Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
e-dukasi.net
Edukasi
 ~ 


 
 

Mengenal Sifat Allah SWT

  1. Pengertian Iman kepada Allah

  2. Kata iman berasal dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan.

    Jadi iman kepada Allah SWT adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah SWT benar-benar ada dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, mengikrarkan dengan lisan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT (kalimat syahadat), serta mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.





    Rasulullah Muhammad saw menjelaskan pengertian iman melalui sabdanya yang berbunyi :



    Artinya: “Iman adalah membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dalam perbuatan” (HR. Ibnu Majah)

  3. Pengertian Sifat-sifat Allah



  4. Para ulama yang ahli dalam bidang ilmu tauhid (ilmu agama yang secara khusus membahas tentang keesaan Allah SWT) mengelompokkan sifat Allah SWT menjadi 3 bagian, yaitu :

    1. Sifat Wajib

    2. Yaitu sifat-sifat kesempurnaan yang pasti dimiliki oleh
      Allah SWT. Jumlah sifat wajib bagi Allah SWT ada 20.

    3. Sifat Mustahil

    4. Yaitu sifat-sifat lemah yang tidak mungkin dimiliki oleh
      Allah SWT. Sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat wajib sehingga jumlahnya sama dengan sifat wajib, yaitu 20.

    5. Sifat Jaiz

    6. Yaitu sifat yang serba mungkin bagi Allah SWT untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.




    Ayat Al Qur‘an Tentang Sifat Allah



    1. Wujud, artinya Ada. Sifat mustahilnya berarti Adam, artinya tidak ada.

    2. Dengan menyaksikan segala ciptaan-Nya kita dapat meyakini bahwa Allah SWT itu ada. Di antara ciptaan Allah SWT adalah langit dan bumi dengan segala isinya, serta pergantian siang dan malam. Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah SWT. Maha suci Allah SWT, Tuhan semesta alam. (QS. al-A’raf: 54).



    3. Qidam, artinya dahulu. Sifat mustahilnya berarti Huduts, artinya baru.

    4. Keberadaan Allah SWT itu bersifat qidam, dahulu. Maksudnya adalah Allah SWT itu ada paling awal, sebelum alam semesta ada. Karena itu, keberadaan Allah SWT itu tidak butuh sebab akibat. Berbeda dengan makhluk, yang butuh sebab dan akibat. Misalnya hujan dapat terjadi karena didahului oleh penguapan air laut. Atau, manusia lahir karena didahului bertemunya sperma dengan sel telur.

      Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      Dialah yang Awal dan yang Akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
      (QS. al-Hadid: 3).

    5. Baqa, artinya kekal. Sifat mustahilnya berarti Fana’, artinya rusak.

    6. Semua makhluk di dunia ini pasti mengalami kerusakan atau kehancuran. Misalnya, gunung pasti meletus, manusia pasti mati, tanaman pasti layu lalu mati, dan lain sebagainya. Allah berbeda dengan makhluk, Dia maha kekal, tidak dapat rusak. Ketika hari kiamat tiba, semua makhluk akan binasa.
      Allah SWT tetap kekal, abadi.

      Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
      (QS. ar-Rahman: 26-27).

    7. Mukhollafatuh lil hawaadits, artinya Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Sifat mustahilnya berarti Mumaatsalaatuh lil Hawaadits, artinya Allah sama atau serupa dengan makhluk-Nya.

    8. Sifat ini menjelaskan bahwa sang pencipta berbeda dengan ciptaannya. Jadi, Allah SWT sebagai Sang Pencipta jelas berbeda (tidak sama) dengan hasil ciptaanNya (makhluk). Contoh sederhana, Seorang pelukis ia menghasilkan karya lukisan. Apakah sama, antar pelukis dengan hasil lukisannya? Tentu saja berbeda dan tidak mungkin sama.



      Allah SWT berfirman:



      Artinya :

      (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (QS. Asy Syuura: 11)

    9. Qiyamuhu Binafsihi artinya Allah berdiri sendiri. Sifat mustahilnya Ihtiyaju ligharihi, artinya membutuhkan pihak lain.

    10. Allah SWT jelas berbeda dengan makhluk. Allah SWT itu berdiri sendiri, tak butuh bantuan pihak lain. Sementara semua makhluk tak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Manusia kalau sakit, tentu ia butuh bantuan orang lain, pergi berobat ke rumah sakit, dan seterusnya.



      Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      Dan Katakanlah: "Segala puji bagi Allah SWT yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra’: 111)

    11. Wahdaniyyah artinya Esa/tunggal. Sifat mustahilnya Ta’addud artinya berbilang atau lebih dari satu.

    12. Ke-Esa-an Allah SWT itu bersifat mutlak, dan pasti adanya. Allah SWT tidak mungkin berbilang atau lebih dari satu. Bagaimana Dia mengatur alam semesta ini jika Allah SWT ada dua, misalnya. Berarti ada dua penguasa yang berebut kekuasaan dan pengaruh dalam mengatur alam. Tentu tidak mungkin. Jadi, yang lebih dari satu (berbilang) adalah makhluk. Contohnya manusia, ia mempunyai ayah, ibu, kakek, nenek, suami, isteri, anak, cucu, dan seterusnya. Allah SWT berfirman:



      Artinya :

      Katakanlah: “Dia-lah Allah SWT, Yang Maha Esa. Allah SWT adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)

    13. Qudrat artinya berkuasa. Sifat mustahilnya Ajzun artinya lemah.

    14. Allah itu berkuasa atas segala sesuatu. Kekuasaan Allah SWT itu bersifat mutlak, tak terbatas, dan tidak ada cacat sedikitpun. Berbeda dengan manusia yang serba terbatas dan penuh dengan kekurangan. Kekuasaan Allah SWT itu misalnya dapat kita lihat dari asal usul manusia. Berawal dari air mani yang bertemu dengan sel telur, lalu tumbuh menjadi manusia sempurna. Karena itu, kita sebagai manusia, sudah sepatutnya tidak boleh sombong, sebab kita adalah makhluk yang lemah. Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      “...sesungguhnya Allah SWT berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah: 20).

    15. Iraadah artinya berkehendak atau berkemauan. Sifat mustahilnya karahah artinya terpaksa.

    16. Iradah adalah kehendak Allah SWT sesuai dengan kemauan Allah SWT sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun. Jadi kehendak Allah SWT itu tidak terbatas. Berbeda dengan manusia, ia dapat berkehendak, tapi Allah SWT jualah yang menentukan. Misalnya, dengan kehendak Allah SWT, ombak di lautan yang tenang dapat berubah menjadi tsunami yang mengakibatkan bencana.

      Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)

    17. ‘Ilmun artinya mengetahui. Sifat mustahilnya jahlun artinya bodoh.

    18. Dengan sifat ini, Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang ada di alam raya, baik yang kecil atau yang besar, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi, baik di atas tangit maupun di dasar laut. Itulah pengetahuan Allah SWT yang maha luas. Andaikan seluruh pohon dijadikan alat tulis dan lautan jadi tintanya, maka tak akan mampu menulis ilmu (pengetahuan) Allah SWT.

      Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah SWT tentang agamamu, Padahal Allah SWT mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah SWT Maha mengetahui segala sesuatu?”. (QS. Al-Hujurat: 16)



    19. Hayyah artinya hidup. Sifat mustahilnya mautun artinya mati.

    20. Hidupnya Allah SWT berbeda dengan hidupnya manusia atau makhluk lain. Perbedaannya: Allah SWT hidup tidak tergantung dengan yang lain, manusia bergantung dengan yang lain. Allah SWT hidup selamanya, manusia hidup lalu pasti mati.

      Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      “Allah SWT, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur....”
      (QS. Al-Baqarah: 225)



    21. Sama‘ artinya Allah SWT mendengar. Sifat mustahilnya Shummum artinya tuli.

    22. Berbeda dengan pendengaran makhluk, pendengaran
      Allah SWT tidak terbatas jarak, ruang dan waktu. Sekeras apapun Allah SWT bisa mendengar, selirih apapun suara
      Allah SWT juga dapat mendengar, bahkan termasuk bisikan hati kita. Karena itu, apapun yang kita ucapkan pasti Allah SWT mendengarnya. Maka, kita sebaiknya jangan berbicara kecuali dengan perkataan yang baik, sebab Allah SWT maha mendengar.

      Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      Berkatalah Muhammad (kepada mereka): “Tuhanku mengetahui semua Perkataan di langit dan di bumi dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
      (QS. Al-Anbiya: 4)



    23. Bashar artinya Allah SWT melihat. Sifat mustahilnya Umyun artinya buta.

    24. Begitu pula dengan penglihatan Allah SWT, juga tidak terbatas jarak, ruang, dan waktu. Allah SWT maha melihat segala sesuau: yang besar dan kecil, nyata dan tersembunyi, terang maupun samar, terhalang, maupun terbuka. Karena itu, jangan sekali-kali berbuat dosa, meskipun tidak ada orang yang melihat, yakinlah bahwa Allah SWT itu melihat tindakan kita.

      Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      “Sesungguhnya Allah SWT mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah SWT Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hujurat: 18)

    25. Kalam artinya berkata atau berfirman. Sifat mustahilnya Bukmun artinya bisu.

    26. Bukti bahwa Allah SWT itu berfirman (kalam) adalah adanya kitab-kitab Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi-nabinya: kitab Al-Quran kepada nabi Muhammad, kitab Injil kepada nabi Isa, kitab Taurat kepada nabi Musa, dan kitab Zabur kepada nabi Daud.

      Allah SWT berfirman :



      Artinya :

      “Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah SWT telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164)






 
 

  [ SD |  SMP |  SMA |  SMK ]


UMUM |  LAIN-LAIN ]