Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




http://www.eramuslim.com
Publikasi: 17/03/2005 12:09 WIB

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du

Dalam menjelaskan kedudukan kisah yang terjadi di masa shahabat tentang perbedaan pendapat di antara mereka, kita perlu memiliki rujukan yang bersumber dari literatur sejarah Islam sendiri. Sedangkan yang kita baca umumnya berasal dari literatur di luar Islam. Karena itulah Dr. Muhammad Qutub pernah menegaskan bahwa sejarah Islam harus ditulis ulang oleh anak-anak Islam sendiri. Sejarah Islam yang kita miliki sekarang ini lebih merupakan hasil karya para sejarawan barat. Sehingga bila ada hal-hal yang negatif dan bertentangan dengan ajaran Islam, memang karena faktor subjektifitas mereka yang kurang memahami ruh ajaran Islam.

Misalnya tentang penggambaran terjadinya perpecahan dan perbedaan pendapat adalah bersumber dari zaman pertama generasi Islam. Yaitu generasi yang oleh Rasulullah adalah generasi terbaik sesudah generasi beliau. Kita membaca dalam sejarah versi barat, betapa seolah-olah para shahabat itu menjadi orang-orang yang haus darah, penuh dendam kesumat dan bernafsu untuk saling menghabisi sesama mereka. Padahal Al-Qur'an telah menyebut mereka para shahabat sebagai orang-orang yang diredhai.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS At-Taubah: 100).

Justru analisa yang menyebutkan bahwa rusak dan pecahnya umat Islam ini berasal dari generasi shahabat perlu dipertanyakan motivasinya. Seandainya generasi yang paling baik sudah dianggap menyeleweng, bagaimana dengan generasi lainnya?

Padahal generasi itu adalah generasi yang langsung dibina oleh tangan Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW telah ridha atas mereka dan mereka ikut bersama dakwah Rasulullah bukan sebulan atau dua bulan, tapi banyak dari mereka yang sejak masa awal turunnya wahyu dibina langusng oleh manusia paling mulia di dunia ini.

Sayangnya, 'studi historis' seperti inilah yang justru dilakukan oleh sebagian kalangan yang akrab dengan dunia kampus. Misalnya kasus tahkim (arbitrase), Kasus ini paling sering diangkat untuk menjatuhkan dan mencaci maki sebagian shahabat serta untuk mendiskreditkan. Sayangnya, hampir semua kritik sejarah ini mengacu hanya sampai analisa para mustasyrikin (orientalis). Sedangkan sumber sejarah Islam yang paling asli dan valid, hampir-hampir tidak pernah disentuh.

  Faktor Kerancuan Sejarah

Dalam penulisan sejarah, ada dua pihak yang sangat berperan untuk mewarnai dan menggambar lembaran buku sejarah. Pertama adalah sejarawannya itu sendiri (muarrikh). Dan yang kedua adalah nara sumber yang memberi masukan kepada penulis sejarah (ihkbari). Keduanya ini menjadi unsur penting dalam penulisan sejarah, apabila salah satu atau malah keduanya mengalami distorsi, maka tampilan sejarah yang akan muncul bisa menjadi sedemikian buruknya.

Dari sisi muarrikh, kita mengenal ada beberapa tipe. Ada yang jujur dan proporsional dan ada yang sejak awal memang telah berpihak. Misalnya Al-Ya'qubi, Al-Mas'udi dan lainnya. Mereka ini memang berusaha memberi warna tertentu untuk menjatuhkan citra seorang shahabat dan meninggikan yang lainnya. Berita yang diterimanya dari informan (ikhbari) diterimanya bulat dan langsung ditelan masuk perut. Tetapi ada juga yang jujur dan menyeleksi kabar yang diterimanya, terutama bila dianggap bertentangan dengan Qur'an dan Sunah. Di antaranya adalah Abu Bakar Ibnul Arabi yang menulis kitab fenomenal Al-'Awashim minal Qawashim dan juga Ibnu Katsir yang menulis Al-Bidayah Wan- Nihayah.

Selain itu ada juga yang memang menuliskan begitu saja apa yang mereka dapat tentang sejarah, sebagai bahan mentah untuk dikaji ulang. Bukan untuk konsumsi masyarkat luas tapi untuk para ahli yang meneliti ulang dengan berpedoman pada metodologi ilmiyah yang akurat. Diantara mereka yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah At-Thabari dengan kitabnya yang sangat populer yaitu Tarikhur Rusul wal Muluk.

Dari sisi para pemberi informasi (ikhbari) juga ada tipe-tipe yang membedakan satu sama lain diantara mereka. Ada yang tsiqah dan ada juga yang tidak tsiqah. Yang tidak tsiqah ini terkadang berani berbohong dan memalsu sejarah seenak kepentingan dirinya sendiri.

Kira-kira kasusnya hampir mirip dengan pemalsuan hadits. Hanya saja bila di dalam dunia hadits telah lahir gerakan kritik hadits yang dahsyat sehingga bisa dengan mudah memilah hadits yang benar dan yang palsu, memang dalam dunia sejarah Islam hal itu belum lagi terbangun dengan mantap. Latar belakangnya ada banyak, diantaranya adalah memang pada masa awal dahulu kebutuhan atas periwayatan sejarah belum terlalu dominan. Umat Islam mesih dihadapkan kepada hal yang lebih utama yaitu menyelesaikan masalah pemalsuan hadits. Selain itu memang pada masa lalu para orientalis belum segencar sekarang dalam menyerang ajaram Islam, sehingga pemikiran yang menyimpang dari sejarah Islam masih dibilang tidak ada. Dan tambahan lagi, bahwa umat Islam di masa lalu masih kuat pemahamannya atas sejarah mereka sendiri, sehingga hampir-hampir tidak ada persoalan dengan masalah penyelewengan sejarah.

Sedangkan pada hari ini, orientalis telah mengacak-acak sejarah Islam menjadi sebuah kisah peperangan. Dan sayangnya, umat Islam belum selesai membuat sistem penyaringan sejarah sebagaimana dalam dunia hadits. Nampaknya justru hal itulah yang terjadi sekarang. Di banyak perguruan tinggi Islam, justru paling sering terjadi penghujatan atas diri para shahabat dan tuduhan zhalim ke dalam sejarah Islam. Rupanya cakar dan kuku para orientalis kali ini benar-benar menghujam. Sungguh hal yang sangat tragis, karena dengan mencaci maki para shahabat itu mereka merasa sudah menjadi ilmuwan, pakar dan kritikus. Padahal para orientalis bertepuk tangan sambil menabuhi genderang, para ilmuwan muslim yang harus menari-nari di bawah irama gendang mereka.

  Bekal dan Pegangan

Sekedar untuk bekal dan pegangan agar kita tidak terjebak dalam penipuan bergaya murahan ini, maka ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk mematahkan serangan orientalis ini.

  1. Adanya tokoh provokator dalam sejarah
    Di antaranya adalah tokoh Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Peran orang ini sangat besar dalam memberi provokasi umat Islam yang tinggal di wilayah-wilayah yang jauh dari Madinah, dimana mereka masih baru saja masuk Islam dan belum lagi paham benar dengan ajaran Islam. Tokoh yang satu ini telah melakukan perjalanan panjang dari satu tempat ke tempat lainnya hanya untuk memprovokasi umat Islam.
    Sayangnya oleh para gembong orientalis, tokoh ini diusahakan agar dihapus dari catatan sejarah, agar seolah yang bikin onar itu memang para shahabat sendiri. Padahal bukti keberadaannya tidak bisa dipungkiri dalam sejarah.

    Tangan kotor Ibn Saba' ini jelas kelihatan nyata tatkala dia berhasil memprovokasi penduduk Mesir untuk membunuh Khalifah Utsman bin Affan ra. Namun ketika rombongan pembunuh Utsman dari Mesir bertemu langsung dengan Khlaifah Utsman dan mendapatkan penjelasan, mereka pun sadar bahwa mereka telah ditipu mentah-mentah oleh Ibnu Saba'. Tapi Ibnu Saba' tidak kehabisan akal, dia membuat surat palsu seolah-olah Utsman memerintahkan kepada gubernur Mesir untuk membunuh rombongan ini. Akhirnya untuk kedua kalinya mereka tertipu dan mengepung rumah Khalifah Utsman.

  2. Jaringan Kerja yang Rapi
    Dalam kerjanya, Ibnu Saba' yang mantan Yahudi ini ternyata tidak sendirian, dia berhasil mengkader SDM yang tangguh dari kalangan mawali (bekas budak) untuk menjalankan manhaj dan harakahnya. Para mawali ini pun dulunya masuk Islam hanya sekedar menyelamatkan diri sebagai tawanan perang. Kerja mereka menghembuskan provokasi dan berita miring seputar diri khalifah Utsman dan mencari-cari kelemahannya. Misalnya isu nepotisme, korupsi dan bermegah-megahan yang ditujukan kepada kepribadian beliau dan keluarganya. Termasuk issue pergantian gubernur yang tadinya dipegang oleh shahabat senior menjadi para orang muda.

    Namun semua tuduhan kosong itu berhasil ditepis oleh Ustamn dan oleh para shahabat lainnya yang tahu betul apa yang terjadi. Sehingga para penuduh pun tahu persis dan sadar bahwa berita yang mereka terima itu tidak lain hanyalah provokasi rendahan.
    Sehingga hanya mereka yang benar-benar bodoh dan tinggal di wilayah pinggiran yang jauh dari informasi saja yang mudah termakan dengan isapan jempol seperti itu.

  3. Objek Provokasi
    Ibnu Saba' beserta prajurit mawali nya benar-benar pandai mencari mangsa untuk objek provokasinya. Mereka tidak mungkin berhasil kalau menyebarkan provokasi di pusat-pusat peradaban dan pemerintahan. Karena umat Islam ini umumnya melek berita dan paham betul tentang keshalehan Khalifah yang mereka cintai itu. Sebaliknya, objek provokasi ditujukan kepada orang-orang marginal, miskin, lemah, papa dan hidup susah. Dahulu mereka adalah orang Badui dengan temperamen kasar, nekad, tidak kenal basa-basi dan berpikir pragmatis (pikiran pendek). Sehingga tindakan mereka anarkis dan sama sekali tidak berdasarkan logika dan kajian yang matang. Dengan mudah mereka main hunus pedang untuk urusan yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Sekedar saran, kami anjurkan anda memperbanyak membaca buku yang menelanjangi orientalisme, khususnya yang berbicara masalah pembelaan terhadap umat Islam.
Salah satu buku yang bisa anda baca adalah karya Prof. Dr. Muhammad Amhazun yang judulnya Tahqiq Mawaqifus shahabah Fil Fitnah.
Alhamdulillah buku ini sudah diterjemahkan oleh Dr. Daud Rasyid MA dengan judul Fitnah Kubro, Tragedi pada masa shahabat, (Klarifikasi sikap serta analisa historis dalam perspektif ahli hadits dan Imam al-Tabari). Buku setebal 500-an halaman itu insya Allah dapat memberikan jawaban atas semua yang anda tanyakan.
Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
Ahmad Sarwat, Lc.

Milis Sabili
Dikirim oleh: Ummu Ja'far
Kamis, 17 Maret 2005


Cetak Artikel
  Cetak Artikel