Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 


 
 

Pendahuluan

Banjir mengingatkan kita pada kondisi yang menakutkan. Jakarta sebagai ibukota negara, hampir 60% terendam banjir (Kompas, 02/2007). Dan bukan hanya Jakarta, banjir juga merendam kota-kota lain di Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi. Untuk kawasan tertentu di daerah, banjir lebih disebabkan oleh meluapnya sungai-sungai akibat curah hujan yang tinggi.

Banjir di Jakarta, menurut ahli tata kota, merupakan gabungan kondisi alam dan kesalahan pengelolaan manusia. Pertumbuhan kota Jakarta, juga ikut mendorong terjadinya banjir yang semakin parah. Sementara itu, di daerah-daerah, banjir juga disertai longsor, bukan hanya merendam rumah-rumah penduduk, tapi juga menimbulkan kerusakan lingkungan. Di Indonesia, Jakarta adalah wilayah yang paling parah dilanda banjir (Kompas, 12/2007).

Masalah banjir adalah bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, khususnya untuk wilayah Kota Jakarta. Para pakar mengatakan, topografi Jakarta rendah dan dikepung oleh sungai-sungai yang mengalir dari kawasan Selatan yang lebih tinggi. Ahli Tata Kota Marco Kusumawijaya, mengatakan, kita cenderung hanya membangun dengan paradigma pertumbuhan. Namun nilai tambah yang dihasilkan tidak digunakan untuk reinvestasi guna mengatasi dampaknya maupun meningkatkan daya dukung lingkungan.

Restu Gunawan, peneliti banjir dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, menyebutkan, proyek-proyek pengendalian banjir Jakarta selalu gagal dari zaman ke zaman. Sejak tahun 1913, Belanda mengalokasikan dana 2 juta Gulden untuk mengatasi banjir. Van Breen menjadi insinyur yang mendisain upaya itu. Salah satu produknya adalah pembuatan banjir kanal. Namun, Banjir Kanal Barat yang dibuat Van Breen tahun 1920-an belum tuntas pembangunannya hingga Belanda pergi.

Sementara itu, banjir juga melanda hampir seluruh wilayah di Indonesia. Banjir menimbulkan berbagai penyakit, penyebabnya adalah akibat sumber-sumber air bersih yang tercemar. Dampak yang timbul akibat banjir telah banyak menyusahkan manusia. Banjir telah banyak memberikan pelajaran bagi kita, terutama bagaimana untuk terus memelihara dan menjaga lingkungan, sikap hidup yang lebih baik dan lebih waspada. Dengan mengambil pelajaran dari musibah banjir, diharapkan nilai kerugian baik secara fisik maupun secara ekonomi dapat kita minimalkan. Nilai kerugian harta benda memang sangat besar, namun dari sisi lain, yaitu faktor kesehatan manusia, dampaknya akan lebih besar lagi bila kita tidak menyikapi musibah banjir dengan baik.

Dengan tetap menjaga kebershan lingkungan, mengkonsumsi makanan sehat dan menjaga kebersihan badan, maka korban banjir akan hidup tetap sehat pasca banjir.






 
 

  [ SD |  SMP |  SMA |  SMK ]


UMUM |  LAIN-LAIN ]