Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 ~ 
Masjid

Tentang Kami
Erman   Ema Malini
Fadhil Ilma   Ihsan Ilma   Salsabila Saumi Ilma
  Erman:
Lahir di: Sungai Penuh, Kerinci / 19 September 1963.
Pendidikan: Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, Jurusan Akuntansi - Angkatan 82.

Ema Malini:
Lahir di: Padang / 01 Juli 1971.
Pendidikan: Alumni Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta, Padang, Jurusan Bahasa Inggris - Angkatan 90.

Fadhil Ilma:
Lahir di: Padang / 19 Desember 1995.
Pendidikan: SMAN 3 Kelas II, Bandara, Batam.

Ihsan Ilma:
Lahir di: Padang / 10 April 1998.
Pendidikan: SMP Kartini 2 Kelas III, Sei Jodoh, Batam.

Salsabila Saumi Ilma:
Lahir di: Batam / 3 Desember 2002.
Pendidikan: SD Islam Al-Barkah Kelas IV, Baloi Persero, Batam.

 

HUBUNGI KAMI


 


 
 


(1) Bagaimana cara menghormati Al-Qur'an ?


https://alaminiyah.wordpress.com/2013/10/11/adab-adab-terhadap-al-quran/

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, ia adalah kalamullah yang merupakan asas dan sumber Islam yang pertama.

Al-Qur’an adalah kitab suci yang memiliki keistimewaan tersendiri, salah satu di antara keistimewaannya adalah terjaganya dari perubahan dan penyelewengan, sebagaimana firman Allah Swt. :

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami-lah (pula) yang memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr : 9)

Al-Qur’an Al-Karim adalah mukjizat yang sangat besar. Di antara mukjizatnya adalah tidak menimbulkan perasaan bosan ketika membacanya bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Al-Qur’an semakin banyak di baca maka akan memotivasi kita untuk membacanya lebih banyak lagi, karena itulah Al-Qur’an Al-Karim memiliki kedudukan tersendiri di hati kaum muslimin, sehingga menjadi kewajiban bagi keum muslimin untuk menjaga, memelihara, memuliakan dan menghormatinya. Itulah yang dinamakan dengan adab terhadap Al-Qur’an.

Para ulama telah mengajarkan umat Islam bagaimana cara beradab terhadap Al-Qur’an. Di antara adab-adabnya adalah :

  1. Ikhlas dan meluruskan niat semata-mata karena Allah Ta’aala.

  2. Bersiwak sebelum membaca Al-Qur’an.

  3. Menutup aurat.

  4. Memakai wewangian.

  5. Bersuci atau berwudhu terlebih dahulu.

  6. Mengawalinya dengan membaca ta’awudz (berlindung) kepada Allah.

  7. Menghadirkan hati (tawajjuh).

  8. Duduk bersila atau iftirasy.

  9. Menghadap kiblat.

  10. Mentadabburi (merenungi) maknanya.

  11. Ttsur fiqalbi (mengesankan dalam hati).

  12. Membenarkan (tasdiq) dan meyakini bahwa kalamullah adalah haq.

  13. Memuliakan dan menghormatinya.

  14. Tidak memotong bacaan dengan suatu perkataan, kecuali bila sangat terpaksa atau diperlukan.

  15. Ketika melalui ayat yang berupa kabar gembira dan janji, maka berhenti dan memohon kepada-Nya, sebaliknya apabila melalui ayat-ayat ancaman maka kita memohon perlindungan kepada-Nya.

  16. Tidak mengeraskan suara jika saat membacanya terdapat orang lain agar tidak mengganggunya.

  17. Tidak membawa dan membacanya di tempat yang kotor, seperti wc.

  18. Membacanya dengan tartil.

  19. Membaca dengan membaguskan suara sesuai dengan aturan dan anjuran Nabi Muhammad Saw.

  20. Membaca dengan tidak terlalu cepat.

  21. Apabila telah selesai membaca 30 juz, maka di sambung dengan surat Al-Fatihah dan surat Al-Baqarah. sampai dengan ayat ke lima, kemudian berdo’a karena saat itu adalah waktu yang sangat mustajab.

  22. Membacanya di tempat yang layak (kondusif).

  23. Apabila membaca tidak untuk menghafal dan mengulang hafalan, maka membaca dengan melihat mushaf adalah lebih utama, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Suyuthi rah.., “Membaca Al-Qur’an dengan menggunakan mushaf adalah lebih baik daripada membaca dengan hafalan sebab melihatnya merupakan ibadah yang dituntut.”

  24. Meletakkan mushaf di tempat yang tinggi.

  25. Niat mengamalkan dan menyampaikan.

  26. Seusai membaca hendaknya bertaubat dan ber-istighfar karena mungkin banyak kesalahan, seperti tidak sesuai dengan makhraj dan tajwid serta adab yang telah dilanggar baik yang disadari maupun yang tidak kita sadari.

  27. Kemudian yang terakhir, membuat jadwal dan target sehingga dalam waktu tertentu dapat menyelesaikan dan mengkhatamkan Al-Qur’an karena membaca dan mengkhatamkannya merupakan hak Al-Qur’an ke atas kita.

Demikianlah di antara adab-adab Al-Qur’an khususnya pada saat membacanya. Adab-adab tersebut adalah dalam rangka memuliakan dan mengagungkan Al-Qur’an. Di antara sebab kemuliaan umat ini adalah selagi umat masih menghormati, mengagungkan dan memuliakan AL-Qur’an serta dengan mengamalkannya.


a) Disimpan dalam lemari
b) Membacanya dimana saja
c) Membacanya, Mempelajarinya, Memahaminya dan Mengamalkannya
d) Menciumnya setiap habis shalat


(2) Bagaimana cara menghormati guru dan orang tua ?


http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/04/akhlak-anak-terhadap-orang-tua-dan.html
http://sabarfarijh.blogspot.com/2014/09/menuntut-ilmu.html

Akhlak Anak Terhadap Orangtua & Murid Terhadap Guru

Akhlak berasal dari bahasa arab yaitu al-khulq yang mempunyai arti watak, tabiat. Secara istilah akhlak menurut Ibnu Maskawi adalah sesuatu keadaan bagi jiwa yang mendorong ia melakukan tindakan-tindakan dari keadaan itu tanpa melalui pikiran dan pertimbangan. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat aslinya, ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi, pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.


A. Akhlak Anak Terhadap Orangtua

Orang tua sering kali mengerahkan segenap jerih paya mereka untuk menghindarkan bahaya dari diri kita. Mereka bersedia kurang tidur agar kita bisa beristirahat. Mereka memberikan kesenangan-kesenangan kepada kita yang tidak bisa kita raih sendiri. Mereka memikul berbagai penderitaan dan mesti berkorban dalam bentuk yang sulit kita bayangkan.

Akhlak anak terhadap orang tua, antara lain adalah :

  1. Selalu berbicara sopan kepada kedua orangtua, jangan menghardik, mengomel ataupun memukul mereka. Karena walau hanya berkata AH saja tidak diperbolehkan dalam Islam.

  2. Selalu taat kepada orangtua, selama tidak untuk berbuat maksiat kepada Allah SWT.

  3. Selalu bersikap lemah lembut, janganlah bermuka masam di hadapan mereka.

  4. Selalu menjaga nama baik, kehormatan dan harta kedua orangtua, serta tidak mengambil sesuatu tanpa ijin mereka.

  5. Selalu melakukan hal-hal yang dapat meringankan tugas mereka bedua, meskipun tanpa diperintah.

  6. Selalu bermusyawarah dengan mereka dalam setiap masalah dan meminta maaf dengan baik jika ada perbedaan pendapat.

  7. Selalu datang segera, jika mereka memanggil.

  8. Selalu menghormati kerabat dan kawan-kawan mereka.

  9. Selalu sopan dalam menjelaskan setiap masalah. Jangan membatah mereka dengan perkataan kasar.

  10. Selalu membantu ibu dalam pekerjaan di rumah dan membantu ayah dalam pekerjaan di luar rumah (mencari nafkah).

  11. Selalu mendoakan mereka berdua.

  12. Jangan membantah perintah mereka ataupun mengeraskan suara di atas suara mereka.

  13. Jangan masuk ke tempat/kamar mereka, sebelum mendapat ijin.

  14. Jangan mendahului mereka saat makan dan hormatilah mereka dalam menyantap makanan dan minuman.

  15. Jangan mencela mereka, jika mereka berbuat sesuatu yang kurang baik.

  16. Jika merokok, janganlah dihadapan mereka.

  17. Jika telah sanggup/mampu mencari rezeki, bantulah mereka.

  18. Usahakan bangun dari tempat duduk/tempat tidur, jika mereka datang.

  19. Jika meminta sesuatu dari orangtua, mintalah dengan lemah lembut, berterima kasihlah atas pemberian mereka, maafkanlah jika mereka tidak memenuhi permintaan kita dan janganlah terlalu banyak meminta supaya tidak mengganggu mereka.

  20. Jangan keluar dari rumah/pergi sebelum mereka mengijinkan, meskipun untuk urusan penting. Jika terpaksa pergi, maka mintalah maaf kepada mereka.

  21. Kunjungilah mereka sesering mungkin, berilah hadiah, sampaikan terima kasih atas pendidikan dan jerih payah mereka serta ambillah pelajaran dari anak-anakmu betapa susahnya mendidik mereka. Seperti halnya betapa berat susahnya orangtua kita mendidik kita.

  22. Orang yang berhak mendapat penghormatan adalah ibu, kemudian ayah. Ketahuilah bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

  23. Doa kedua orangtua dalam kebaikan ataupun kejelekan di terima oleh Allah Swt. Maka berhati-hatilah terhadap doa mereka yang jelek.

  24. Usahakan tidak menyakiti orangtua ataupun membuat mereka marah sehingga membuat diri kita merana di dunia dan akhirat. Ingatlah, anak-anakmu akan memperlakukan kamu sebagaimana kamu memperlakukan kedua orangtuamu.

  25. Kedua orangtuamu mempunyai hak atas kamu, istri/suamimu mempunyai hak atas kamu. Jika suatu ketika mereka berselisih, usahakanlah dipertemukan dan berilah masing-masing hadiah secara diam-diam.

Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birrul waalidain atau bakti kepada orang tua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tiga bentuk kewajiban:

Pertama : Menta'ati segala perintah orang tua, kecuali dalam maksiat.
Kedua : Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan oleh orang tua.
Ketiga : Membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan.

Orang tua itu memiliki kasih sayang yang luar biasa terhadap anaknya sendiri maupun terhadap cucunya. Ketaatan anak terhadap orang tuanya memiliki hikmah yang luar biasa. Doa orang tua sangat mustajab terhadap anak dan cucunya.
Oleh karena itu, sebagai anak harus patuh, harus berbakti kepada orang tuanya jika ingin menjadi sukses di dunia dan di akherat kelak.

Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda,
Di antara dosa-dosa besar itu ialah orang mencaci ibu-bapaknya. Ditanya pula, Bagaimana orang mencaci ibu-bapaknya? Beliau bersabda, Ya, ia mencaci ayah seseorang, maka orang itu mencaci ayahnya (membalas), ia mencaci ibu seseorang, dan orang itu mencaci ibunya.
(Muttafaq`alaih), (QS. Al-Ahqaaf :15,17)

Tidak ada sesuatu yang paling menggembirakan ayah ibu daripada melihat anaknya dapat menyenangkan hati, berbakti, taat, sopan santun dan cerdas. Begitu juga sebaliknya tiada sesuatu yang lebih menyedihkan hati mereka daripada melihat anak mereka yang durhaka, pembangkang, tidak sopan lagi bodoh.

Bagaimana berbuat baik seorang anak kepada ibu dan ayahnya yang sudah tiada ?. Dalam hal ini menurut tuntunan ajaran islam sebagaimana yang disiarkan oleh rasulullah dari Abu Usaid :

Artinya : Abu usaid berkata :
kami pernah berada pada suatu majelis bersama nabi, seorang bertanya kepada Rasulullah: wahai Rasulullah, apakah ada sisa kebajikan setelah keduanya meninggal dunia yang aku untuk berbuat sesuatu kebaikan kepada kedua orang tuaku. Rasulullah bersabda: ya, ada empat hal : mendoakan dan memintakan ampun untuk keduanya, menempati / melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman kedua orang tua, dan bersilaturrahim yang engkau tiada mendapatkan kasih sayang kecuali karena kedua orang tua.

Tetapi bagaimana jikalau kita ingin berbuat baik kepada ibu dan ayah serta patuh terhadapnya, terkadang perintah yang di berikannya tidak sesuai dengan ketentuan islam.

Adapun cara menghadapi perintah kedua orang tua yang bertentanga dengan ajaran islam :
Jika suatu saat kamu disuruh berbohong oleh ibu atau ayah, sebaiknya katakan kepada keduanya bahwasanya Allah melihat kita.
Jangan sekali-kali membantah perintah orang tua dengan nada kesal dan ngotot, sebab tidak akan mambuahkan hasil. Akan tetapi hadapi dengan tenang dan penuh keyakinan dan percaya diri.

Ayah dan ibu itu manusia biasa yang tak luput dari kesalaha dan kekurangan. Jangan posisikan kedua orang tua seperti nabi yang tak pernah berbuat salah. Maafkan mereka, bila kita anggap cara dan perintah orang tua bertentangan dari hati nurani atau nilai-nilai yang kamu yakini kebenarannya.


B. Akhlak Murid Terhadap Guru

Setelah hormat dan menghargai ibu bapak, setiap muslim wajib hormat dan menghargai gurunya. Karena gurulah yang telah berjasa memberikan pelajaran dan pendidikan kepada muridnya agar menjadi manusia yang luhur budinya, cakap, serta menjadi warga negara yang berguna bagi tanah air, agama dan bangsa. Begitu pula agar menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan negara.

Oleh karena itu guru yang benar-benar menjalankan tugasnya harus di hargai dan di hormati. Sebagaimana di perintahkan dalam hadits Nabi yang artinya : "Muliakanlah orang-orang yang telah memberikan pelajaran kepadamu" (HR. Abu Hasan Mawardi).

Berdasarkan hadits Nabi di atas maka amat tercela orang yang tak dapat menghargai gurunya. Apalagi bersikap tidak sopan dan meremehkan. Baik guru yang masih memberikan pelajaran atau tidak. Sebab itu terhadap bekas/mantan guru kita jangan sampai melupakan jasa-jasanya. Hal itu sering kali terjadi terutama jika bekas murid telah mencapai kedudukan atau pendidikan yang lebih tinggi dari gurunya.

Bagi pelajar yang setiap hari berhubungan dengan gurunya,adab sopan santun terhadap mereka perlu di perhatikan dan di laksanakan.

Yang perlu di perhatikan antara lain :

  1. Ucapkan salam atau rasa hormat terlebih dahulu kepada guru, jika bertemu dengan mereka.

  2. Taat dan patuh melakukan perintah guru, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran agama dan undang-undang.

  3. Perhatikanlah ketika guru sedang memberikan pelajaran dan jangan terlalu banyak bertanya jika tidak di izinkan.

  4. Tunjukanlah sikap yang merendahkan diri,selalu hormat dan sopan terhadap guru. Baik dalam tutur kata maupun dalam tingkah laku sehari-hari.

  5. Jangan berjalan di depan guru,kecuali jika di izinkan atau sesuai kondisi tapi usahakan di belakang guru.

Rasulullah saw. bersabda:
Tidak termasuk golongan kami; orang yang tak menghormati yang lebih tua, tak menyayangi yang lebih muda, dan tak mengetahui hak seorang ulama

Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullaah berkata,
Seorang penuntut ilmu harus memperbaiki adabnya terhadap gurunya, memuji Allah yang telah memudahkan baginya dengan memberikan kepadanya orang yang mengajarkannya dari kebodohannya, menghidupkannya dari kematian (hati)nya, membangunkannya dari tidurnya, serta mempergunakan setiap kesempatan untuk menimba ilmu darinya....


Guru merupakan orang yang berjasa terhadap sang murid. Dengan kata lain guru merupakan orang yang mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada murid diluar bimbingan orang tua di rumah, sehingga akhlakul karimah terhadap guru perlu diterapkan sebagaimana akhlak kita terhadap orang tua.

Ibn jamaah menyusun kode etik yaitu:

  • Murid harus mengikuti guru yang dikenal baik akhlak, tinggi ilmu dan keahlian, berwibawa, santun dan penyayang. Ia tidak mengikuti guru yang tinggi ilmunya tetapi tidak saleh, tidak waras, atau tercela akhlaknya.

  • Murid harus mengikuti dan mematuhi guru. Menurut ibn jamaah rasa hina dan kecil di depan guru merupakan pangkal keberhasilan dan kemuliaan. Ia memberikan umpama lain, yaitu penuntut ilmu ibarat orang lari dari kebodohan seperti lari dari singa ganas. Ia percaya kepada orang penunjuk jalan lari.

  • Murid harus mengagungkan guru dan meyakini kesempurnaan ilmunya. Orang yang berhasil hingga menjadi ilmuwan besar, sama sekali tidak boleh berhenti menghormati guru.

  • Tunjukanlah sikap yang merendahkan diri,selalu hormat dan sopan terhadap guru. Baik dalam tutur kata maupun dalam tingkah laku sehari-hari.

  • Murid harus mengingat hak guru atas dirinya sepanjang hayat dan setelah wafa. Ia menghormati sepanjang hidup guru, meski wafat. Murid tetap mengamalkan dan mengembangkan ajaran guru.

  • Murid bersikap sabar terhadap perlakuan kasar atau akhlak buruk guru. Hendaknya berusaha untuk memaafkan perlakuan kasar, turut memohon ampun dan bertaubat untuk guru.

  • Murid harus menunjukkan rasa berterima kasih terhadap ajaran guru. Melalui itulah ia mengetahui apa yang harus dilakukan dan dihindari. Ia memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Meskipun guru menyampaikan informasi yang sudah di ketahui murid, ia harus menunjukan rasa ingin tahu tinggi terhadap informasi.

  • Murid tidak mendatangi guru tanpa izin lebih dahulu, baik guru sedang sendiri maupun bersama orang lain. Jika telah meminta izin dan tidak memperoleh. Ia tidak boleh mengulangi minta izin. Jika ragu apakah guru mendengar suaranya, ia bisa mengulanginya paling banyak tiga kali.

  • Harus duduk sopan didepan guru. Missalnya, duduk bersila dengan tawadu, tenang, diam, posisi duduk sedapat mungkin berhadapan dengan guru, atentif terhadap perkataan guru sehingga tidak membuat guru mengulangi perkataan. Tidak di benarkan berpaling atau menoleh tanpa keperluan jelas, terutama saat guru berbicara kepadanya.

  • Bekomunikasi dengan guru secara santun dan lemah- lembut. Ketika guru keliru baik khilaf atau karena tidak tahu, sementara murid mengetahui, ia harus menjaga perasaan agar tidak terlihat perubahan wajahnya. Hendaknya menunggu sampai guru menyadari kekeliruan. Bila setelah menunggu tidak ada indikasi guru menyadari kekeliruan, murid mengingatkan secara halus.

  • Jika guru mengungkapkan satu soal, atau kisah atau sepenggal sair yang sudah dihafal murid, ia harus tetap mendengarkan dengan antusias, seolah-olah belum pernah mendengar.

  • Murid tidak boleh menjawab pertanyaan guru meskipun mengetahui, kecuali guru memberi isyaratia memberi jawaban.

  • Murid harus mengamalkan tayamun (mengutamakan yang kanan). Ketika memberi sesuatu kepada guru. Harus menjaga sikap wajar, tidak terlalu dekat hingga jaraknya terkesan mengganggu guru. Tidak pula terlalu jauh hingga harus merentangkan tangan secara berlebihan yang mengesankan kurang serius.


a) Selalu hormat dan sopan
b) Ikut kegiatan pramuka
c) Olah raga setiap pagi
d) Banyak makan sayur


(3) Bagaimana adab orang yang buang hajat besar ?


http://islamqa.info/id/2532

Di antara keagungan syariat Islam yang penuh berkah ini adalah tidak tersisa satu kebaikan pun, besar maupun kecil, kecuali telah diperintahkan dan dianjurkan oleh syariat. Dan tidak ada satupun keburukan, yang besar maupun kecil, kecuali dilarang olehnya. Sungguh sebuah syariat yang maha komplit dan indah dari segala segi. Hal itu membuat takjub orang-orang non muslim terhadap Dien ini. Hingga salah seorang kaum musyrikin berkata kepada Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'Anhu:

"Nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatunya hingga masalah khira'ah (adab buang hajat)."
Salman pun berkata: "Benar katamu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau kecil."

(HR. At-Tirmidzi no:16, ia berkata: Hadits ini hasan shahih, diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam shahihnya dan imam-imam lainnya)

Syariat Islam mengajarkan beberapa adab-adab dan hukum-hukum yang mesti diperhatikan saat buang hajat, di antaranya:

  1. Tidak menghadap kiblat saat buang air besar atau kecil (kiblat kaum muslimin adalah Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam di Makkah atas perintah Allah). Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kiblat dan bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah.

    Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
    "Jika salah seorang dari kamu duduk untuk membuang hajatnya, janganlah ia menghadap atau membelakangi kiblat."
    (HR. Muslim no:389)

  2. Tidak menyentuh kemaluan dengan tangan kanan saat buang air kecil. Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

    "Jika salah seorang dari kamu buang air kecil, janganlah ia menyentuh kemaluannya dan beristinja' dengan tangan kanan. Dan jangan pula ia bernafas dalam gelas (saat minum)."
    (HR. Al-Bukhari no: 150)

  3. Janganlah ia menghilangkan najis dengan tangan kanan, namun gunakanlah tangan kiri, berdasarkan hadits di atas dan sabda nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

    "Jika salah seorang kamu membersihkan kotoran janganlah ia gunakan tangan kanannya."
    (HR. Al-Bukhari no:5199)

    Dan juga berdasarkan riwayat Hafshah Radhiyallahu 'Anha -salah seorang istri beliau- bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menggunakan tangan kanannya untuk makan, minum, berwudhu', memakai pakaian, memberi dan menerima. Dan menggunakan tangan kirinya untuk selain itu."
    (HR. Ahmad dan dicantumkan dalam Shahih Al-Jami' no:4912)

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anha bahwa Rasulullah bersabda:
    "Jika salah seorang dari kamu beristinja' maka janganlah ia gunakan tangan kanan, hendaklah ia gunakan tangan kirinya."
    (HR. Ibnu Majah No:308 dan dicantumkan dalam Shahihul Jami' no:322)

  4. Menurut Sunnah Nabi, hendaklah berusaha duduk serendah mungkin saat membuang hajat. Cara seperti itulah yang lebih menutupi aurat dan lebih aman dari percikan air seni yang dapat mengotori badan dan pakaiannya. Dan boleh membuang hajat sambil berdiri jika aman dari percikan air seni.

  5. Menutup diri dari pandangan orang saat buang hajat. Penghalang yang paling sering digunakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika buang hajat adalah dinding atau pagar kebun kurma (yakni dibalik tanah tinggi atau dinding kebun kurma). (HR. Muslim 517)

    Jika seorang muslim berada di tanah lapang lalu terdesak buang hajat sementara ia tidak menemukan sesuatu sebagai penghalang, hendaklah ia menjauh dari orang lain. Dalilnya adalah riwayat Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu 'Anhu ia berkata:

    "Ketika saya menyertai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam sebuah lawatan, beliau terdesak buang hajat. Beliaupun menjauh dari tepi jalan."
    (H.R At-Tirmidzi no:20, ia berkata: Hadits ini hasan shahih)

    Abdurrahman bin Abi Quraad meriwayatkan: "Saya pernah menyertai Rasulullah ke sebuah padang luas. Jika beliau hendak buang hajat maka beliau akan pergi menjauh." (H.R An-Nasa'i no:16 dan dicantumkan dalam Shahih Al-Jami' no: 4652)

  6. Tidak membuka auratnya kecuali setelah tiba di tempat buang air. Sebab tempat buang air tentunya lebih tertutup. Berdasarkan riwayat Anas Radhiyallahu 'Anhu ia berkata:

    "Apabila Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hendak buang hajat, beliau tidak akan menyingkap pakaiannya hingga tiba di tempat buang air."
    (H.R At-Tirmidzi no: 14 dan dicantumkan dalam Shahih Al-Jami' 4652)

    Jika ia buang air di WC, janganlah ia menyingkap pakaiannya kecuali setelah mengunci pintu WC dan tersembunyi dari pandangan orang lain. Dari point di atas Anda tentu dapat mengetahui bahwa kebiasaan yang sering dilakukan orang di negera-negara Barat, yaitu buang air kecil sambil berdiri di tempat-tempat terbuka dalam WC-WC umum, adalah kebiasaan yang bertentangan dengan norma dan etika, sopan santun dan akhlak yang mulia. Membuat risih setiap orang yang masih memiliki fitrah lurus dan akal sehat. Tega-teganya seseorang membuka auratnya di hadapan manusia, padahal Allah telah meletakkan kemaluannya itu di tempat yang tersembunyi, yaitu di selangkangan antara kedua kakinya! Dan Allah telah memerintahkan manusia supaya menutupnya, bahkan semua orang yang berakal menyepakati perintah Allah tersebut. Dan termasuk kekeliruan juga adalah membangun WC-WC dalam bentuk terbuka seperti itu, sehingga masing-masing orang yang buang air di situ bisa melihat orang yang buang hajat di kanan kirinya! Sangat jauh berbeda dengan kebiasaan hewan-hewan ternak yang menabir diri ketika buang kotoran besar atau kecil.

  7. Di antara adab-adab yang dituntunkan oleh Syariat Islam kepada kaum muslimin adalah membaca zikir-zikir tertentu ketika memasuki WC dan keluar darinya. Adab ini sangat sesuai dengan kondisi dan tempat. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita doa ketika masuk ke dalam WC:

    "Bismillah, Allahumma inni a'uudzubika minal khubtsi wal khabaaits").

    Artinya: Dengan menyebut nama Allah, Yaa Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala gangguan setan laki-laki maupun perempuan.

    Kita juga diajarkan agar berlindung kepada Allah dari setiap perkara yang buruk dan dari gangguan setan laki-laki maupun perempuan.
    Ketika keluar dari WC kita dianjurkan meminta ampun kepada Allah dengan mengucapkan:

    'Ghufraanaka'

    Artinya: "Aku meminta ampun kepada-Mu!"

  8. Bersungguh-sungguh menghilangkan najis setelah selesai buang hajat, berdasarkan sabda Rasulullah yang memberi peringatan keras terhadap orang-orang yang menganggap remeh perkara bersuci ini. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

    "Mayoritas siksa kubur itu akibat tidak membersihkan air seni"
    (H.R Ibnu Majah no: 342 dan dicantumkan dalam Shahihul Jami' no: 1202)

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhu bahwa ia bercerita: "Suatu kali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melewati dua kuburan lalu berkata:

    "Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa, bukanlah karena kesalahan yang besar. Salah seorang dari keduanya karena tidak beristinja' setelah buang air, dan satunya lagi berjalan ke sana kemari menyebar namimah (mengadu domba)."
    (H.R Al-Bukhari no:5592)

  9. Hendaklah mencuci kemaluan atau dubur sekurang-kurangnya tiga kali atau ganjil sampai bersih sesuai dengan kebutuhan. Dalilnya adalah riwayat 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha ia menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam membersihkan kemaluannya sebanyak tiga kali. Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhu berkata:

    "Kamipun melakukan petunjuk beliau dan kami dapati hal itu sebagai obat dan kesucian."
    (H.R Ibnu Majah no:350 dan dicantumkan dalam Shahih Al-Jami' no: 4993)

    Dan juga berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

    "Jika salah seorang dari kamu beristijmar maka lakukanlah sebanyak tiga kali."
    (H.R Imam Ahmad dan dinyatakan hasan dalam Shahih Al-Jami' no: 375)

  10. Tidak beristijmar (bersuci dengan cara mengusap) dengan menggunakan tulang dan rauts (kotoran hewan yang telah mengering). Akan tetapi gunakanlah saputangan, batu dan sejenisnya.

    Dalilnya adalah riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa ia pernah membawakan tempat air Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk wudhu' dan buang hajat beliau. Ketika Abu Hurairah mengikuti Rasul dengan membawa tempat air itu, Rasulullah berkata: "Siapakah ini?"
    "Saya, Abu Hurairah!" jawabnya.
    Rasulullah berkata: "Bawakanlah untukku beberapa buah batu untuk beristijmar, namun jangan bawa tulang dan kotoran hewan."

    Akupun membawa beberapa buah batu yang letakkan di kantung bajuku kemudian kuletakkan di sisi beliau lalu aku berpaling. Setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam selesai buang hajat aku bertanya: "Mengapa tidak boleh menggunakan tulang dan kotoran hewan?" beliau menjawab: "Karena keduanya adalah makanan bangsa jin!"
    (H.R Al-Bukhari no:3571)

  11. Dilarang buang air pada air yang tergenang (tidak mengalir). Dalilnya hadits Jabir Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melarang buang air pada air yang tergenang (tidak mengalir)."
    (H.R Muslim no:423)
    Karena perbuatan tersebut dapat mengotori air dan mengganggu orang-orang yang menggunakannya.

  12. Dilarang buang air di jalan dan di tempat orang-orang berteduh, sebab hal itu dapat mengganggu mereka. Dalilnya hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

    "Jauhilah dua perkara yang mendatangkan kutukan! Mereka bertanya: Apa itu wahai Rasulullah?"
    Beliau bersabda: "Buang hajat di tengah jalan atau ditempat orang-orang berteduh."
    (H.R Abu Dawud no:23 dan dicantumkan dalam Shahih Al-Jami' no:110

  13. Dilarang mengucapkan salam kepada orang yang sedang buang hajat dan dilarang menjawab salam sementara ia berada di tempat buang hajat. Sebagai bentuk pengagungan kepada Allah agar namaNya tidak disebut di tempat-tempat kotor.

    Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu ia mengisahkan bahwa seorang lelaki berjalan melewati Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang ketika itu tengah buang air kecil. Lelaki itu mengucapkan salam kepada beliau. Setelah selesai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata kepadanya: "Jika engkau melihatku dalam keadaan demikian (sedang buang hajat) janganlah ucapkan salam kepadaku, sebab aku tidak akan menjawab salammu itu."
    (H.R Ibnu Majah no:346 dan dicantumkan dalam Shahih Al-Jami' no: 575)

    Jumhur ulama berpendapat makruh berbicara di dalam WC tanpa keperluan.

Itulah beberapa adab dan aspek hukum dalam syariat Islam berkenaan dengan permasalahan yang dilakukan orang setiap hari. Syariat Islam telah mengatur dan mejelaskannya sedemikian rupa. Bagaimana pula dengan permasalahan-permasalahan yang lebih besar daripadanya! Wahai saudara penanya, pernahkah Anda dapatkan agama atau syariat di dunia ini yang menetapkan aturan-aturan seperti itu? Demi Allah, hal itu cukup sebagai bukti penegasan kesempurnaan dan keindahan Dienul Islam serta wajibnya kita mengikutinya. Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufiq bagi kita semua kepada kebaikan dan mengkaruniakan hidayah kepada kebenaran. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.


a) Menghadap Kiblat
b) Membelakangi Kiblat
c) Menghadap atau membelakangi Kiblat
d) Tidak menghadap atau membelakangi Kiblat


(4) Bagaimana adab orang ketika di masjid ?


http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/adab-adab-ketika-di-masjid.html

Adab-Adab Ketika Di Masjid

Masjid adalah rumah Allah yang berada di atas bumi. Memiliki kedudukan yang agung di mata kaum muslimin karena menjadi tempat bersatunya mereka ketika shalat berjamaah dan kegiatan beribadah lainnya. Umat Islam senantiasa akan mulia manakala kembali memakmurkan masjid seperti halnya generasi salaf dahulu.

Sebagai rumah dari rumah-rumah Allah Taala yang mempunyai peranan vital, ada beberapa etika yang telah digariskan oleh Islam ketika berada di dalamnya. Antara lain :


1. Mengikhlaskan Niat Kepada Allah Taala

Hendaknya seseorang yang ingin ke masjid mengikhlaskan niatnya sehingga Allah Taala menerima ibadah yang ia lakukan di masjid. Hendaknya ia mendatangi masjid untuk menunaikan tugas seorang hamba yaitu beribadah kepada Allah Taala tanpa dilandasi rasa ingin dipuji manusia atau ingin dilihat oleh masyarakat. Karena sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dari niatnya.


2. Berpakaian Indah Ketika Hendak Menuju Masjid

Sebagaimana perintah Allah Taala dalam firman-Nya:



Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid [1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, dalam ayat ini, Allah tidak hanya memerintahkan hambanya untuk menutup aurat, akan tetapi mereka diperintahkan pula untuk memakai perhiasan. Oleh karena itu hendaklah mereka memakai pakaian yang paling bagus ketika shalat [2].

Dan dijelaskan dalam kitab tafsir karangan Imam Ibnu Katsir rahimahullah, berlandaskan ayat ini dan ayat yang semisalnya disunahkan berhias ketika akan shalat, lebih-lebih ketika hari Jumat dan hari raya. Termasuk perhiasan yaitu siwak dan parfum [3].


3. Menghindari Makanan Tidak Sedap Baunya

Maksudnya adalah larangan bagi seseorang yang makan makanan yang tidak sedap baunya, seperti mengkonsumsi makanan yang menyebabkan mulut berbau, seperti bawang putih, bawang merah, jengkol, pete, dan termasuk juga merokok atau yang lainnya untuk menghadiri shalat jamaah, berdasarkan hadis,

Dari Jabir radhiallahuanhu bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda, Barang siapa yang memakan dari tanaman ini (sejenis bawang dan semisalnya), maka janganlah ia mendekati masjid kami, karena sesungguhnya malaikat terganggu dengan bau tersebut, sebagaimana manusia [4].

Juga hadis Jabir, bahwa Nabi Shallallahualaihi Wasallam bersabda:



Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah menjauhi kita, atau bersabda, Maka hendaklah dia menjauhi masjid kami dan hendaklah dia duduk di rumahnya [5].

Hadis tersebut bisa dibawa ke persamaan kepada segala sesuatu yang berbau tidak sedap yang bisa mengganggu orang yang sedang shalat atau yang sedang beribadah lainnya. Namun jika seseorang sebelum ke masjid memakai sesuatu yang bisa mencegah bau yang tidak sedap tersebut dari dirinya seperti memakai pasta gigi dan lainnya, maka tidak ada larangan baginya setelah itu untuk menghadiri masjid.


4. Bersegera Menuju Rumah Allah Taala

Bersegera menuju masjid merupakan salah satu ciri dari semangat seorang muslim untuk melakukan ibadah. Jika waktu shalat telah tiba, hendaklah kita bersegera menuju masjid karena di dalamnya terdapat ganjaran yang amat besar, berdasarkan hadis:

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda, Seandainya manusia mengetahui keutamaan shaf pertama, dan tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-lomba [6].

Jangan sampai kita menyepelekan dan menunda-nunda waktu untuk sesegera mungkin menuju masjid. Hendaknya selalu bersemangat dalam menghidupkan masjid dan mengisinya dengan amalan-amalan ibadah lainnya.


5. Berjalan Menuju Masjid Dengan Tenang dan Sopan

Hendaknya berjalan menuju shalat dengan khusyuk, tenang, dan tentram. Nabi Shallallahualaihi Wasallam melarang umatnya berjalan menuju shalat secara tergesa-gesa walaupun shalat sudah didirikan. Abu Qatadah radhiallahuanhu berkata, Saat kami sedang shalat bersama Nabi Shallallahualaihi Wasallam, tiba-tiba beliau mendengar suara kegaduhan beberapa orang. Sesudah menunaikan shalat beliau mengingatkan,

: . : ,

Apa yang terjadi pada kalian? Mereka menjawab, Kami tergesa-gesa menuju shalat. Rasulullah menegur mereka, Janganlah kalian lakukan hal itu. Apabila kalian mendatangi shalat maka hendaklah berjalan dengan tenang, dan rakaat yang kalian dapatkan shalatlah dan rakaat yang terlewat sempurnakanlah [7]


6. Adab Bagi Wanita [8]

Tidak terlarang bagi seorang wanita untuk pergi ke masjid. Namun rumah-rumah mereka lebih baik. Jika seorang wanita hendak pergi ke masjid, ada beberapa adab khusus yang perlu diperhatikan:

  1. Meminta izin kepada suami atau mahramnya
  2. Tidak menimbulkan fitnah
  3. Menutup aurat secara lengkap
  4. Tidak berhias dan memakai parfum

Perbuatan kaum wanita yang memakai parfum hingga tercium baunya dapat menimbulkan fitnah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam, Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluiar menuju masjid, maka tidak akan diterima shalatnya sehingga ia mandi [9]

Abu Musa radhiallahuanhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahualaihi Wasallam bersabda,



Setiap mata berzina dan seorang wanita jika memakai minyak wangi lalu lewat di sebuah majelis (perkumpulan), maka dia adalah wanita yang begini, begini, yaitu seorang wanita pezina [10].


7. Ketika Masuk Masjid Berdoa dan Mendahulukan Kaki Kanan

Hendaklah orang yang keluar dari rumahnya membaca doa,



Dengan menyebut nama Allah aku bertawakal kepada-Nya, tidak ada daya dan upaya selain dari Allah semata [11].

Kemudian ketika berjalan menuju masjid hendaklah berdoa,



VYaa Allah berilah cahaya di hatiku, di penglihatanku dan di pendengaranku, berilah cahaya di sisi kananku dan di sisi kiriku, berilah cahaya di atasku, di bawahku, di depanku dan di belakangku, Yaa Allah berilah aku cahaya [12].


8. Shalat Tahiyatul Masjid

Di antara adab ketika memasuki masjid adalah melaksanakan shalat dua rakaat sebelum duduk. Shalat ini diistilahkan para ulama dengan shalat tahiyatul masjid. Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda,



Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk [13]

Yang dimaksud dengan tahiyatul masjid adalah shalat dua rakaat sebelum duduk di dalam masjid. Tujuan ini sudah tercapai dengan shalat apa saja yang dikerjakan sebelum duduk. Oleh karena itu, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah rawatib, bahkan shalat wajib, semuanya merupakan tahiyatul masjid jika dikerjakan sebelum duduk.

Merupakan suatu hal yang keliru jika tahiyatul masjid diniatkan tersendiri, karena pada hakikatnya tidak ada dalam hadis ada shalat yang namanya tahiyatul masjid. Akan tetapi ini hanyalah penamaan ulama untuk shalat dua rakaat sebelum duduk. Karenanya jika seorang masuk masjid setelah adzan lalu shalat qabliah atau sunah wudhu, maka itulah tahiyatul masjid baginya. Syariat ini berlaku untuk laki-laki maupun wanita. Hanya saja para ulama mengecualikan darinya khatib jumat, di mana tidak ada satupun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahualaihi Wasallam shalat tahiyatul masjid sebelum khutbah. Akan tetapi beliau datang dan langsung naik ke mimbar. Syariat ini juga berlaku untuk semua masjid, termasuk masjidil haram. Tahiyatul masjid disyariatkan pada setiap waktu seseorang itu masuk masjid dan ingin duduk di dalamnya. Termasuk di dalamnya waktu-waktu yang terlarang untuk shalat, menurut sebagian pendapat kalangan ulama [14].


9. Mengagungkan Masjid

Bentuk pengagungan terhadap masjid berupa hendaknya seseorang tidak bersuara dengan suara yang tinggi, bermain-main, duduk dengan tidak sopan, atau meremehkan masjid. Hendaknya juga ia tidak duduk kecuali sudah dalam keadaan berwudhu untuk mengagungkan rumah Allah Taala dan syariat-syariat-Nya. Allah Taala berfirman,

Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati [15].


10. Menunggu Ditegakkannya Shalat dengan Berdoa dan Berdzikir

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, Setelah shalat dua rakaat hendaknya orang yang shalat untuk duduk menghadap kiblat dengan menyibukkan diri berdzikir kepada Allah, berdoa, membaca Alquran, atau diam dan janganlah ia membicarakan masalah duniawi belaka [16].

Terdapat keutamaan yang besar bagi seorang yang duduk di masjid untuk menunggu shalat, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam,

:

Apabila seseorang memasuki masjid, maka dia dihitung berada dalam shalat selama shalat tersebut yang menahannya (di dalam masjid), dan para malaikat berdoa kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada pada tempat shalatnya, Mereka mengatakan, Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadanya, ya Allah ampunilah dirinya selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats [17].


11. Mengaitkan Hati Dengan Masjid [18]

Berusaha untuk selalu mengaitkan hati dengan masjid dengan berusaha mendatangi ke masjid sebelum shalat, menunggu shalat dengan berdzikir dan beribadah, dan tidak buru-buru beranjak. Dan keutamaan inilah yang akan dinaungi oleh Allah Taala ketika nanti tiada naungan selain naungan-Nya. Sebagaimana dalam hadis, Tujuh jenis orang yang Allah Taala akan menaungi mereka pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya dan laki-laki yang hatinya selalu terkait dengan masjid) [19]


12. Anjuran Untuk Berpindah Tempat Ketika Merasa Ngantuk

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahualaihi Wasallam, Jika salah seorang di antara kalian mengantuk, saat berada di masjid, maka hendaknya ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat lain [20].


13. Anjuran Membuat Pintu Khusus untuk Wanita [21]

Dianjurkan untuk membuat pintu khusus bagi wanita untuk menjaga agar mereka tidak bercampur baur dengan kaum pria. Karena akibat dari campur baurnya laki-laki dan perempuan amatlah besar. Dan keburukan seperti ini akan lebih berbahaya kalau dilakukan di rumah Allah Taala. Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam membimbing para shahabatnya dengan seraya bersabda, Alangkah baiknya jika kita biarkan pintu ini untuk kaum wanita [22].


14. Dibolehkan Untuk Tidur Di Masjid

Dibolehkan tidur di dalam masjid bagi orang yang membutuhkannya, semisal orang yang kemalaman atau yang tidak punya sanak famili dan lainnya. Dahulu para sahabat Ahli Suffah (orang yang tidak punya tempat tinggal), mereka tidur di dalam masjid [23].

Al-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan bahwa bolehnya tidur di dalam masjid adalah pendapat jumhur ulama [24]. Dan dibolehkan juga tidur dengan terlentang. Berdasarkan riwayat:

Dari Abbad Bin Tamim dari pamannya bahwasanya dia melihat Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam tidur terlentang di dalam masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang lain [25].

Al-Khattabi berkata, Hadis ini menunjukkan bolehnya bersandar, tiduran dan segala bentuk istirahat di dalam masjid [26].


15. Boleh Memakai Sandal di Masjid

Berkata Imam At-Thahawi, Telah datang atsar-atsar yang mutawatir tentang shalatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memakai sandal di dalam masjid [27].

Berdasarkan hadis dari Said Bin Yazid, bahwasanya dia bertanya kepada Anas bin Malik, Apakah Nabi Shallallahualaihi Wasallam shalat memakai kedua sandalnya? Anas menjawab: Ya [28].

Imam Nawawi berkata, Hadis ini menunjukkan bolehnya shalat memakai sandal selama tidak terkena najis [29].


16. Boleh Makan Dan Minum Di Masjid

Makan dan minum di dalam masjid dibolehkan asal tidak mengotori masjidnya. Berdasarkan hadis dari Abdullah bin Harits radhiyallahu anhu, dia berkata, Kami makan daging bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam masjid [30].


17. Boleh Membawa Anak Kecil Ke Masjid

Dari Abu Qotadah radhiallahuanhu dia berkata, Suatu ketika Nabi Shallallahualaihi Wasallam keluar (untuk shalat-pent) dengan menggendong Umamah Binti Abil Ash, kemudian beliau shalat. Apabila rukuk beliau menurunkannya, dan apabila bangkit beliau menggendongnya kembali [31].

Imam Al-Aini rahimahullah berkata, Hadits ini menunjukkan bolehnya membawa anak kecil ke dalam masjid [32].

Adapun hadits yang berbunyi, Jauhkanlah anak-anak kalian dari masjid, adalah hadits yang dhaif (lemah), didaifkan oleh Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, Ibnu Jauzi, Al-Mundziri, dan lainnya [33].


18. Menjaga dari Ucapan yang Jorok dan Tidak Layak di Masjid

Tempat yang suci tentu tidak pantas kecuali untuk ucapan-ucapan yang suci dan terpuji pula. Oleh karena itu, tidak boleh bertengkar, berteriak-teriak, melantunkan syair yang tidak baik di masjid, dan yang semisalnya. Demikian pula dilarang berjual beli di dalam masjid dan mengumumkan barang yang hilang. Nabi Shallallahualaihi Wasallam bersabda (yang artinya), Apabila kamu melihat orang menjual atau membeli di masjid maka katakanlah, Semoga Allah tidak memberi keberuntungan dalam jual belimu! Dan apabila kamu melihat ada orang yang mengeraskan suara di dalam masjid untuk mencari barang yang hilang, katakanlah, Semoga Allah Ta'ala tidak mengembalikkannya kepadamu. [34]


19. Dilarang bermain-main di masjid selain permainan yang mengandung bentuk melatih ketangkasan dalam perang. [35]

Hal ini sebagaimana dahulu orang-orang Habasyah bermain perang-perangan di masjid dan tidak dilarang oleh Nabi Shallallahualaihi Wasallam [36].


20. Tidak Menjadikan Masjid Sebagai Tempat Lalu Lalang [37]

Tidak sepatutnya seorang muslim berlalu di dalam masjid untuk suatu kepentingan tanpa mengerjakan shalat dua rakaat. Nabi Shallallahualaihi Wasallam bersabda, Di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seorang melewati masjid namun tidak mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya dan seseorang tidak memberikan salam kecuali kepada orang yang dikenalnya) [38].


21. Tidak menghias masjid secara berlebihan

Di antara kesalahan yang terjadi di masjid adalah menghiasi masjid dan memahatnya secara berlebihan, berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam:



Apabila kalian telah memperindah masjid kalian dan menghiasi mushaf-mushafmu maka kehancuran telah menimpa kalian [39].

Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda,



Tidak akan terjadi hari kiamat sampai manusia berlomba-lomba di dalam (memperindah) masjid [40]

Dilarang berlebih-lebihan dalam menghias masjid karena hal itu menyelisihi sunnah Nabi Shallallahualaihi Wasallam, Apabila kalian telah menghiasi mushaf-mushaf kalian dan menghiasi masjid-masjid kalian, maka kehancuran akan menimpa kalian [41].

Beliau Shallallahualaihi Wasallam juga bersabda,

Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah manusia berbangga-bangga dengan masjid [42].


22. Tidak Mengambil Tempat Khusus di Masjid

Nabi Shallallahualaihi Wasallam melarang seorang shalat seperti gagak mematuk, dan melarang duduk seperti duduknya binatang buas, dan mengambil tempat di masjid seperti unta mengambil tempat duduk [43]. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, hikmahnya adalah karena hal tersebut bisa mendorong kepada sifat pamer, riya, dan sumah, serta mengikat diri dengan adat dan ambisi. Demikian itu merupakan musibah. Maka dari itu, seorang hamba harus berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjerumus ke dalamnya [44].


23. Larangan Keluar Setelah Adzan Kecuali Ada Alasan

Jika kita berada di dalam masjid dan azan sudah dikumandangkan, maka tidak boleh keluar dari masjid sampai selesai dtunaikannya shalat wajib, kecuali jika ada uzur. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam sebuah riwayat dari Abu as Syatsaa radhiallahuanhu, beliau berkata,



Kami pernah duduk bersama Abu Hurairah dalam sebuah masjid. Kemudian muazin mengumandangkan azan. Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri kemudian keluar masjid. Abu Hurairah melihat hal tersebut kemudian beliau berkata, Perbuatan orang tersebut termasuk bermaksiat terhadap Abul Qasim (Nabi Muhammad) Shallallahualaihi Wasallam [45].


24. Larangan Mencari Barang yang Hilang di Masjid Dan Mengumumkannya

Apabila didapati seseorang mengumumkan kehilangan di masjid, maka katakanlah, Mudah-mudahan Allah tidak mengembalikannya kepadamu. Sebagaimana sabda Rasululllah Shallallahualaihi Wasallam, Barangsiapa mendengar seseorang mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid, maka katakanlah, Mudah-mudahan Allah tidak mengembalikannya kepadamu. Sesungguhnya masjid-masjid tidak dibangun untuk ini [46].


25. Larangan Jual Beli di Masjid

Jika jual beli dilakukan di masjid, maka niscaya fungsi masjid akan berubah menjadi pasar dan tempat jual beli sehingga jatuhlah kehormatan masjid dengan sebab itu. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam, dari Abu Hurairah radhiallahuanhu bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda, apabila kalian melihat orang yang jual beli di dalam masjid maka katakanlah padanya, Semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual belimu! [47].


26. Larangan Mengganggu Orang Yang Beribadah di Masjid

Orang yang sedang menjalankan ibadah di dalam masjid membutuhkan ketenangan sehingga dilarang mengganggu kekhusyukan mereka, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Di antara kesalahan yang sering terjadi, membaca ayat secara nyaring di masjid sehingga mengganggu shalat dan bacaan orang lain [49].

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda, Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Alquran. Atau beliau berkata, Dalam shalat [50].


27. Larangan Berteriak Dan Membuat Gaduh di Masjid

Sebab, masjid dibangun bukan untuk ini. Demikian pula mengganggu dengan obrolan yang keras. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

Ketahuilah bahwa setiap kalian sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Maka dari itu, janganlah sebagian kalian menyakiti yang lain dan janganlah mengeraskan bacaan atas yang lain [51].

Apabila mengeraskan bacaan Alquran saja dilarang jika memang mengganggu orang lain yang sedang melakukan ibadah, lantas bagaimana kiranya jika mengganggu dengan suara-suara gaduh yang tidak bermanfaat?! Sungguh, di antara fenomena yang menyedihkan, sebagian orang terutama anak-anak muda tidak merasa salah membuat kegaduhan di masjid saat shalat berjamaah sedang berlangsung. Mereka asyik dengan obrolan yang tiada manfaatnya. Terkadang mereka sengaja menunggu imam rukuk, lalu lari tergopoh-gopoh dengan suara gaduh untuk mendapatkan rukuk bersama imam. Untuk yang seperti ini kita masih meragukan sahnya rakaat shalat tersebut karena mereka tidak membaca Al-Fatihah dalam keadaan sebenarnya mereka mampu.

Tetapi, mereka meninggalkannya dan justru mengganggu saudara-saudaranya yang sedang shalat. Hal ini berbeda dengan kondisi sahabat Abu Bakrah radhiallahuanhu yang ketika datang untuk shalat bersama Nabi Shallallahualaihi Wasallam didapatkannya beliau Shallallahualaihi Wasallam sedang rukuk lalu ia ikut rukuk bersamanya dan itu dianggap rakaat shalat yang sah.


28. Larangan Lewat di Dalam Masjid dengan Membawa Senjata Tajam

Janganlah seseorang membawa senjata tajam, seperti pisau, pedang, dan sebagainya ketika melewati masjid. Sebab hal itu dapat mengganggu seorang muslim bahkan bisa melukai seorang muslim. Terkecuali jika ia menutup mata pedang dengan tangannya atau dengan sesuatu.

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda,

Apabila salah seorang di antara kalian lewat di dalam masjid atau pasar kami dengan membawa lembing, maka hendaklah ia memegang mata lembing itu dengan tangannya sehingga ia tidak melukai orang muslim [52].


29. Larangan Lewat di Depan Orang Shalat

Harap diperhatikan ketika kita berjalan di dalam masjid, jangan sampai melewati di depan orang yang sedang shalat. Hendaklah orang yang lewat di depan orang yang shalat takut akan dosa yang diperbuatnya. Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda,



Seandainya orang yang lewat di depan orang yang shalat mengetahui (dosa) yang ditanggungnya, niscaya ia memilih untuk berhenti selama 40 (tahun), itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang sedang shalat [53].

Yang terlarang adalah lewat di depan orang yang shalat sendirian atau di depan imam. Adapun jika lewat di depan makmum maka tidak mengapa. Hal ini didasari oleh perbuatan Ibnu Abbas radhiallahuanhu ketika beliau menginjak usia balig. Beliau pernah lewat di sela-sela shaf jamaah yang diimami oleh Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam dengan menunggangi keledai betina, lalu turun melepaskan keledainya baru kemudian beliau bergabung dalam shaf. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkari perbuatan tersebut. Namun demikian, sebaiknya memilih jalan lain agar tidak lewat di depan shaf makmum [54].


30. Larangan melingkar di dalam masjid untuk berkumpul untuk kepentingan dunia

Terdapat larangan melingkar di dalam masjid (untuk berkumpul) demi kepentingan dunia semata. Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda,



Akan datang suatu masa kepada sekelompok orang, di mana mereka melingkar di dalam masjid untuk berkumpul dan mereka tidak mempunyai kepentingan kecuali dunia dan tidak ada bagi kepentingan apapun pada mereka maka janganlah duduk bersama mereka [55].


31. Larangan Keras Meludah Di Masjid

Masjid sebagai tempat yang paling dicintai oleh Allah Taala di muka bumi ini harus kita jaga kebersihannya. Oleh karena itu, dilarang meludah dan mengeluarkan dahak lalu membuangnya di dalam masjid, kecuali meludah di sapu tangan atau pakaiannya. Adapun di lantai masjid atau temboknya, hal ini dilarang. Nabi Shallallahualaihi Wasallam bersabda,



Meludah di masjid adalah suatu dosa, dan kafarat (untuk diampuninya) adalah dengan menimbun ludah tersebut [56].

Yang dimaksud menimbun ludah di sini adalah apabila lantai masjid itu dari tanah, pasir, atau semisalnya. Adapun jika lantai masjid itu berupa semen atau kapur, maka ia meludah di kainnya, tangannya, atau yang lain [57].

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam juga bersabda,

Janganlah salah seorang di antara kalian meludah ke arah kiblat, akan tetapi hendaknyaa ke arah kirinya atau ke bawah kakinya [58].


32. Keluar Masjid dengan Mendahulukan Kaki Kiri dan Membaca Doa

Apabila keluar masjid, hendaklah kita mendahulukan kaki kiri seraya berdoa. Dari Abu Humaid radhiallahuanhu atau dari Abu Usaid radhiallahuanhu dia berkata, Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda,



Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka hendaknya dia membaca, Allahummaftahli abwaaba rahmatika (Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu). Dan apabila keluar, hendaknya dia mengucapkan, Allahumma inni as-aluka min fadhlika (Ya Allah, aku meminta kurnia-Mu) [59].

Demikianlah akhir yang Allah Taala mudahkan kepada kami untuk menulis tentang adab-adab di masjid. Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang saleh dan selalu istiqamah di jalan-Nya. Amiin.
Alhamdulillahi Rabbil aalamiin.


Catatan Kaki

[1] QS. Al-Araf: 31.
[2] Al-Ikhtiyarot al-fiqhiyyah karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 4/24
[3] Tafsir Quran Adzhim karangan Imam Ibnu Katsir ( 2/195)
[4] HR. Bukhari no. 854 dan Muslim no. 1 564
[5] HR Bukhari dan Muslim dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam Irwaul Gholil no.547
[6] HR. Bukhari no 615
[7] HR Bukhari no 635 dan Muslim no 437
[8] Sebagian dari artikel Adab Shalat Berjamaah Di Masjid dalam Muslim.or.id
[9] HR.Ibnu Majah no 4002 dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani           dalam shahih Ibni Majah no. 3233
[10] HR. Tirmidzi dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib            no. 2019
[11] HR. Tirmidzi no. 3426 dan Abu Dawud no. 5095. Dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya              no. 2375 dan Syeikh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 2443
[12] HR. Bukhari no. 6316 dan Muslim no. 763.
[13] HR. Bukhari no.537 dan Muslim no. 714
[14] Adab ketika di masjid oleh Bustomi,MA. dan Adab Shalat Berjamaah Di Masjid dalam Muslim.or.id
[15] QS. Al-Hajj 32
[16] Al-Mughni karangan Ibnu Qudamah jilid 2 halaman 119
[17] HR Bukhari no 176 Muslim no 649
[18] Al-Mausuuatul Aadaab Al-Islamiyyah Abdul Aziz Bin Fathi As-Sayyid Nada hal 352-359
[19] HR Bukhari dan Muslim dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam kitab shahih targhib wattarhib        no. 326
[20] HR Abu Dawud no 1119 dari Ibnu Umar dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud               no. 990
[21] Al-Mausuuatul Aadaab Al-Islamiyyah Abdul Aziz Bin Fathi As-Sayyid Nada hal 352-359
[22] HR Abu Dawud dari Ibnu Umar dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam shahih Abi Dawud               no. 439
[23] HR Bukhari no442
[24] Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhari Jilid 1 halaman 694
[25] HR Bukhari no 475 dan Muslim no2100
[26] Fathul Ban Syarah Shohih al-Bukhari Jilid 1 halaman 729
[27] Musykilul Atsar jilid I halaman 294
[28] HR Bukhari no 386 dan Muslim no555
[29] Syarah Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi jilid 5 halaman 207
[30] HR Ibnu Majah no 3311 dan dinilai shahih oleh Syeikh AI-Albani dalam Mukhtasor Syamail                      Muhammadiyyah no. 139
[31] HR Bukhari no 5996 dan Muslim no.543
[32] Umdatul Qori jilid 2 halaman 501 dan Ats-Tsamar al-Mustathob jilid 2 halaman 761
[33] Ats-Tsamar al-Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab karya Syeikh Al-Albani jilid 2 halaman 585
[34] Shahih Sunan at-Tirmidzi jilid 2 halaman 6364 no1321
[35] Adab Ketika Di Masjid oleh Bustomi, MA.
[36] HR. al-Bukhari no 454
[37] Al-Mausuuatul Aadaab Al-Islamiyyah Abdul Aziz Bin Fathi As-Sayyid Nada hal 352-359
[38] HR. Ath-Thabrani dalam al-Kaabir jilid IX halaman 9489 dari IbnuMasud dan dinilai shahih oleh              Syeikh Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami, no.5896
[39] Dinilai hasan oleh Syeikh al-Albani dalam kitab Sisilatus Shahihah jilid 3 halaman 135
[40] HR Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam Shohih Al-Jami no 5895
[41] HR Al-Hakim dan at-Tirmidzi dalam an-Nawadzir dari Abu Darda ? sebgaimana terdapat dalam kitab        Shahih al- Jami no585
[42] HR An-Nasa-i dalam kitab sunan-nya jilid II halaman 32, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah,                        Ibnu Khuzaimah, Abu Yala, dan al-Baihaqi dalam al-Kubra dari Anas bin Malik radhiallahuanhu
[43] HR Abu Dawud no 862 dan al-Hakim (I/229) dan disetujui oleh adz-Dzahabi dari Abdurrahman bin            Syibl rahiallahuanhu
[44] Kanzul Ummal jilid VII halaman 458
[45] HR. Muslim no 655 dan dinilai shahih oleh Syeikh al-Albani dalam kitab shahih Ibni Maajah no599
[46] HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam                   at-Taliqot al-Hisan ala Shahih Ibni Hibban, no.1649
[47] HR Tirmidzi no 1321, Hakim jilid 2 halaman 56, dan beliau berkata: Shahih menurut syarat Imam              Muslim dan disetujuhi oleh Imam Adz-Zahabi dan Syeikh Al-Albani menilai shahih dalam                          Al-Irwa 1295
[48] Subulus Salam jilid 1 halaman 321 Lihat pula An-Nail al-Author jilid 1 halaman 455 dan Ats-Tsamar           al-Mustathob jliid 2 halaman 696
[49] al-Adzkar Imam an-Nawawi halaman 120
[50] HR Abu Daud no 1332 dan Ahmad no 430 dan dinilai shahih oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam          kitab Nata-ijul Afkar jilid 2 halaman 16
[51] HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihal-Jami
[52] HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiallahuanhu dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani            dalam shahih wa dhoif al-jami ashshoghir no.798
[53] HR Bukhari no 510 dan Muslim no1132
[54] HR Bukhari no 76 dan Muslim no504
[55] HR al-Hakim jilid 4 halaman 359 dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani
[56] Shahih al-Bukhari no40
[57] Lihat kitab Riyadhus Shalihin dalam bab an-Nahyu anil Bushaqfil Masjid


Referensi :

  1. Tafsir Al-Quran Al-Adzim, Imam Ibnu Katsir

  2. Kitab-Kitab Karangan Syaikh Nashiruddin Al-Albani Seperti Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah, Irwaul Gholil, Shohih Targhib Wat Tarhib

  3. Fathul Baari Fi Syarhi Shohi Al-Bukhari Karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqolaani

  4. Syarah Shahih Muslim Karya Imam Nawawi

  5. Al-Mausuuatul Aadaab Al-Islamiyyah Abdul Aziz Bin Fathi As-Sayyid Nada

  6. Ahkaam Al-Masaajid Fi Syariah Al-Islamiyyah, Ibrahim Bin Sholih Al-Hudhoiri

  7. Al-muslim wal masjid karya Ahmad Muslim Dadus

  8. Al Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz karya Syaikh Dr. Abdul Adzim Badawi

  9. Adab shalat berjamaah di masjid situs muslim.or.id

  10. Adab ketika di masjid oleh Hepi Andi Bustoni, MA

  11. Hisnul Muslim min Adzkari Al-Kitabi was Sunnah, Syeikh Said bin Ali Wahf Al-Qohthoni

Penulis: Afwan Awwab
Murajaah: Ust. Suhuf Subhan, M.Pd.I
Artikel Muslim.Or.id


a) Shalat Tahiyatul Masjid
b) Berjalan Menuju Masjid Dengan Tenang dan Sopan
c) Ketika Masuk Masjid Berdoa dan Mendahulukan Kaki Kanan
d) Semua Betul


(5) Bagaimana adab orang yang masbuk ?


http://myrahil.wordpress.com/2013/01/09/makmum-masbuk-mulainya-dari-mana/

Masbuk sendiri dalam pengertian awam adalah orang yang terlambat dalam mengikuti shalat berjamaah. Namun terlambat yang bagaimana? Ulama memiliki 2 (dua) pandangan. Pendapat pertama yaitu pendapat Jumhur Ulama yang menyatakan bahwa seorang makmum disebut masbuk itu apabila ia tertinggal ruku bersama imam. Jika seorang makmum mendapati imam sedang ruku, kemudian ia ruku bersama imam, maka ia mendapatkan satu rakaat dan tidak disebut masbuk. Dan gugurlah kewajiban membaca surat al-Fatihah. Dalil-dalil dari pendapat yang pertama adalah sebagai berikut:

{ 116 }116 }

Artinya: Siapa yang mendapatkan ruku, maka ia mendapatkan satu rakaat. (HR. Abu Dawud, FIqh Islam-Sulaiman Rasyid : 116)

: { 1 : 207 3 : 145}

Dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : Apabila kamu datang untuk shalat, padahal kami sedang sujud, maka bersujudlah, dan jangan kamu hitung sesuatu (satu rakaat) dan siapa yang mendapatkan ruku, berarti ia mendapat satu rakat dalam sholat (nya). ( H.R Abu Dawud 1 : 207, Aunul Mabud Syarah Sunan Abu Dawud 3 : 145 )

Jumhur Ulama berkata: Yang dimaksud dengan rakaat disini adalah ruku, maka yang mendapati imam sedang ruku kemudian ia ruku maka ia mendapatkan satu rakaat. (Al-Muin Al-Mubin 1 : 93, Aunul Mabud 3 : 145)

: { 2 : 381}

Sesungguhnya Abu Bakrah telah datang untuk solat bersama Nabi SAW (sedangkan) Nabi SAW dalam keadaan ruku, kemudian ia ruku sebelum sampai menuju shaf. Hal itu disampaikan kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW bersabda (kepadanya) : Semoga Allah menambahkan kesungguhanmu, tetapi jangan kamu ulangi lagi .

Sedangkan pendapat kedua mengatakan kalau seseorang itu masbuk pabila ia tertinggal bacaan surat Al-Fatihah. Ini adalah pendapat segolongan ulama.

Selanjutnya bagaimanakah cara masbuk yang benar dan dibenarkan oleh Nabi dan para ulama?
Apakah harus menunggu imam berdiri dahulu, atau kalau imam sedang tahyat akhir, baru mengikuti gerakan imam yang tahyat, atau mengikuti pada posisi mana imam saat makmum masbuk tsb memulai shalatnya.

Dalil Pertama:

Dari Abdul Aziz bin Rofi dari seorang laki-laki (yakni, Abdullah bin Mughoffal Al-Muzaniy) -radhiyallahu anhu- berkata, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

, ,

Jika kalian mendapati imam dalam keadaan berdiri atau ruku, atau sujud, atau duduk, maka lakukanlah sebagaimana engkau mendapatinya. Janganlah engkau memperhitungkan sujudnya, jika engkau tak mendapati rukunya. [HR. Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (2/281/no.3373), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/296/no. 3434), dan Al-Marwaziy dalam Masa'il Ahmad wa Ishaq (1/127/1) sebagaimana dalam Ash-Shohihah (1188)]

Faedah : Kata ( ) bisa bermakna rakaat, dan bisa juga bermakna ruku. Namun dalam riwayat hadits Abdullah bin Mughoffal ini, yang dimaksud adalah ruku. Hal itu dikuatkan oleh riwayat lain dari jalur Abdul Aziz bin Rofi di sisi Al-Baihaqiy dari Abdullah bin Mughoffal -radhiyallahu anhu-

Dalil kedua

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

, ,

Jika kalian datang, sedang imam ruku, maka rukulah. Jika ia sujud, maka bersujudlah, dan jangan perhitungkan sujudnya, jika tak ada ruku yang bersamanya. [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (2/89/no.2409)]


a) Ketika datang, imam sedang ruku, maka rukulah
b) Ketika datang, imam sedang sujud, maka sujud-lah
c) a dan b Betul
d) a dan b Salah


(6) Bagaimana adab kita dalam bertetangga ?


http://www.islampos.com/etika-bertetangga-dalam-islam-37036/
Etika Bertetangga Dalam Islam

ALLAH SWT. berfirman dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 36 yang artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

Dalam ayat di atas sangat jelas sekali bahwa Allah SWT. memerintahkan kita untuk tidak menyekutukan-Nya dan berbuat baik terhadap orang-orang yang berada disekitar kita termasuk kepada tetangga. Selain itu dalam menghormati tetangga pun sudah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang artinya : Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia mengatakan hanya hal yang baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tamunya (HR. Muslim)

Dari hadis di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa menghormati tetangga adalah bukti iman seorang muslim kepada Allah SWT. dan hari akhir. Melihat begitu pentingnya seorang Muslim untuk menghormati tetangganya, maka berikut ini ada beberapa adab yang bisa dipelajari dalam kehidupan bertetangga.


  1. Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. Rasulullah SAW. bersabda, sebagaimana didalam hadits Abu Hurairah ra : .Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya. (Muttafaqalaih)

  2. Pada saat membangun, hendaknya bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apalagi merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaannya.

  3. Hendaknya kita memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil dan hendaknya kita ulurkan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.

  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah SAW. telah bersabda: Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya. (Muttafaqalaih).

  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.

  6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah SAW. bersabda kepada Abu Dzarr: Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu. (HR. Muslim)

  7. Hendaknya kita turut bersuka cita dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita dalam duka mereka. Kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.

  8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

  9. Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah SAW. bersabda, Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah. Disebutkan di antaranya : Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya. (HR. Ahmad)

[ns/islampos/berbagaisumber]


a) Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka
b) Memelihara hak-hak tetangga disaat mereka tidak di rumah
c) Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu tetangga
d) Semua Betul


(7) Bagaimana sikap kita dalam menghadapi musibah ?


http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/sikap-seorang-muslim-dalam-menghadapi-musibah.html

Sebagai hamba Allh Taala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.

Allh Taala berfirman:

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Qs al-Anbiy/21:35)

Imam Ibnu Katsr rahimahullh berkata:

(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa.[1]


Kebahagiaan Hidup dengan Bertakwa Kepada Allah Taala

Allh Taala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.

Allh Taala berfirman:

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu. (Qs al-Anfl/8:24)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullh berkata:

(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allh Taala dan Rasul-Nya Shallallhu Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allh Taala dan Rasul-Nya Shallallhu Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allh Taala dan Rasul-Nya Shallallhu Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin[3].

Allh Taala berfirman:

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti) (Qs Hd/11:3)

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullh mengatakan:

Dalam ayat-ayat ini Allh Taala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat.[4]


Sikap Seorang Mukmin dalam Menghadapi Masalah

Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allh Taala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allh Taala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allh Taala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.

Dengan keyakinannya ini pula Allh Taala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allh Taala dalam firman-Nya:

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allh; barang siapa yang beriman kepada Allh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allh Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs at-Taghbun/64:11)

Imam Ibnu Katsr rahimahullh berkata:

Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allh Taala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allh Taala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allh Taala tersebut, maka Allh Taala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allh Taala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.[5]

Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.

Meskipun Allh Taala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allh Taala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullh mengatakan:

Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allh Taala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).

Sungguh Allh Taala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allh apa yang tidak mereka harapkan (Qs an-Nis/4:104).

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allh Taala.[6]


Hikmah Cobaan

Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allh Taala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allh Taala.

Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allh Taala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.

Dengan sikap ini, Allh Taala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allh Taala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:

Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku.[7]

Maknanya: Allh Taala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allh Taala.[8]

Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:

  1. Allh Taala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allh Taala. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allh Taala[9].

  2. Allh Taala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allh Taala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.[10]
    Inilah makna sabda Raslullh Shallallhu Alaihi Wasallam :

    Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.[11]

  3. Allh Taala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allh Taala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia. Allh Taala menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.[12]
    Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Raslullh Shallallhu Alaihi Wasallam :

    Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.[13]

Penutup

Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang disampaikan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullh tentang gambaran kehidupan guru beliau, imam Ahlus sunnah wal jamaah di jamannya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullh. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang Mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allh Taala takdirkan bagi dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullh berkata:

Dan Allh Taala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah rahimahullh). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allh Taala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi di sisi lain (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya.

Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah rahimahullh), jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat).

Dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.[14]

[1] Tafsr Ibnu Katsr (5/342- cet Dru Thayyibah).
[2] Lihat Tafsr Ibnu Katsr (4/34).
[3] Kitab Al-Faw-id (hal 121- cet. Muassasatu Ummil Qura)
[4] Al-Wbilush Shayyib (hal 67- cet. Drul Kitbil Arabi).
[5] Tafsr Ibnu Katsr (8/137)
[6] Ightsatul Lahfn (hal 421-422 Mawridul Amn)
[7] HR al-Bukhri (no 7066- cet. Dru Ibni Katsr) dan Muslim (no 2675)
[8] Lihat kitab Faidhul Qadr (2/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7/53)
[9] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ightsatul Lahfn (hal 422 Mawridul Amn)
[10] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullh dalam Ightsatul Lahfn (hal 424 Mawridul           Amn)
[11] HR Muslim (no 2999)
[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ightsatul lahfn (hal 423 Mawridul amn), dan imam       Ibnu Rajab dalam Jmiul Ulmi wal Hikam (hal 461- cet. Dr Ibni Hazm).
[13] HR al-Bukhri (no. 6053)
[14] Kitab Al-Wbilush Shayyib (hal 67- cet. Drul Kitbil Arabi)

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A
Artikel www.muslim.or.id


a) Bersabar
b) Tunduk dan Berserah Diri kepada Ketentuan Allah
c) Mengharapkan Balasan Pahala dari Allh
d) Semua Betul


(8) Bagaimana sikap kita ketika mendengar adzan ?


https://id-id.facebook.com/notes/sifat-sholat-nabi/tuntunan-mendengarkan-adzan/162872570417695
Tuntunan Mendengarkan Adzan
Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Ada beberapa perkara yang semestinya dilakukan oleh yang mendengar adzan.


PERTAMA:

Ia mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin (menjawab adzan), namun tidak dengan suara keras seperti suaranya muadzin, karena muadzin menyeru/memberitahu orang lain sedangkan dia hanya menjawab muadzin. (Asy-Syarhul Mumti, 2/83)

Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin. (HR. Al-Bukhari no. 611 dan Muslim no. 846).

Ketika muadzin sampai pada pengucapan hayalatani yaitu kalimat: "Hayya 'alash shalah" dan "Hayya 'alal Falah" disenangi baginya untuk menjawab dengan hauqalah yaitu kalimat: "Laa hawla wala Quwwata illa Billah" sebagaimana ditunjukkan dalam hadits riwayat Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu.

Ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Apabila muadzin mengatakan, Allahu Akbar Allahu Akbar, maka salah seorang dari kalian mengatakan, Allahu Akbar Allahu Akbar.
Kemudian muadzin mengatakan, Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah, maka dikatakan, Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.
Muadzin mengatakan setelah itu, Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah, maka dijawab, Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.
Saat muadzin mengatakan, Hayya Alash Shalah, maka dikatakan, La Haula wala Quwwata illa billah.
Saat muadzin mengatakan, Hayya Alal Falah, maka dikatakan, La Haula wala Quwwata illa billah.
Kemudian muadzin berkata, Allahu Akbar Allahu Akbar, maka si pendengar pun mengatakan, Allahu Akbar Allahu Akbar.
Di akhirnya muadzin berkata, La Ilaaha illallah, ia pun mengatakan, La Ilaaha illallah

Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga.
(HR. Muslim no. 848)

Namun boleh juga dia menjawabnya sebagaimana lafadz muadzin dengan hayalatani berdasarkan hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu yang telah kita sebutkan di atas.

Al-Imam Ibnul Mundzir rahimahullahu menyatakan, Ini termasuk ikhtilaf atau perbedaan yang mubah. Bila seseorang menghendaki maka ia mengucapkan sebagaimana ucapan muadzin, dan kalau mau ia mengucapkan sebagaimana dalam riwayat Muawiyah ibnu Abi Sufyan radhiyallahu anhuma. Yang mana saja ia ucapkan, maka ia benar. (Al-Ausath, 4/30)

Jawaban Ketika Muadzin Berkata dalam Adzan Subuh Ash-Shalatu Khairun minan Naum

Lahiriah dari ucapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin, adalah kita mengucapkan kalimat yang sama dengan muadzin, Ash-Shalatu khairun minan naum. Inilah pendapat yang shahih.

Adapun menjawabnya dengan: Artinya: Engkau benar dan engkau telah berbuat baik, adalah pendapat yang lemah tidak bersandar dengan dalil. (Asy-Syarhul Mumti, 2/92)

Ganjaran Surga bagi yang Menjawab Adzan dengan Yakin

Siapa yang menjawab adzan dengan meyakini apa yang diucapkannya maka dia mendapat janji surga dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Ia berkata:

Pernah ketika kami sedang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Bilal bangkit untuk menyerukan adzan. Tatkala Bilal diam, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Siapa yang mengucapkan seperti ucapannya muadzin disertai dengan keyakinan maka ia pasti masuk surga. (HR. An-Nasai no. 674, dihasankan Al-Imam Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan An-Nasai)

Hukum Menjawab Adzan

Tentang hukum menjawab adzan ini, ulama berbeda pendapat. Sebagian Hanafiyyah, ahlu zahir, Ibnu Wahb, dan yang lainnya berpendapat wajib menjawab adzan bagi yang mendengar adzan, dengan mengambil lahiriah hadits yang datang dengan lafadz perintah, sedangkan perintah menunjukkan wajib.

Adapun jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah, tidak wajib, dengan dalil hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu yang menyebutkan bahwasanya:

(Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) pernah mendengar seseorang yang adzan mengatakan, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Rasulullah menjawab, Dia di atas fithrah. Kemudian muadzin itu berkata, Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah. Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah. Rasulullah berkata, Engkau keluar dari neraka. (HR. Muslim no. 845)

Dalam hadits di atas, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan ucapan yang berbeda dengan muadzin, berarti mengikuti ucapan muadzin tidaklah wajib.

Dalil lainnya adalah ucapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada Malik ibnul Huwairits dan teman-temannya:

Apabila datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian menyerukan adzan untuk kalian. (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak mengatakan, Hendaklah orang lain yang mendengarnya mengikuti adzan tersebut. Seandainya menjawab adzan itu wajib niscaya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak akan menunda keterangannya dari waktu yang dibutuhkan. Karena, ketika itu beliau tengah memberikan pengajaran kepada Malik dan teman-temannya. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 2/195, Asy-Syarhul Mumti, 2/82,83)

Al-Imam Malik rahimahullahu dalam Al-Muwaththa (no. 236), meriwayatkan bahwa Tsalabah ibnu Abi Malik Al-Qurazhi menyatakan mereka dulunya di zaman Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu mengerjakan shalat pada hari Jumat hingga Umar keluar dari rumahnya masuk ke masjid. Bila Umar telah masuk masjid dan duduk di atas mimbar, muadzin pun mengumandangkan adzan. Kata Tsalabah, Kami duduk sambil berbincang-bincang. Ketika muadzin telah selesai dari adzannya dan Umar berdiri untuk berkhutbah, kami pun diam mendengarkan. Tak ada seorang dari kami yang berbicara. Seandainya menjawab adzan itu wajib niscaya mereka akan mengikuti ucapan muadzin dan tidak berbicara yang lain.

Demikian juga diriwayatkan oleh Ibnu Sad rahimahullahu, dari Musa ibnu Thalhah ibnu Ubaidullah, ia berkata, Aku melihat Utsman ibnu Affan radhiyallahu anhu berbincang-bincang dengan orang-orang menanyakan dan meminta informasi dari mereka tentang harga dan berita-berita lainnya, padahal ketika itu muadzin sedang menyerukan adzan. (Sanadnya shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, Ats-Tsamar 1/180)

Pendapat jumhur inilah yang kami pilih, wallahu taala alam. Akan tetapi yang perlu kita camkan walaupun hukumnya sunnah bukan berarti ketika diserukan adzan tanpa ada kepentingan ataupun hajat kemudian ditinggalkan begitu saja dan tidak diamalkan dari menjawabnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia pada hari ini, wallahul mustaan. (Syarhu Maanil Atsar 1/188-189, Al-Muhalla 2/184, Badaiush Shanai 1/486, Subulus Salam 2/62, Nailul Authar 1/511)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: Sunnah menjawab adzan ini berlaku bagi orang yang di atas thaharah, bagi yang berhadats, orang junub, wanita haid, dan selain mereka, selama tidak ada penghalang untuk menjawabnya, seperti sedang menunaikan hajat di WC, sedang berhubungan intim dengan istrinya, atau sedang mengerjakan shalat. (Al-Minhaj 4/309 dan Al-Majmu 3/125)

Faedah Zikir muqayyad memutuskan zikir muthlaq, walaupun dalam posisi zikir muthlaq tersebut lebih afdal daripada zikir muqayyad. Yang dimaksud zikir muqayyad adalah zikir yang waktunya khusus/tertentu, sedangkan zikir muthlaq tidak ada penentuan waktunya. Sehingga bila engkau mendengar muadzin sementara engkau sedang membaca Al-Quran maka yang utama engkau mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, walaupun engkau harus berhenti dari membaca Al-Quran.

Karena menjawab adzan ini merupakan zikir muqayyad dengan waktu yang khusus, sedangkan membaca Al-Quran tidak memiliki waktu khusus, kapan engkau mau, engkau bisa membacanya2. (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, bab Al-Adzan,

Masalah: Wa Yustahabbu liman Samial Muadzdzin An Yaqula kama Yaqulu,

Tidak dibolehkan menjamak/mengumpulkan antara membaca Al-Quran dengan menjawab adzan. Karena kalau kita membaca Al-Quran, kita akan terlalaikan dari mendengar adzan. Sebaliknya bila kita mengikuti ucapannya muadzin, kita terlalaikan dari membaca Al-Quran. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/196,197)

Menjawab Adzan Bagi Seseorang Yang Sedang Shalat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam Al-Ikhtiyarat (hal. 39) memandang, bagi seorang yang sedang shalat ketika mendengar adzan untuk menjawabnya karena keumuman perintah yang ada di dalam hadits. Juga, menjawab adzan muadzin termasuk zikir yang tidak bertentangan dengan shalat. Akan tetapi pendapat yang masyhur dalam madzhab Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan yang lainnya adalah ia tidak menjawab adzan yang didengarnya. Inilah pendapat yang shahih. Karena adzan merupakan zikir panjang yang dapat membuat orang yang shalat tersibukkan dari shalatnya. Sementara dalam shalat ada kesibukan tersendiri, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: Sesungguhnya dalam shalat itu ada kesibukan. (HR. Al-Bukhari no. 1199 dan Muslim no. 1201).

Orang yang sedang shalat disibukkan dengan zikir-zikir shalat. Beda halnya zikir yang pendek, cuma satu kalimat, misalnya mengucapkan alhamdulillah ketika bersin dalam keadaan ia sedang shalat. Sementara adzan terdiri dari banyak kalimat, yang jelas akan memutus konsentrasi seseorang dari shalatnya karena ia harus diam mendengarkan apa yang diucapkan muadzin untuk kemudian diikutinya. Padahal bila ia shalat bersama imam, tidak sepantasnya ia diam mendengar kecuali terhadap bacaan imam saja. Sehingga pendapat yang shahih adalah orang yang sedang shalat tidak menjawab adzan. (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, bab Al-Adzan, Masalah: Wa Yustahabbu liman Samial Muadzdzin An Yaqula kama Yaqulu; Asy-Syarhul Mumti, 2/84)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata, Madzhab kami yang masyhur adalah dibenci bagi orang shalat mengikuti (menjawab) adzan, sama saja baik shalatnya fardhu ataukah nafilah (sunnah). Demikian pendapat sekelompok salaf. Al-Imam Malik rahimahullahu memiliki tiga pendapat/riwayat dalam masalah ini, salah satunya adalah ia mengikuti muadzin. Pendapat keduanya adalah ia mengikuti/menjawab saat adzan hanya dalam shalat nafilah, namun tidak boleh dalam shalat fardhu. (Al-Majmu, 3/127)

Bila Terdengar Beberapa Adzan Dari Beberapa Masjid

Bila terdengar adzan dari beberapa masjid maka adzan manakah yang kita jawab?

Hadits dalam masalah menjawab adzan menyebutkan secara mutlak, Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin. Tidak ada pembatasan muadzin yang pertama atau muadzin yang kesekian, atau muadzin di masjid yang dekat dengan rumah kalian. Berarti menjawab adzan ini berlaku untuk semua adzan yang didengar. Misalnya muadzin di satu masjid adzan, kita menjawabnya sampai selesai adzan tersebut. Lalu terdengar adzan lagi dari masjid yang lain, kita jawab lagi sampai selesai. Demikian seterusnya.

Akan tetapi bila adzan-adzan tersebut saling bersusulan (bersahut-sahutan) maka kita meneruskan untuk menjawab adzan yang pertama kali kita jawab sebelum terdengar adzan yang lain. Namun bila ternyata adzan yang belakangan lebih keras dan lebih jelas sehingga adzan yang pertama kita dengar terkadang tertutupi (tidak terdengar), maka kita mengikuti adzan yang kedua. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/198-199)

Hukum Berbicara Di Sela-Sela Menjawab Adzan

Tidak ada larangan berbicara di sela-sela menjawab adzan, namun lebih utama ia diam mendengarkan dan menjawabnya. Beda halnya bila ia sedang membaca Al-Quran, ia tidak boleh menjawab adzan di sela-sela bacaannya sehingga tercampur antara suatu zikir yang bukan bagian dari Al-Quran dengan ayat-ayat Al-Quran. Yang semestinya, ia menghentikan bacaan Al-Qurannya untuk menjawab adzan. (Fatwa Asy-Syaikh Abdullah ibnu Abdirrahman rahimahullahu, seorang alim dari negeri Najd, Ad-Durarus Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyyah 4/213, 214).


KEDUA:

Perkara berikutnya yang disunnahkan bagi orang yang mendengar adzan adalah bila selesai menjawab adzan, ia bershalawat untuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan dalil hadits riwayat Abdullah ibnu Amr ibnul Ash radhiyallahu anhuma.

Ia pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin, kemudian (Sesudah Adzan) bershalawatlah untukku, karena siapa yang bershalawat untukku niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian ia meminta kepada Allah al-wasilah atasku, karena al-wasilah ini merupakan sebuah tempat/kedudukan di surga, di mana tidak pantas tempat tersebut dimiliki kecuali untuk seseorang dari hamba Allah dan aku berharap, akulah orangnya. Siapa yang memintakan al-wasilah untukku maka ia pasti beroleh syafaat. (HR. Muslim no. 847)

Ada beberapa lafadz shalawat, di antaranya yang paling ringkas adalah:



Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad. Berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau bershalawat dan memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Adapun yang kita dapati hari ini berupa menyuarakan shalawat yang dilakukan oleh muadzin lewat mikrofon sebelum maupun setelah adzan, maka perbuatan tersebut bidah. Tidak pernah terjadi pada masa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Al-Khulafa Ar-Rasyidin, maupun seluruh sahabat. Selain itu, ini akan disangka merupakan bagian dari adzan, sementara menambah lafadz adzan tidak diperkenankan dalam syariat. Seandainya itu baik, tentu salaf akan mendahului kita melakukannya dan akan diajarkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/89, 90, 109, 110 dan Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwiah, 10/363)

Tidak disyariatkan pula mengucapkan taawudz (ucapan audzu billahi minasy syaithanir rajim) dan basmalah sebelum adzan, baik bagi muadzin maupun orang yang mendengarkan adzan. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah, 6/101)


KETIGA:

Setelah bershalawat, orang yang mendengar adzan memohon al-wasilah untuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan dalil hadits Abdullah ibnu Amr ibnul Ash radhiyallahu anhuma. Adapun doa memohon al-wasilah sebagaimana dalam hadits Jabir radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

:

Siapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan doa, Ya Allah! Wahai Rabbnya seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan ini, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah beliau pada tempat yang dipuji (maqam mahmud) yang telah Engkau janjikan kepadanya, niscaya ia pasti akan beroleh syafaatku pada hari kiamat. (HR. Al-Bukhari no. 614, 4719)

Faedah

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah hamba yang paling besar ubudiyyah (penghambaan/ pengabdian)nya kepada Rabbnya, paling berilmu tentang Rabbnya, paling takut dan paling besar cintanya kepada Rabbnya. Maka kedudukan beliau paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Taala, yaitu menempati derajat paling tinggi di surga.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umat beliau agar memohonkan untuk beliau derajat tinggi tersebut, yang dengan doa itu mereka akan beroleh kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Taala dan tambahan iman.

Juga Allah Subhanahu wa Taala menakdirkan derajat tersebut untuk beliau dengan sebab-sebab, di antaranya adalah doa umatnya untuk beliau agar mendapatkan derajat tersebut. Memang sepantasnya bagi umat ini mendoakan Nabi mereka, karena mereka bisa mengenal iman dan mengetahui petunjuk melalui tangan beliau.

Semoga Allah Subhanahu wa Taala memberikan shalawat dan salam kepada beliau. (Hadil Arwah 1/134)


KEEMPAT:

Setelah itu, ia berdoa dengan doa apa saja yang ia inginkan terkait perkara dunia dan akhiratnya, niscaya akan diberikan permintaannya. Tatkala ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

Wahai Rasulullah! Para muadzin melebihi kami. Rasulullah bersabda, Ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin. Bila engkau telah selesai (menjawab adzan), mintalah niscaya engkau akan diberi. (HR. Abu Dawud no. 524, hadits ini hasan shahih kata Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

Ada dua doa yang tidak ditolak (atau sedikit sekali ditolak) yaitu doa setelah adzan dan doa ketika perang saat sebagian mereka merapat dengan sebagian yang lain. (HR. Abu Dawud no. 2540, hadits ini dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Dikabarkan pula oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahwa waktu terkabulnya doa adalah antara adzan dan iqamat, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas ibnu Malik radhiyallahu anhu secara marfu:

Sesungguhnya doa di antara adzan dan iqamat tidak ditolak, maka berdoalah kalian. (HR. Ahmad 3/155, berkata Al-Imam Al-Albani rahimahullahu: sanadnya shahih, perawinya rijal shahih selain perawi yang bernama Buraid ibnu Abi Maryam, ia disepakati ketsiqahannya. Ats-Tsamar 1/198)

Saat yang demikian ini merupakan salah satu saat terkabulnya doa dan dibukanya pintu-pintu langit. (Al-Ikmal, 2/253)

Dibolehkan baginya untuk mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, karena mengangkat tangan ketika berdoa adalah perkara yang diizinkan oleh syariat. Ketika berdoa, dia tidak mengeraskan suaranya. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah, 6/91-92)

Adapun mengusap wajah ketika selesai berdoa, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullahu:

Apabila engkau berdoa, maka berdoalah kepada Allah dengan kedua telapak tanganmu dan jangan berdoa dengan punggung tanganmu. Lalu jika engkau telah selesai, usaplah wajahmu dengan kedua telapak tanganmu

maka hadits ini lemah, karena kelemahan Shalih bin Hassan, seorang perawinya. Dia didhaifkan oleh Al-Imam Ahmad, Ibnu Main, Abu Hatim, dan Ad-Daruquthni rahimahumullah.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu mengatakan tentangnya: Munkarul hadits. Begitu pula hadits lain yang berkaitan mengusap wajah yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu, dalam sanadnya ada Hammad bin Isa, dia bersendiri dalam meriwayatkan hadits dan dia seorang rawi yang lemah. Sehingga mengusap wajah setelah berdoa tidak benar penukilannya, baik dari sunnah qauliyyah ataupun amaliyyah. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/94-95) Wallahu taala alam bish-shawab.

  1. Dalam hadits Mu'awiyah radhiyallahu anhu disebutkan bahwa Mu'awiyah menjawab ucapan hay'alatani dengan hauqalah.

  2. Contoh yang lain dari penerapan kaidah di atas: ketika mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai maka yang diajarkan dalam As-Sunnah adalah berta'awudz (meminta perlindungan) kepada Allah Subhanahu wa Taala dari setan.

    Bila saat itu engkau sedang membaca Al-Quran, maka putuskanlah (sejenak) bacaanmu dan berlindunglah kepada Allah Subhanahu wa Taala dari setan yang terkutuk. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/197)

  3. Shalawat ini disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bagaimana lafadz shalawat, beliau pun mengajarkan lafadz-lafadz ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thahawi rahimahullahu (3/75), kata Al-Imam Al-Albani rahimahullahu: Hadits ini sanadnya shahih di atas syarat Muslim. (Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, 3/927)

  4. Allah Subhanahu wa Taala menjanjikan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk membangkitkan beliau pada maqam mahmud ini sebagaimana dalam firman-Nya:

    Ǔ

    "Mudah-mudahan Rabbmu membangkitkanmu pada maqam mahmud/tempat yang dipuji. (Al-Isra: 79).

www.almanhaj.or.id


a) Berbicara ketika mendengarkan adzan
b) Ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin
c) Ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin, kecuali pada adzan shubuh
d) Semua Salah


(9) Bagaimana adab kita terhadap binatang ?


http://fadhlihsan.wordpress.com/2014/02/26/adab-adab-islami-terhadap-binatang/
Adab-Adab Islami Terhadap Binatang

Kaum muslimin telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Taala untuk berakhlak mulia kepada siapa saja. Tak terkecuali terhadap hewan. Sebab, hewan juga merupakan salah satu makhluk Allah yang memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik. Kecuali beberapa jenis hewan yang memang sangat bermadharat bagi manusia.
Apalagi, hewan tersebut adalah hewan yang membantu kemaslahatan hidup. Maka sikap ihsan kepada mereka adalah suatu kewajiban. Nah, bagaimanakah bentuk ihsan tersebut? Berikut ini diantaranya.

  1. Bersikap rahmah (kasih sayang) kepada mereka

    Rahmah dalam pergaulan mutlak diperlukan dalam kehidupan kita. Sampai pun terhadap hewan-hewan di sekitar kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya,

    Pada setiap yang mempunyai hati yang basah (hidup) itu terdapat pahala (dalam berbuat baik kepadanya). (HR. Al-Bukhari)

    Lebih tegas lagi beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya,

    Barangsiapa yang tidak berbelas kasih niscaya tidak dibelaskasihi. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Dengan lafazh perintah, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya,

    Sayangilah siapa yang ada di bumi ini, niscaya kalian dikasihani oleh Yang ada di langit. (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash Shahihah)

    Demikianlah keutamaan kasih sayang kepada makhluk lainnya. Suatu perkara yang akan menyebabkan pemiliknya diberi pahala, dan kasih sayang dari Allah Subhanahu wa Taala.

  2. Memberikan hak-hak binatang peliharaan

    Termasuk dari hak binatang peliharaan adalah mendapatkan makan dan minum. Apalagi bila hewan-hewan tersebut dikurung, diikat, dan semisalnya, yang tidak bisa mencari makan dan minum sendiri. Maka, tidak menunaikan hak binatang atau mengurangi porsi yang semestinya ditunaikan dalam hal ini merupakan bentuk kemaksiatan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

    Seorang wanita masuk neraka dengan sebab kucing yang ia ikat. Ia tidak memberinya makan, tidak pula melepaskannya agar ia dapat memakan hewan-hewan di tanah. (HR. Al-Bukhari dari shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma)

  3. Tidak menjadikan hewan sebagai sasaran tembak/memanah

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika melihat sebagian shahabat menjadikan burung sebagai sasaran memanah, (artinya):

    Allah melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran bidik. (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

    Dalam hadits lain:

    Janganlah kalian jadikan sesuatu yang memiliki ruh (makhluk bernyawa) sebagai sasaran bidik. (HR. Muslim dari shahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma)

    Menjadikan hewan sebagai sasaran memanah, menembak, dan semisalnya, tanpa tujuan yang hak merupakan bentuk kezaliman. Oleh karenanya, Allah Subhanallahu wa Taala melaknat pelakunya. Adapun dengan tujuan berburu, semisal memanah hewan yang masih liar, yang tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan memanah, maka hal ini bukanlah termasuk larangan dalam hadits ini.

  4. Berbuat baik dalam menyembelih atau membunuhnya

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

    Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan (berbuat baik) atas segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh, hendaklah berlaku ihsan dalam pembunuhan, dan apabila kalian menyembelih, hendaklah berlaku baik di dalam penyembelihan. Hendaklah salah seorang kalian membuat tenang sembelihannya, dan hendaklah ia mempertajam mata pisaunya. (HR. Muslim)

    Termasuk perbuatan baik ketika menyembelih adalah tidak mengasah pisau di depan hewan tersebut. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melewati seorang yang meletakkan kakinya di atas perut kambing sambil mengasah pisau, sedang kambing itu melihatnya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya,

    Mengapa engkau tidak melakukannya sebelum ini? Apakah engkau hendak membuatnya mati dua kali? (HR. Ath-Thabarani dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma dan dihasankan oleh Al Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah)

    Demikian pula kita dilarang membunuh hewan dengan cara menyiksa. Seperti menusuk dengan besi panas sampai mati, membenamkan ke dalam air, membakar, meracuni dengan gas beracun, mencekik, dan segala perkara yang keluar dari makna ihsan dalam membunuh.

  5. Tidak menyiksanya dengan cara apapun

    Seperti memukuli, membebani dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnya.

    Suatu ketika dalam sebuah safar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat sarang semut yang telah dibakar oleh sebagian shahabat. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, Siapakah yang membakarnya? Kami pun menjawab, Kami, ya Rasulullah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    Sesungguhnya tidak semestinya menyiksa dengan api selain Rabb pemilik api. (HR. Abu Dawud dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah)

    Dalam hadits lain yang diriwayatkan Abu Dawud disebutkan, suatu saat Rasulullag shallallahu alaihi wasallam memasuki sebuah kebun milik seorang shahabat Anshar. Di kebun itu terdapat seekor unta, yang tiba-tiba mengeluarkan air mata ketika melihat Rasulullah shallallahu alahi wasallam. Akhirnya beliau bertanya, Siapa pemilik unta ini? Saat itu seorang pemuda datang dengan mengatakan, Saya, wahai Rasulullah. Beliau shallallahu alaihi wasallam pun menyampaikan,

    Apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini? Sesungguhnya ia mengadu kepadaku, bahwa engkau membiarkannya lapar dan terus-menerus memaksanya bekerja. (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah)

  6. Boleh membunuh hewan yang mengganggu

    Ada beberapa hewan yang diperbolehkan syariat untuk dibunuh. Hewan-hewan itu seperti anjing buas, ular, kalajengking, tikus, gagak, rajawali, cicak/tokek, dan sebagainya. Hewan-hewan ini adalah hewan yang bermudharat bagi manusia, atau karena suatu hikmah Allah yang tidak kita ketahui. Oleh karenanya, demi kemaslahatan, diperbolehkan bahkan diperintahkan membunuh hewan-hewan tersebut.

Nah, demikianlah sekelumit adab terhadap binatang semoga bermanfaat.

Penulis: Hammam
Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 28 vol. 03/1434 H/2013 M, hal. 56-60.


a) Perlakukan seperti binatang
b) Binatang yang berbahaya boleh dijadikan sasaran tembak/panah
c) Bersikap rahmah (kasih sayang) kepada mereka
d) Binatang yang berbahaya boleh disiksa


(10) Bolehkah kita pacaran ?


http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/14/03/05/n1ymlm-bolehkah-pacaran-dalam-islam-1
Bolehkah Pacaran dalam Islam? (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Pada dasarnya segala macam muamalah dibolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya. Begitu pula dengan pacaran.

Pada dasarnya pacaran sebagai sebuah bentuk sosialisasi dibolehkan selama tidak menjurus pada tindakan yang jelas-jelas dilarang oleh syara. Yaitu pacaran yang dapat mendekatkan para pelakunya pada perzinahan. Demikian ditegaskan dalam surah al-Isra ayat 32: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk

Hal ini sangat sinkkron dengan hadis Rasulullah SAW yang seolah menjelaskan model tindakan yang dapat mendekatkan seseorang dalam perzinahan.

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW berkhutbah: Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali beserta ada mahramnya. (Muttafaq alaih).

Rasulullah SAW secara tidak langsung telah memberikan rambu-rambu kepada umatnya mengenai model hubungan laki-laki dan perempuan yang terlarang. Pelarangan itu demi menghindarkan seseorang terjerumus dalam perzinahan. Karena pada umumnya perzinahan bermula dari situasi berduaan.

Demikianlah dasar hukum dilarangnya pacaran, jika yang dimaksud dengan pacaran itu adalah pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan, bersuka-sukaan mencapai apa yang disenangi mereka, sebagaimana yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karya Purwodarminto.

Akan tetapi berbeda hukumnya jika yang dimaksud dengan pacaran adalah upaya saling mengenal menjajaki kemungkinan untuk menjalin pernikahan dalam momentum khitbah melamar.

Karena sesungguhnya hal itu sama seperti mendukung anjuran Rasulullah SAW terhadap generasi muda Muslim untuk menikah, sebagai solusi menghindarkan diri dari perzinahan.

Dari Ibnu Masud RA berkata, Rasulullah saw mengatakan kepada kami, Hai sekalian pemuda, barang siapa diantara kamu yang telah sanggup melaksanakan akad nikah, hendaklah melaksanakannya. Maka sesungguhnya melakukan akad nikah itu (dapat) menjaga pandangan dan memelihara farj (kemaluan), dan barangsiapa yang belum sanggup hendaklah ia berpuasa (sunah), maka sesunguhnya puasa itu perisai baginya. (Muttafaq alaih).


http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/14/03/05/n1ymql-bolehkah-pacaran-dalam-islam-2habis
Bolehkah Pacaran dalam Islam? (2-habis)

REPUBLIKA.CO.ID, Begitu juga sebaliknya, Rasulullah SAW dengan gamblang mengancam siapa pun yang tidak mengikuti sunahnya (termasuk di dalamnya menikah) sebagai keluar dari golongannya.

Demikian ketegasan Rasulullah saw tercermin dalam hadis: tetapi aku, sesungguhnya aku shalat, tidur, berbuka dan mengawini perempuan, maka barangsiapa yang benci sunahku maka ia bukanlah dari golonganku.

Kedua hadis ini menjelaskan posisi pentingnya sebuah pernikahan bagi seorang. Sehingga Rasulullah sendiri membuat anjuran sekaligus ancaman. Oleh karena itulah pacaran dengan arti meminang atau melamar dalam upaya mencari kesepahaman demi menuju jenjang pernikahan dalam Islam dibolehkan.

Karena kesempatan seorang Muslim memandang muka dan telapak tangan perempuan lain bukan muhrim hanya dalam momen khitbah, tidak pada saat yang lain. Demikian keterangan dalam At-Tahdzib fi Adillati Matnil Ghayah wat Taqrib.

Keempat (dari tujuh macam pandangan laki-laki terhadap wanita) melihat untuk maksud menikahi. Diperbolehkan memandang muka dan telapak tangannya.

Demikian Rasulullah SAW juga mengajarkan perlunya perkenalan dan menganjurkannya walau dalam waktu yang singkat sebagaimana pengalaman al-Mughirah bin Syubah ketika meminang seorang perempuan, maka Rasulullah berkomentar kepadanya: Lihatlah dia (wanita itu), sesungguhnya melihat itu lebih pantas (dilakukan) untuk dijadikan lauknya cinta untuk kalian berdua.

Oleh karena itu, segala macam bentuk pacaran tidak dapat dibenarkan kecuali jika pacaran yang bermakna khitbah yang membolehkan seorang lelaki hanya memandang muka dan telapak tangan perempuan, tidak lebih. Artinya tidak melebihi dari muka dan telapak tangan, tidak melebihi saat khitbah, dan juga tidak melebihi dari memandang itu sendiri.


a) Boleh kecuali sudah punya istri/suami
b) Tidak Boleh
c) Tidak boleh kecuali jika pacaran yang bermakna khitbah
d) Boleh kalau sudah dewasa



KLIK LINK DIBAWAH INI UNTUK :



~ QUIZ AKHLAK 3 VERSI FLASH ~


 

 
 

Halaman 1 |  Halaman 2 |  Halaman 3 |  Halaman 4 ]


Bacaan Shalat |  Doa & Niat |  Fiqih |  Pengetahuan Keislaman |  Surat Pendek |  Tajwid |  Tauhid ]