Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
e-dukasi.net
Edukasi
 ~ 


 
 

Tes

  1. Berikut ini ada dialog, coba perankan bersama temanmu. Perhatikan dengan baik isi dialog tersebut!

  2. Deddy Mizwar Cinta Film


    1. Kesukaan Mas Deddy dari kecil hingga sekarang apa?
    2. Saya manusia tak ada hobi. Saya paling suka ngobrol (maksudnya diskusi, lho), membaca, dan bekerja keras.

    3. Cita-cita Mas Deddy sewaktu kecil apa?
    4. Oh, berubah-ubah. Pernah ingin menjadi pilot, dengar pesawat jatuh berubah ingin jadi dokter. Ingin jadi dokter, tapi tak mempunyai uang untuk sekolah di kedokteran, akhirnya berubah lagi. Akhirnya sekarang menjadi artis.

    5. Sejak umur berapa Mas Deddy menyukai seni teater?
    6. Sejak duduk di bangku SMP saya sudah menyukai teater, pertunjukan di sekolah saya suka.

    7. Kalau tampil di layar kaca, sejak kapan?
    8. Ya, sejak SMP itu. Selain tampil di atas panggung sekolah, saya juga suka tampil di televisi.

    9. Sudah berapa film dan sinetron yang Mas Deddy bintangi?
    10. Wah, sudah banyak sekali. Yang jelas sudah puluhan. Saya juga hampir lupa menghitungnya.

    11. Apa suka dukanya menjadi binatang film?
    12. Lebih banyak sukanya. Kalau saya tidak suka, saya mungkin sudah pindah dari dunia film. Saya juga sudah tidak menjadi tukang memperbaiki genteng bocor atau buka bengkel kendaraan.

    13. Sudah berapa kali main di luar negeri?
    14. Main di luar negeri paling-paling juga di negara-negara ASEAN, misalnya di Malaysia.

    15. Adakah perbedaan main di luar negeri dengan di negeri sendiri?
    16. Ya, sama saja. Seperti Malaysia misalnya, bahasanya kan hampir sama dengan kita. Jadi kita juga tak perlu susah menggunakan bahasa lain.

    17. Adakah kegiatan lain Mas Deddy, selain menjadi artis?
    18. Tidak ada. Yang saya bisa cuma satu-satunya itu.

    19. Seberapa besar peranan agama dalam kehidupan Mas Deddy?
    20. Saya kira, peran agama sangat penting dalam kehidupan seseorang. Sekarang ini yang serba gampang dan serba cepat, orang itu harus mempunyai pegangan. Pegangan itu yang sesuai, ya, agama.

    21. Apa anak Mas Deddy ada yang ingin melanjutkan menjadi bintang film seperti Mas Deddy?
    22. Saya sih terserah saja. Belum tahu, kok, mereka nanti mau jadi apa.

    23. Moto hidup Mas Deddy?
    24. Mudah-mudahan lebih baik dari kemarin. Maksudnya, segala sesuatunya mudah-mudahan lebih baik dari kemarin.

    25. Sebagai artis, bagaimana tanggapan Mas Deddy tentang film porno yang sedang dibersihkan pemerintah?
    26. Bisa tidak dibersihkan? Saya sendiri tidak ragu. Bisa bersih itu kalau mau sebenarnya. Kalau dibersihkan, banyak hal yang harus dilakukan.

    27. Menurut Mas Deddy, film apa yang sesuai ditonton untuk anak-anak?
    28. Saya kira pesan moralnya yang penting. Film dongeng atau fiksi, pesan moral dan penyampaiannya harus diperhatikan si pembuat film. Misalnya mau menampilkannya tidak menjadi kasar, biar anak-anak yang mengembangkannya sendiri.

    29. Apa pengalaman Mas Deddy yang paling menarik sewaktu kecil.
    30. Saya waktu kecil bandel, suka berantem. Tapi, berantemnya sesama teman saja. Tidak tawuran seperti anak-anak sekolah sekarang.

    31. Waktu kecil Mas Deddy pernah juara kelas?
    32. Waktu saya SD dan SMP belum ada sistem peringkat. Tapi, saya termasuk murid yang pandai dan disayangi guru.

    33. Apa pesan Mas Deddy untuk anak-anak di seluruh Indonesia?
    34. Sejak kecil anak-anak harus sudah mencintai sesama makhluk. Selain bermain, jangan lupa belajar. (Nah, Mas Deddy seperti iklannya, kan menyuruh kita agar tidak terus menerus di depan TV, tapi juga belajar).


  3. SOAL PILIHAN GANDA

  4. Dialog dengan Tokoh Seniman Bandung Tisna Sanjaya


    Tisna Sanjaya seorang tokoh seniman asli Bandung, beristeri orang Ciamis, bapak dari empat orang anak. Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Tekhnokamugi Bandung, Universitas Kristen Maranatha, Dosen tamu di Malaysia. Ketika ditemui Bujet, Tisna sedang bersama kurang lebih
    200-an mahasiswa Seni Rupa ITB menggelar aksi penanaman pohon di Kawasan Babakan Siliwangi yang “terbakar“ awal bulan Oktober yang lalu.


    Wanto : Dalam hal melukis, sebenarnya Anda beraliran apa ?

    Tisna : Orang lebih banyak mengenal saya beraliran ekspresionis. Beberapa karya juga berbentuk instalasi, performance art, tetapi sebetulnya apa yang saya kerjakan tidak bisa disatukan dalam satu aliran karena saya tidak cukup di situ.

    Wanto : Belajar melukis sejak kapan ?

    Tisna : Latar belakang saya seni grafis. Saya belajar seni grafis di Indonesia dan Jerman tapi bagi saya media itu tidak cukup. Ada media lain seperti instalasi, performance art, teater, puisi, dll.

    Wanto : Ada tidak master piece yang pernah dipublikasikan ?

    Tisna : Saya tidak tahu apakah karya saya ada yang sudah bisa disebut master piece, tetapi yang pasti saya kerjakan semua karya-karya saya secara intensif saja.

    Wanto : Kira-kira satu tahun berapa lukisan ?

    Tisna : Saya cukup produktif dalam melukis karena tidak bisa yang lain lagi selain melukis dan main sepak bola.

    Wanto : Mengajar di mana saja, Pak ?

    Tisna : Secara rutin di seni rupa ITB sebagai dosen tetap, PNS lagi. Juga di S2 terus jadi dosen tamu di ITM Malaysia sejak awal 2003 untuk memberikan ujian-ujian akhir di sana.

    Wanto : Untuk satu lukisan, biasanya Anda menghabiskan dana berapa ?

    Tisna : Kebetulan saya kalau melukis sering tanpa biaya. Ini yang besar di ruang tamu itu saya lukis di Achen – Jerman ketika diundang ke sana. Selama satu bulan saya di sana dan semuanya ditanggung. Saya dikasih alat, cat dan lain-lain kebutuhan yang penting. Semuanya gratis. Soalnya cat yang mahal itu kalau dirupiahkan satunya saja sampai Rp. 150.000,- dan saya jarang memakai cat-cat yang mahal begitu kalau tidak ada yang memberi.

    Wanto : Kemarin katanya habis mengirim produk ke luar negeri. Produk apa dan kemana dikirimnya ?

    Tisna : Kirimnya ke Amerika. Saya buat karya seni dengan mencuci kaki. Itu ada contohnya di rak, di dalam botol-botol itu air cuci kaki. Ini saya buat tahun 1986 ketika ke mertua di Ciamis waktu itu, besoknya terjadi kekerasan di Tasikmalaya. Itu kekerasan antar agama di mana gereja dihancurkan, China dihancurkan dengan mengatasnamakan agama. Terus saya pulang ke Bandung, dan ngobrol sama ibu saya. Ibu saya bilang “itu mah bukan Islam yang benar kalau cara-caranya menghancurkan begitu mah.” Itu Wudhu-nya tidak benar. Wudhu itu kan mencuci kaki. Dalam agama Kristen juga adakan, Upacara Pembasuhan Kaki. Saya padukan itu. Kaki ibu saya, kaki teman saya, kaki guru saya, kaki tetangga saya dan banyaklah. Semua air bekas cuci kaki itu saya simpan dalam botol. Suatu saat ada teman saya di Amerika ngirim email minta “Air Kaki” tersebut mau dipamerkan di museum di New York. Saya tanya alasannya kenapa, dia bilang “pokoknya politikus-politikus di Amerika ini harus dicuci kakinya. Jadi saya butuh itu sampel, karya Anda.”

    Wanto : Kalau untuk pengiriman seperti itu menghabiskan dana berapa ?

    Tisna : Saya tidak pernah mengeluarkan dana karena untuk yang begitu sudah mereka tanggung semuanya. Ongkos pesawat, hotel, fee, dll. Kemarin-kemarin saya juga ke Korea dan dua minggu di sana saya ditanggung semuanya, baru pulang September 2004.

    Wanto : Menurut Anda, bagaimana potret perlindungan HAM di Indonesia sekarang ini ?

    Tisna : Sebenarnya “hampir tidak ada” ya di kita itu. Contohnya begini ketika kita mengkritik, seolah-olah hendak merusak atau menghancurkan mereka. (Pemerintah, Red). Padahal kritik itu kan untuk membangun bersama-sama. Apalagi saya, sudah punya empat anak, mengajar lagi. Jadi berkaitan dengan karya saya yang dibakar masa dianggap mau menghancurkan TNI. Kalau mereka itu intel yang baik tentunya mereka tentu tahu latar belakang.

    Wanto : Kenapa sikap pemerintah kita bersikap seperti itu?

    Tisna : Ya…ini kan warisan Orde Baru. Selama sekian puluh tahun, kritik tidak dibangun ruang, untuk itu sama sekali ditutup.

    Wanto : Mengenai gugatan Anda atas karya Anda yang dibakar di BAKSIL, itu sudah sampai di mana ?

    Tisna : Sekarang sudah pada tahap pembuktian-pembuktian. Foto-foto yang menandakan bahwa itu karya seni bukan sampah. Saksi-saksi minggu depan mulai dipanggil.

    Wanto : Peluangnya bagaimana ?

    Tisna : Mudah-mudahan menang karena sejak empat bulan persidangan dilakukan, ada logika yang mengarah pada kemenangan. Bukti-bukti sudah jelas. Mungkin mereka hanya akan bisa meng’counter’ kita dengan pola-pola yang menjelekkan kita. Misalnya saya dituduh melecehkan bendera karena karya instalasinya memakai bendera dan itu dianggap tidak senonoh. Memperlakukan bendera tidak pada tempatnya. Itu kan pola-pola preman. Tidak…tidak ada bendera. Terus mereka mengatakan, saya tanpa izin di situ. Sementara itu ruang publik, milik bersama, masa pakai izin segala. Menanglah, Insya Allah. Kalaupun kalah, ya prosesnya pernah dijalani. Artinya ada pembelajaran sehingga masyarakat bisa semakin lebih berani.

    Wanto : Ada tidak suka duka sebagai seniman ?

    Tisna : Lebih banyak sukanya. Karya seni itu kan kita berekspresi. Kadang main-main, iseng, kadang mengeritik, menyindir dan banyak lagi.

    Wanto : Katanya, seniman itu susah dimengerti. Apakah itu juga berkorelasi dengan karya Anda yang dibakar di BAKSIL beberapa waktu lalu ?

    Tisna : Menurut saya masyarakat itu, asal banyak diundang, masyarakat itu apresiatif sebenarnya. Yang membakar itu adalah kekuasaan yang paranoid. Karena di belakang ini secara politik ada ketakutan dari pihak TNI dan PEMDA. Jadi, sebetulnya dalam karya saya itu ada hal-hal yang kritis terutama mengenai pola-pola kekerasan di militer misalnya di Aceh, Timor-Timur, dll. Tetapi, sebenarnya bukan hanya itu. Semua kekerasan militer seperti di Irak, di belahan dunia manapun saya kritik. Itu mungkin karena paranoid, serasa mereka yang diserang. Bahkan ada surat resmi dari Kodam dan Kodim bahwa memang karya saya itu dibakar.

    Wanto : Kira-kira nanti 10 Desember nanti berkaitan dengan Hari HAM, apakah ada acara ?

    Tisna : Justru kita akan adakan acara tanggal 17 Desember berkaitan dengan pembunuhan Munir.

    Pilihlah jawaban yang tepat pada pilihan a, b, c atau d pada pernyataan berikut ini!

    1. What (apa) yang menjadi pokok dalam dialog interaktif tersebut?

      1. Tisna Sanjaya seorang tokoh seniman asli Bandung.
      2. Masalah pribadi yang berkaitan dengan profesi seorang seniman.
      3. Tisna dosen Seni Rupa ITB menggelar aksi penanaman pohon.
      4. Tisna dosen di seni rupa ITB sebagai dosen tetap.


    2. Who (siapa) yang berdialog dalam dialog interaktif tersebut?

      1. Tisna Sanjaya dan istrinya.
      2. Tisna Sanjaya dan Wanto.
      3. Tisna Sanjaya dengan 4 orang anaknya.
      4. Tisna Sanjaya dengan mahasiswa.


    3. Why (mengapa) mereka berdialog dalam dialog interaktif tersebut?

      1. Karena Wanto ingin mengetahui perjuangan tokoh seniman budaya bangsa.
      2. Karena ingin mengetahui masalah pribadi tentang Tisna Sanjaya sebagai seniman.
      3. Karena bangsa kita yang datang harus menghormati budaya kita, budaya lokal.
      4. Karena Tisna Sanjaya merupakan tokoh seniman yang mengangkat budaya bangsa.






 
 

  [ SD |  SMP |  SMA |  SMK ]


UMUM |  LAIN-LAIN ]