertahankan kemerdekaan secara tidak langsung. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka mereka sepakat bekerjasama dengan pemerintah militer Jepang dengan pertimbangan lebih menguntungkan dari pada melawan. Hal ini didukung oleh propaganda Jepang untuk tidak menghalangi kemerdekan Indonesia. Maka setelah terjadi kesepakatan, dibentuklah organisasi baru bernama PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat).

PUTERA dibentuk pada 16 April 1943 dipimpin oleh Empat Serangkai. Anda masih ingat siapa saja mereka? Untuk mengingatkan kembali wawasan Anda. simaklah gambar 8 berikut ini.


Gambar 8. Empat Serangkai dalam Poetra
(Soekarno, M. Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H. Mas Mansyur


Tujuan PUTERA adalah untuk membujuk kaum Nasionalis sekuler dan intelektual untuk mengabdikan pikiran dan tenaganya demi untuk kepentingan perang melawan Sekutu.

Mengapa Jepang berkeinginan mengajak tokoh nasionalis bergabung dalam PUTERA?

Dalam tempo singkat PUTERA dapat berkembang sampai ke daerah dengan anggotanya adalah kumpulan organisasi profesi seperti, Persatuan Guru Indonesia, perkumpulan pegawai pos, radio dan telegraf, perkumpulan Istri Indonesia, Barisan Banteng dan Badan Perantara Pelajar Indonesia serta Ikatan Sport Indonesia.

Keberhasilan dalam perekrutan/penggabungan anggota, tidak dapat dipisahkan dari simpati rakyat terhadap para tokoh pemimpin Indonesia yang masih tinggi. Hal ini yang menjadi pertimbangan pemerintah Jepang untuk menggerakkan para tokoh tersebut (tentu Anda pun berpikir hal yang sama).

Keberadaan PUTERA merupakan organisasi resmi pemerintah yang disebarluaskan melalui surat kabar (media massa) dan radio, sehingga menjangkau sampai ke desa. Namun pemerintah militer Jepang sudah mengantisipasi keberadaan PUTERA yang strategis dan politis tersebut dengan memberikan kegiatan secara terbatas, khusus yang berkaitan dengan upaya menghapus pengaruh barat agar mendukung pemerintah militer Jepang.

Meskipun PUTERA merupakan organisasi pemerintah Jepang, namun hampir tidak ada bantuan dana untuk kegiatan operasional organisasi tersebut, sehingga dana untuk kegiatannya harus mencari sendiri tanpa mengharap banyak dari pemerintah. Dengan segala kekurangannya, PUTERA dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para tokoh pemimpin Indonesia untuk mempersiapkan mental guna menyongsong kemerdekaan dengan cara memonitor perkembangan kondisi dunia, memanfaatkan media massa, surat kabar dan radio untuk berkomunikasi dengan rakyat secara leluasa.

Ternyata apa yang dilakukan para pemimpin Indonesia dinilai oleh pemerintah Jepang hanya menguntungkan pihak Indonesia. Maka diputuskan untuk membubarkan PUTERA. Selanjutnya pemerintah Jepang membentuk organisasi baru yaitu :

  • Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa)
  • Agar rakyat Indonesia dapat dihimpun tenaganya lahir dan batin untuk digalang kebaktiannya sesuai dengan Hokoseiasyen (semangat kebaktian). Anda tentu masih ingat bahasan
    kegiatan 1, jika tidak, silahkan dibuka kembali.

    Dalam tradisi Jepang ada tiga dasar utama yang harus dimiliki tiap orang Jepang yaitu sikap rela mengorbankan diri, mempertebal persahabatan dan melaksanakan sesuatu harus menghasilkan bukti.

    Melalui Jawa Hokokai ini, tiga aspek tradisi Jepang tersebut dituntut pula dari rakyat Indonesia. Para pemimpin organisasi ini berada di bawah Gunseikan (kepala pemerintahan militer) dan di tiap daerah dipimpin oleh Syucokan (Gubernur/ Residen). Dengan terbentuknya Jawa Hokokai, maka kaum Nasionalis bangsa Indonesia mulai disisihkan dan kegiatan mereka dilarang.

    Keberadaan Jawa Hokokai adalah sebagai organisasi sentral yang terkendali dan merupakn kumpulan dari Hokokai/profesi, antara lain Izi Hokokai (Himpunan Kebaktian Dokter), Kyoiku Hokokai (Himpunan Kebaktian Pendidik), Fujinkai (Organisasi Wanita) dan Keimin Bunko Syidosyo (Pusat Budaya). Kegiatan Hokokai adalah pelaksana pengerahan atau mobilisasi (penggerakan) barang yang berguna untuk kepentingan perang seperti: emas, permata, besi dan lain-lain.

  • Pembentukan Chuo Sang In
  • Chuo Sang In terbentuk melalui Osamu Sirei no: 36 dan 37. Ini adalah sebuah badan yang bertugas sebagai Dewan pertimbangan pusat yang berada langsung di bawah Saiko Shikikan/Panglima Tertinggi, tugasnya menyampaikan usul dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pemerintah militer Jepang mengenai pemerintahan dan politik. (Badan ini hampir serupa dengan Volksroad/parlemen di zaman Belanda, Anda masih ingat kan?)

    Dalam pelaksanaannya badan ini tidak dapat mencapai aspirasi rakyat, sebaliknya anggota badan memiliki kekuatan yang terbatas bahkan dapat dikatakan hanya sebagai robot Jepang.

    Pertanyaannya adalah :

    1. Bagaimana peranan Chuo Sang In bagi upaya kemerdekaan RI?
    2. Apa manfaat yang dapat bangsa Indonesia rasakan dari Dewan Pertimbangan Pusat/Chuo Sang In?


    Jawabannya :

    1. Pemerintah Jepang menempuh kebijakan mengangkat pemimpin pergerakan nasional untuk memimpin jabatan-jabatan penting seperti Kepala Departemen Urusan Agama sebagai jabatan tertinggi pertama dipegang oleh Prof. Husein Jayadiningrat Oktober 1943. Sementara pada November 1943 Mas Soetardjo Kartohadikoesumo diangkat menjadi Shucokan Jakarta (Kepala Karesidenan). Begitu pula jabatan lain seperti Sanyo (penasihat pemerintah militer, Departemen Urusan Umum dan dalam negeri serta Departemen Kehakiman dan Perekonomian. Semua jabatan tersebut di atas, tentunya menjadi bekal dan pengalaman yang berharga untuk diterapkan dalam menjalankan roda pemerintahan pasca proklamasi.

    2. Perjuangan politik yang dilakukan para tokoh pergerakan nasional memang belum membuahkan hasil yang dapat dirasakan secara langsung, mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan. Begitu pula dengan beberapa perjuangan militer dan sosial yang akan Anda pelajari selanjutnya.






 
 

  [ SD |  SMP |  SMA |  SMK ]


UMUM |  LAIN-LAIN ]