Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
e-dukasi.net
Edukasi
 ~ 


 
 

Peranan PETA dalam Kegiatan Pergerakan Nasional Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang

PETA adalah suatu kesatuan militer bersenjata, yang dibentuk atas inisiatif Gatot Mangkupraja sehingga keberadaan PETA ada di bawah pengaruh PUTERA. Untuk membimbing dan mengawasi gerak gerik PETA, ditempatkan sejumlah pelatih (instruktur) yang berpangkat perwira (Shidokan) dan bintara (Shido Kasyikan) dari kalangan bangsa Jepang.

Pada awalnya pembentukan organisasi PETA ini adalah untuk memenuhi kepentingan peperangan Jepang di lautan Pasifik dalam menghadapi Sekutu namun dalam perkembangan selanjutnya PETA sangat besar manfaatnya bagi bangsa Indonesia untuk meraih kemenangan dalam perjuangan fisik membela dan mempertahankan kemerdekaan RI menghadapi Sekutu dan NICA serta Jepang sendiri. Para pemuda yang terlatih dalam PETA ini, nanti akan menjadi tenaga inti dalam pembentukan Tentara Nasional Indonesia. Seperti terlihat pada gambar 9 berikut ini.


Gambar 9. Tentara PETA


Apakah Anda kenal tokoh di bawah ini seperti Jendral Sudirman, Jendral Achmad Yani atau Jendral A.H. Nasution? Mereka adalah mantan tentara PETA yang akhirnya memegang kendali dalam mengamankan dan menjaga keamanan wilayah RI seperti juga Jendral Bambang Sugeng, Jendral Soeharto, Jendral Umar Wirahadikusumah dan Jendral Achmat Taher.

Pada tanggal 14 Februari 1945 terjadi pemberontakan PETA yang paling menggoncangkan pemerintah militer Jepang, ini dilakukan oleh tentara PETA di Blitar. Disana ditempatkan satu daidan (batalyon) di bawah Daidanco Surachmad (Daidan terdiri atas empat cudan (kompi) dan 12 syodan (pleton). Anggota tentara PETA di Blitar hampir semuanya berasal dari daerah yang sama yaitu Blitar.

Mengapa terjadi pemberontakan PETA? Dan siapa pelopornya? Faktor yang mendasari pemberontakan tersebut adalah: tidak tahan melihat penderitaan yang dialami keluarganya maupun rakyat sekitarnya akibat penjajahan Jepang. Rasa iba dan amarah terakumulasi menjadi suatu pemberontakan yang dipimpin oleh Supriyadi, Muradi, Suparyono, Sunarto, Sudarno, Halir dan dr. Ismangil. Kemarahan mereka diluapkan dengan cara membunuh beberapa orang Jepang dan meninggalkan asrama untuk bertahan di lereng gunung Kelud di Blitar Selatan.

Sayang sekali, pemberontakan ini tidak didukung oleh rasa persatuan yang kuat sehingga akhir dari pemberontakan semua tokoh berakhir di penjara dan hukuman mati 6 orang, seumur hidup 3 orang dan sisanya penjara 2 tahun. Pelaksanaan hukuman mati dilakukan di Ancol dan dikubur di tempat yang sama, sedang untuk yang dipenjara ditempatkan di penjara Cipinang. Untuk menambah wawasan Anda silahkan Anda simak
gambar 10 berikut ini.


Gambar 10. Anggota Tentara PETA Blitar sedang diadili
oleh Mahkamah Militer Jepang


Selanjutnya simak kembali uraian materi berikutnya.

Supriyadi selaku pimpinan utama tidak diketahui nasibnya dan melewati proses pengadilan in Absensia. Bahkan setelah Indonesia merdeka, ia menempati jabatan sebagai Menteri Pertahanan dalam kabinet RI I, namun tidak pernah muncul. Kemungkinan ia termasuk yang gugur dalam pemberontakan PETA sehingga jabatan menteri Pertahanan digantikan oleh Oerip Sumohardjo.

Demikian sekilas tentang uraian PETA, namun karena PETA terlalu bersifat Nasionalis dan dianggap sangat membahayakan kedudukan Jepang atas wilayah Indonesia maka pada tahun 1945 PETA dibubarkan.

Selanjutnya Anda dapat mempelajari materi tentang peranan gerakan sosial dalam pergerakan Nasional Indonesia.






 
 

  [ SD |  SMP |  SMA |  SMK ]


UMUM |  LAIN-LAIN ]