Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
e-dukasi.net
Edukasi
 ~ 


 
 

Struktur IP Address

Struktur IP Address
Sturtur IP Address


Pada IPv4 Alamat IP terdiri dari bilangan biner sepanjang 32 bit yang dibagi atas 4 segmen. Tiap segmen terdiri atas 8 bit yang berarti memiliki nilai desimal dari 0 - 255. Luas area dari alamat IP (range address) yang bisa digunakan adalah dari 00000000.00000000.00000000.00000000 sampai dengan 11111111.11111111.11111111.11111111. Jadi, ada sebanyak 232 kombinasi address yang bisa dipakai di seluruh dunia (walaupun pada kenyataannya ada sejumlah IP Address yang digunakan untuk keperluan khusus). Jadi, jaringan TCP/IP dengan 32 bit address ini mampu menampung sebanyak 232 atau lebih dari 4 milyar host. Untuk memudahkan pembacaan dan penulisan, IP Address biasanya direpresentasikan dalam bilangan desimal. Jadi, range address di atas dapat diubah menjadi address 0.0.0.0 sampai address 255.255.255.255. Nilai desimal dari IP Address inilah yang dikenal dalam pemakaian sehari-hari.

Konversi Bilangan Biner, Desimal dan Hexadecimal

Di dalam hitungan matematika kita lebih mengenal bilangan desimal
(0 - 9) dibanding bilangan biner (1 dan 0) atau hexadecimal (0 - F). Disini akan dijabarkan tentang perubahan dari bilangan desimal ke biner atau dari biner ke hexadecimal. Konversi ini dibuat untuk memudahkan pengguna mengetahui struktur IP yang berbasiskan bilangan biner.

  1. Mengubah bilangan desimal ke biner

  2. Cara menghitung bilangan biner dari bilangan desimal adalah dengan metode membagi bilangan desimal dengan bilangan biner sambil memperhatikan hasil sisa pembagian.

    Contoh :

    (1)192

    196

    : 2

    =

    96

    sisa 0

    96

    : 2

    =

    48

    sisa 0

    48

    : 2

    =

    24

    sisa 0

    24

    : 2

    =

    12

    sisa 0

    12

    : 2

    =

    6

    sisa 0

    6

    : 2

    =

    3

    sisa 0

    3

    : 2

    =

    1

    sisa 1


    Bilangan biner-nya adalah angka sisa akhir dibaca dari bawah ke atas, yaitu : 11000000, dan untuk pembuktian konversi angka desimal ini bisa dibalik dengan cara merubahnya kembali menjadi bilangan biner.

  3. Mengubah bilangan biner ke desimal

  4. Cara menghitungnya adalah dengan membuat tabel dan memposisikan bilangan biner dengan satuan decimal sebagai berikut. Kemudian nanti jumlahkan angka desimal tersebut berdasarkan bilangan biner yang dimasukkan.

    Contoh 1 :

    Binary

    1

    1

    0

    0

    0

    0

    0

    0

    Decimal

    128

    64

    0

    16

    0

    0

    0

    0


    Jika bilangan biner 0 maka decimalnya dihitung 0 tapi jika
    angkanya 1 maka ia dihitung berdasarkan tabel desimal yang dimaksud. Dari tabel di atas didapatkan bilangan biner yang bernilai 1 tepat berada di kolom desimal 128 dan 64 sedangkan angka 0 disini tidak dihitung maka perhitungannya adalah 128 + 64 = 192.

    Jadi Konversi dari bilangan biner 11000000 adalah 192

    Contoh 2 : tabel di bawah adalah bilangan biner 11111111

    Biner

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    Decimal

    128

    64

    32

    16

    8

    4

    2

    1


    Maka bilangan desimalnya adalah :
    128 + 64 + 32 + 16 + 8 + 4 + 2 + 1 = 255


  5. Mengubah bilangan biner ke hexadesimal

  6. Untuk mengubah bilangan biner ke hexadesimal, susun bilangan biner menjadi kelompok 4 bit. Mulai pengelompokkan bit dari kanan ke kiri. Jika jumlah bit kelompok terakhir tidak cukup, tambahkan 0.

    Hexadesimal

    Biner

    0

    0000

    1

    0001

    2

    0010

    3

    0011

    4

    0100

    5

    0101

    6

    0110

    7

    0111

    8

    1000

    9

    1001

    A

    1010

    B

    1011

    C

    1100

    D

    1101

    E

    1110

    F

    1111


    Contoh :

    1. 11011111110001

    0011

    0111

    1111

    0001

    3

    7

    F

    1


    Jadi, bilangan biner 11011111110001 = angka hexadesimal 37F1 atau ASCII hexadesimal 0x37F1

    Pembagian Kelas IP Address

    1. IP versi 4 (IPv4)

    2. Kelas IP addressUntuk pembagian kelas IP address saya gunakan standar IPv4 yang terdiri atas 32 bit angka binary. Dapat disimbolkan dengan angka sebagai berikut :

      Alamat IP yang dimiliki oleh sebuah host dapat dibagi ke dalam dua buah bagian, yakni :

      • Network Identifier atau Network Address (alamat jaringan) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat jaringan dimana host berada. Semua sistem di dalam sebuah jaringan fisik yang sama harus memiliki alamat Network identifier yang sama. Network identifier juga harus bersifat unik dalam sebuah internetwork. Alamat Network Identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255. [2]

      • Host Identifier atau Host address (alamat host) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat host di dalam jaringan. Nilai Host Identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255 dan harus bersifat unik di dalam network identifier dimana ia berada. [2]


      Ada 3 kelas address yang utama dalam TCP/IP, yakni kelas A, kelas B dan kelas C. Perangkat lunak Internet Protocol menentukan pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari IP Address. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut :

      1. Kelas A

      2. Struktur kelas A

        Ciri-ciri dari kelas A adalah jika bit pertama bernilai 0, kelas ini untuk konfigurasi jaringan yang berskala besar. Dari angka 0 sampai 7 bit berikutnya merupakan bit network dan 24 bit selanjutnya dinamakan bit host. Dengan demikian hanya ada 128 network kelas A, yakni dari nomor 0.xxx.xxx.xxx sampai 127.xxx.xxx.xxx, tetapi setiap network dapat menampung lebih dari 16 juta (2563) host (xxx adalah variabel, nilainya dari 0 s/d 255). Range addressnya mulai dari 1 - 126.

      3. Kelas B

      4. Struktur kelas B

        Ciri-ciri dari kelas B adalah jika 2 bit pertama bernilai 10, maka 14 bit berikutnya (16 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 16 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 16 ribu network kelas B (64 x 256), yakni dari network 128.0.xxx.xxx - 191.255.xxx.xxx. Setiap network kelas B mampu menampung lebih dari 65 ribu host (2562). Kelas ini untuk konfigurasi jaringan berskala menengah sampai yang berskala besar. Range addressnya mulai dari
        128 - 191.

      5. Kelas C

      6. Struktur kelas C

        Ciri-ciri dari kelas C adalah jika 3 bit pertama bernilai 110, maka 21 bit berikutnya (24 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 8 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 2 juta network kelas C (32 x 256 x 256), yakni dari nomor 192.0.0.xxx sampai 223.255.255.xxx. Setiap network kelas C hanya mampu menampung sekitar 256 host. Kelas ini untuk konfigurasi jaringan berskala kecil. Range addressnya mulai dari
        192 - 223.


      Selain ke tiga kelas di atas, ada 2 kelas lagi yang ditujukan untuk pemakaian khusus, yakni kelas D dan kelas E. Jika 4 bit pertama adalah 1110, IP Address merupakan kelas D yang digunakan untuk multicast address, yakni sejumlah komputer yang memakai bersama suatu aplikasi (bedakan dengan pengertian network address yang mengacu kepada sejumlah komputer yang memakai bersama suatu network). Salah satu penggunaan multicast address yang sedang berkembang saat ini di Internet adalah untuk aplikasi real-time video conference yang melibatkan lebih dari dua host (multipoint), menggunakan Multicast Backbone (MBone). Kelas terakhir adalah kelas
      E (4 bit pertama adalah 1111 atau sisa dari seluruh kelas). Pemakaiannya dicadangkan untuk kegiatan eksperimen.

    3. IP versi 6 (IPv6)

    4. Selanjutnya akan dibahas sedikit mengenai IPv6. Berbeda dengan IPv4 yang hanya memiliki panjang 32-bit (jumlah total alamat yang dapat dicapainya mencapai 4,294,967,296 alamat), IPv6 memiliki panjang 128-bit yang total alamatnya mungkin hingga 2128=3,4 x 1038 alamat. Total alamat yang sangat besar ini bertujuan untuk menyediakan ruang alamat yang tidak akan habis (hingga beberapa masa ke depan), dan membentuk infrastruktur routing yang disusun secara hierarkis, sehingga mengurangi kompleksitas proses routing.

      IPv6 mengizinkan adanya DHCP Server sebagai pengatur alamat otomatis. Jika dalam IPv4 terdapat dynamic address dan static address, maka dalam IPv6, konfigurasi alamat dengan menggunakan DHCP Server dinamakan dengan stateful address configuration, sementara jika konfigurasi alamat IPv6 tanpa DHCP Server dinamakan dengan stateless address configuration.

      Dalam IPv6, alamat 128-bit akan dibagi ke dalam 8 blok berukuran 16-bit, yang dapat dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal berukuran 4-digit. Setiap blok bilangan heksadesimal tersebut akan dipisahkan dengan tanda titik
      dua (:). Karenanya, format notasi yang digunakan oleh IPv6 juga sering disebut dengan colon-hexadecimal format, berbeda dengan IPv4 yang menggunakan dotted-decimal format.

      Berikut ini adalah contoh alamat IPv6 dalam bentuk bilangan biner. Untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk notasi colon-hexadecimal format, angka-angka biner dibagi ke dalam 8 buah blok berukuran 16-bit :

      0010000111011010 0000000011010011 0000000000000000
      0010111100111011 0000001010101010 0000000011111111
      1111111000101000 1001110001011010

      Setiap blok berukuran 16-bit tersebut harus dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal dan setiap bilangan heksadesimal tersebut dipisahkan dengan menggunakan tanda titik dua. Hasil konversinya adalah sebagai berikut :

      21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A






 
 

  [ SD |  SMP |  SMA |  SMK ]


UMUM |  LAIN-LAIN ]