Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Apakah kita rela berpisah dengan seseorang atau sesuatu yang sangat kita sayangi demi cinta kita kepada Allah? Mungkin sulit. Tapi apa yang saya tulis ini adalah kisah-kisah yang selalu saya jadikan teladan dan motivator. Meski yang nulis bukan profesional tapi jika anda mau, silahkan baca!

Ketika Thufail bin Amr Ad Dausi tiba di Makkah, maka orang-orang Quraisy berkata kepadanya: "Wahai Thufail, engkau telah tiba di negeri kami, sementara Muhammad yang ada di antara kami telah memecah-belah persatuan kami. Perkataannya seperti sihir yang memisahkan anak dengan ayahnya, memisahkan seseorang dengan saudaranya, memisahkan seseorang dengan istrinya. Kami hanya sekedar khawatir atas dirimu dan kaum mu seperti yang telah kami alami. Maka, janganlah sekali-kali engkau berbicara dengannya dan mendengar perkataannya.

Walid bin Mughirah pernah berkata: "…Di antara perkataan kalian yang paling mendekati kebenaran adalah bahwa ia (Muhammad) merupakan tukang sihir, yaitu orang yang menyampaikan perkataan yang dapat mempengaruhi seseorang untuk meninggalkan bapaknya, saudaranya, istrinya, atau keluarganya".

Perkataan Walid di atas ada yang benar, dan ada pula yang salah. Yang salah adalah bahwa Rasulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam dituduh sebagai tukang sihir, yaitu orang yang mampu mengeluarkan sihir dari perkataannya. Padahal, apa yang beliau katakan adalah Kalamullaah. Kebenaran yang ada dalam perkataan Walid adalah, bahwa perkataan yang beliau sampaikan bisa memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, seseorang dengan saudaranya, seseorang dengan istrinya, dan seseorang dengan keluarganya. Sebab, iman memang akan memisahkan pemeluknya dengan kekufuran. Perkataan Walid ini memang fakta. Tindakan yang diambil oleh kaum muslimin dalam melepaskan diri dari ikatan keluargayang bersikukuh dengan tradisi adalah wujud kesetiaan dan loyalitas kepada al Haq, sekaligus merupakan pendemonstrasian sikap berlepas-diri terhadap kebatilan. Kita akan memaparkan beberapa kisah yang terjadi pada masa rasulullaah 'alaihish sholaatu was salaam terkait dengan masalah ini, sekedar sebagai contoh.

Sa'ad bin Abi Waqqosh dan sang ibu

Dikisahkan bahwa dalam rangka memaksa Sa'ad untuk kembali ke agama nenek-moyang, ibu beliau sampai bersumpah untuk tidak akan makan dan minum sampai mati atau sampai Sa'ad mau keluar dari Islam. Akan tetapi, karena keimanan dan cinta beliau kepada Allah yang begitu dalam, Sa'ad tidak mempedulikan sumpah dari wanita yang amat beliau cintai itu. Ketika kondisi ibu Sa'ad radliyallaahu 'anhu sudah sedemikian parah, maka orang-orang membawa Sa'ad ke hadapan ibunya. Tentu saja Sa'ad sangat sedih menyaksikan ibunya dalam kondisi yang sangat kritis akibat menjalani sumpah tersebut. Akan tetapi, cinta Sa'ad kepada Allah dan rasulNya tetap lebih besar dari apa pun.

Setelah itu, apa yang dikatakan oleh Sa'ad? Beliau kurang-lebih justru berkata demikian: "Wahai ibu, terserah ibunda mau makan atau tidak. Demi Allah, seandainya ibu memiliki seratus nyawa, kemudian nyawa itu keluar satu per satu, niscaya saya tidak akan meninggalkan agama ini (Islam)". Mendengar perkataan seperti itu, tergambarlah kekuatan iman yang tertancap dalam jiwa Sa'ad. Pupuslah harapan sang ibu untuk memaksa Sa'ad. Akhirnya sang ibu membatalkan sumpahnya.

Tholhah bin Ubaidillah dan sang ibu

Mas'ud bin Khorasy radliyallaahu 'anhu berkata: "ketika kami sedang berada di antara Shofa dan Marwah, tiba-tiba muncul sekelompok orang yang menggiring seorang pemuda yang tangannya diikatkan pada lehernya. Aku bertanya: "ada apa dengan pemuda itu?", orang-orang menjawab: "Ini adalah Tholhah bin Ubaidillah yang telah murtad (dari agama nenek-moyang)". Sementara saat itu, ada seorang wanita yang terus-menerus menggerundel dan memakinya (Tholhah). Aku bertanya: "Lantas siapa wanita itu?". Mereka menjawab: "dia adalah Ash Sho'bah binti Al Hadhrami, ibunya sendiri".

Utsman bin Affan dan sang paman

Setelah Utsman radliyallaahu 'anhu masuk Islam, dia ditangkap oleh pamannya, Al Hakkam bin Abul 'ash bin Umayah. Pamannya berkata: "apakah engkau sudah membenci agama nenek moyangmu dan pindah ke agama baru?, demi Allah, aku tidak akan pernah melepaskanmu hingga engkau mau meninggalkan agama baru ini!". Mendengar hal itu, Utsman radliyallaahu 'anhu berkata: "demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya samasekali, dan juga tidak akan berpisah dengannya!".

Az Zubair bin Al Awwam dan sang paman

Az Zubair bin Al Awwam masuk Islam pada usia delapan tahun. Tatkala hijrah ke Madinah dia berusia delapan belas tahun. Setelah dia masuk Islam, dia digantung oleh pamannya di dipan, yang di bawahnya diberi api. Pamannya berkata: "ingkarilah agama (Islam) ini!". Az Zubair menjawab: "aku tidak mengingkarinya samasekali".

Thufail bin Amr dan keluarganya

Thufail bin Amr memiliki kisah yang menakjubkan seputar masalah ini. Meski alhamdulillaah, keluarga beliau masuk Islam setelah mendengar seruan dakwah beliau. Dikisahkan bahwa setelah Thufail masuk Islam, beliau menemui ayah beliau. Kemudian beliau berkata: "ayah tidak boleh lagi menemuiku, karena aku bukan golongan ayah, dan ayah bukan golonganku". Sang ayah tersentak dan berkata: "mengapa wahai anakku?", Thufail menjawab: "karena aku telah masuk Islam, dan aku mengikuti agama Muhammad". Mendengar perkataan itu, sang ayah berkata: "kalau begitu, agamamu adalah agamaku juga". Setelah berhasil mengIslamkan ayahnya, Thufail menemui sang istri. Dikatakan kepada sang istri: "menjauhlah dariku, karena aku bukan termasuk golonganmu, dan kamu bukan termasuk golonganku". Sang istri bertanya: "mengapa begitu?". Beliau menjawab: "Islam telah memisahkan antara diriku dengan dirimu". Setelah itu, istri beliau pun masuk Islam.

Sa'ad bin Mu'adz dan sukunya

Setelah Sa'ad bin Muadz menyatakan keIslaman di hadapan Mus'ab, maka Sa'ad menemui kaumnya. Beliau adalah pemimpin yang ditaati oleh Bani Abdul Asyhal. Beliau mengumpulkan semua anggota bani Abdul Asyhal, kemudian berseru kepada mereka: "Wahai Bani Abdul Asyhal, apa pendapat kalian tentang kedudukan diriku di tengah kalian?". Orang-orang menjawab: "engkau adalah pemimpin kami yang paling bagus jalan fikirannya di antara kami dan engkau adalah orang yang kami percaya".
Kemudian Sa'ad berkata: "kalau begitu aku putuskan, bahwa kalian, baik yang laki-laki mau pun yang perempuan, tidak boleh lagi berbicara denganku kecuali jika kalian mau beriman kepada Allah dan rasulNya".

Setelah itu, Sa'ad bercerita: "Demi Allah, aku tidak berjalan di perkampungan bani Abdul Asyhal kecuali mendapati setiap laki-laki dan wanita telah menjadi muslim dan muslimah".

Abu Bakar Ash Shidq dan putranya

Abu Bakar Ash-shidq radliyallaahu 'anhu memiliki putra yang bernama Abdur Rahman radliyallaahu 'anhu. Tatkala meletus Perang Badr, Abdur Rahman masih musyrik, beliau berperang di bawah bendera Quraisy. Sedangkan Abu Bakar, berdiri di dekat rasulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam dan selalu berusaha melindungi beliau. Setelah Abdur Rahman masuk Islam, beliau pernah bercerita kepada ayahnya mengenai apa yang beliau alami pada saat mengikuti perang badar di pihak Quraisy. Abdur Rahman bin Abi Bakr radliyallaahu 'anhumaa berkata: "wahai ayahku, pada saat itu engkau sangat dekat dengan aku, sehingga memungkinkan aku untuk membunuhmu, namun aku menghindarimu, karena aku tidak mau membunuhmu. Maka Abu Bakar berkata: "namun, jika itu terjadi padaku, maka aku tidak akan berpaling darimu!". Artinya, Abu Bakar siap menghadapi siapa saja yang berperang melawan Islam, meski itu adalah Abdur Rahman, putra beliau sendiri.

Antara Abu 'Ubaidah bin Al Jarrah dan Ayahnya di Lembah Badar

Sewaktu perang Badar, Abu Ubaidah bin Al Jarrah radliyallaahu 'anhu selalu diburu oleh ayahnya yang bertempur di fihak Quraisy. Abu Ubaidah selalu berusaha menghindari Ayahnya itu. Tapi, ketika ayahnya selalu memburunya, maka akhirnya beliau berang. Beliau pun berduel dengan sang ayah. Dan Abu Ubaidah berhasil membunuh ayahnya itu. Karena kejadian itu, Allah menurunkan ayat ke-22 dari surat Al Mujadalah, yang artinya:

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan [1462] yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. "

Kunjungan Abu Sufyan ke rumah putrinya

Ketika pihak Quraisy menyadari bahwa mereka telah merusak Perjanjian Hudaibiyah, dengan keterlibatan sebagian dari mereka dalam penyerangan Bani Bakr atas Bani Khuza'ah (sekutu Madinah), maka mereka segera mengirim utusan ke Madinah untuk mengadakan perundingan dengan rasulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam. Duta yang dikirim ke Madinah adalah Abu Sufyan bin Harb bin 'Ummayyah, ayah dari Ummul Mu'miniin Habibah binti Abi Sufyan radliyallaahu 'anhaa. Misi Abu Sufyan adalah berunding dengan pihak Madinah agar mau memperbaharui perjanjian yang telah dirusak oleh sebagian anggota suku Quraisy. Ini dilakukan karena posisi Madinah yang sudah semakin kuat dan berwibawa dalam konstelasi politik di Jazirah Arab, sehingga pihak Quraisy berusaha menghindari perseteruan dengan negara yang mulai kuat itu.

Tempat pertama yang dituju oleh Abu Sufyan setelah ia tiba di Madinah adalah rumah putrinya, Ummu Habibah, yang juga merupakan salah satu istri rasulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam. Terjadi suatu peristiwa yang unik saat Abu Sufyan memasuki rumah Ummu Habibah. Di dalam rumah itu ada tikar yang biasa digunakan oleh Rasulullaah 'alaihish sholaatu was salaam sebagai alas untuk duduk. Tatkala Abu Sufyan hendak menduduki tikar itu, dengan sigap Ummu Habibah meraih dan melipat tikar tersebut. Abu Sufyan merasa heran dengan tindakan putrinya itu sehingga dia berkata: "wahai putriku, aku tidak tahu mengapa engkau melipatnya, apakah karena engkau menganggap tikar ini terlalu bagus untukku atau karena aku terlalu bagus untuk menduduki tikar ini? Mendengar pertanyaan ayahnya itu Ummu habibibah radliyallaahu 'anhaa berkata: "(bukan karena itu, tapi karena) ini adalah tikar tempat duduk Rasulullaah, sedang engkau adalah seorang musyrik yang najis, oleh karena itu aku tidak suka engkau duduk di atas tikar ini". Abu Sufyan sangat kecewa dengan jawaban itu, maka dia berkata: "Demi Allah, engkau telah menjadi jahat setelah berpisah denganku!".

Abdullah meminta ijin untuk membunuh pemimpin kaum munafik

Adalah Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul radliyallaahu 'anhu, seorang shahabat Rasulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam yang beriman dan setia. Dia adalah putra dari Abdullaah bin Ubay, pemuka Khazraj yang berIslam secara munafik. Ketika tersiar berita bahwa Rasulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam menghendaki agar Abdullah bin Ubay dibunuh, maka Abdullah bin Abdullah menghadap kepada Rasulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam.

Ketika itu dia berkata: "yaa rasulullaah, kudengar berita bahwa engkau hendak membunuh ayahku, sebagaimana berita yang engkau dengar. Apabila engkau memang memutuskan demikian, maka perintahkanlah saja aku (untuk membunuh ayahku). Demi Allah, semua orang khozraj sudah mengetahui bahwa tiada seorang pun yang lebih berbakti kepada ayahku selain diriku. Maka aku khawatir engkau akan mengutus orang lain selain aku untuk membunuh ayahku. Janganlah engkau biarkan aku melihat pembunuh ayahku berlalu-lalang diantara manusia, kemudian aku membunuhnya, sehingga aku membunuh orang mukmin gara-gara seorang yang kafir, lalu aku masuk neraka karenanya". Maka Rasulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam berkata: "justru kita harus bersikap ramah dan mempergaulinya dengan baik, selagi dia masih tetap bersama kita".

Demikianlah sebagian kisah yang menceritakan loyalitas para shohabat ridlwaanullaahu 'alaihim kepada Islam. Mereka menaruh loyalitas sepenunya kepada Islam. Dan apabila Islam menuntut mereka untuk berlepas diri dari pihak mana pun, maka mereka akan memenuhi tuntutan Islam tersebut. Allah berfirman dalam At Taubah ayat 24, yang artinya:

"Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. ".

Wallaahul muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq!

http://titok.wordpress.com/2007/06/27/bercerai-karena-Islam/#more-91

Milis Tauziyah
Dikirim oleh: Wirawan
Rabu, 4 Februari 2009


Cetak Artikel
  Cetak Artikel