Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




http://www.sabili.co.id/tarqiyah-e19thXII05.htm

Umat Islam saat ini ibarat dedaunan yang bertebaran. Harus ada upaya untuk menyatukan mereka dalam satu jamaah. Jamaatul Muslimin!

Tak ada manusia yang tahan sendirian. Sendirian itu dingin dan mencekam, baik dalam pengertian fisik maupun kejiwaan. Tak terkecuali bagi para Nabi. Sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw, mereka tak pernah sendirian. Mereka selalu bersama orang lain. Para keluarga dan pendukungnya.

Adam diturunkan ke muka bumi bersama istrinya, Hawa. Ibrahim ditemani dua putranya Ismail dan Ishaq. Musa diutus menjadi nabi bersama saudaranya Harun. Isa didampingi pendukung setianya yang dikenal dengan hawariyun. Begitu juga Nabi Muhammad saw ketika keluar dari kesendiriannya di Gua Hira segera menemui istrinya tercinta, Khadijah. Dengan sepenuh kelembutan Khadijah menyelimuti dan "mendekapnya". Ia tak hanya ingin memberikan kehangatan pada Rasulullah saw, tapi juga rasa percaya diri akan wahyu yang baru didapatnya.

Dalam kasus-kasus sosial di masyarakat moderen, utamanya di kota-kota metropolitan, kita sering dikejutkan fatalnya akibat dari kesendirian. Misalnya, kisah tragis eksekutif muda yang meloncat dari ketinggian apartemennya. Hati orang-orang jompo yang hampa, karena tidak mendapat perhatian dunia luar di panti-panti. Anak-anak yang broken home karena tak cukup disapa kedua orang tuanya. Para pemburu karir yang hidup melajang. Kesendirian ternyata bisa menyebabkan orang stres lalu bunuh diri!

Di Barat, kecenderungan hidup sendirian dan melajang, mulai dihindari. Penduduk pribumi baru sadar kalau kesendirian bisa mengancam proses regenerasi. Angka pertumbuhan mereka bisa mencapai nol. Mereka lebih mementingkan karir. Kenikmatan hidup pribadi dianggap lebih praktis. Kalaupun ingin punya anak, mereka mengadopsi anak yang cukup besar. Alasan agar tak repot-repot menikah, merawat bayi, dan mengikuti program pelangsingan tubuh setelah hamil, tak mampu memecahkan masalah. Kecenderungan melajang, bukan hanya menyia-nyiakan sebagian potensi kemanusiaan, tapi juga melenyapkan sel terkecil yang membentuk masyarakat, yaitu keluarga.

Begitu bahayanya kesendirian ini, tak heran kalau Rasulullah saw bersabda, "Berdua lebih baik daripada sendiri. Bertiga lebih baik daripada berdua. Berempat lebih baik daripada bertiga, maka hendaklah kalian tetap bersama berjamaah, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku kecuali atas sebuah petunjuk (hidayah)" (HR Ahmad).

Umar bin Khaththab dalam salah satu isi khutbahnya pernah berkata, "Barangsiapa di antara kamu menginginkan kenikmatan surga, hendaklah ia senantiasa komitmen dengan jamaah." Dalam kesempatan lain, seperti dikutip ad-Darimy dalam Sunan-nya, Umar berkata, "Tiada Islam tanpa jamaah, tiada jamaah tanpa imamah, tiada imamah tanpa taat dan tiada taat tanpa baiat."

Begitu pentingya hidup berjamaah sampai-sampai Rasulullah saw tetap memerintahkan kaum Muslimin untuk terus hidup berjamaah walau dalam keadaan bagaimanapun. "Barangsiapa melihat ketidakberesan yang menjengkelkan pada pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar. Sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah walau sejengkal pun kemudian mati, maka ia mati dalam kejahiliyahan," (HR Muslim).

Jamaah merupakan sentral pemikiran Ibnu Taimiyah dalam masalah masyarakat dan negara. Baginya bentuk-bentuk negara hanyalah sekunder, selama jamaah dan ideologinya belum mewujud dalam kehidupan kaum Muslimin. Kewajiban berjamaah tetap harus melekat pada sekelompok komunitas Muslim yang hidup di negara kafir sekalipun.

"Apabila masyarakat itu (tidak harmonis dan) melanggar peraturan, melakukan kejahatan dan membunuh imam mereka, maka dalam keadaan seperti itu percuma saja imamah ditegakkan," katanya. Ibnu Taimiyah memandang bahwa negara yang ditempatinya saat itu merupakan sebuah ladang yang berpotensi untuk mewujudkan jamaah menuju kesempurnaan imamah. Keberadaan sebuah negara yang berdiri sendiri merupakan sebuah modal keteraturan, dibandingkan situasi yang kacau balau (chaos).

Komitmen terhadap gagasan jamaahlah yang menyebabkan Ibnu Taimiyah tidak pernah meninggalkan negerinya, bahkan syahid dalam penjara. Baginya upaya mendekatkan kelompok-kelompok Muslim, menyadarkan individu-individu umat dan memberikan nasihat untuk para raja adalah kewajiban yang harus ditunaikan.

Begitulah kenyataan umat ini. Mungkin banyak orang shalih di antara mereka, tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan, tidak terhimpun dalam sebuah wadah yang bernama jamaah. Barang kali banyak orang hebat di antara mereka, tapi kehebatan itu hilang diterpa masa. Banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu, tapi semuanya berserakan, tak menyatu dalam satu jamaah.

Jamaah adalah salah satu cara paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan pada individu. Dalam satu jamaah, individu-individu yang memiliki kemiripan disatukan dalam sebuah simpul kesatuan. Meskipun banyak jamaah, tetap jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Menarik apa yang pernah disampaikan Anis Matta, seorang pemikir muda Muslim, "Memetakan orang banyak melalui pengelompokan atau simpul-simpulnya jauh lebih mudah, ketimbang harus memetakan mereka sebagai individu."

Karena itu, lahirnya beragam kelompok, partai dan madzhab saat ini, merupakan salah satu langkah yang harus dipelihara agar tak berakibat buruk. Setiap jamaah hendaknya mendukung jamaah yang lain. Ini yang akan menghantarkan kita pada tegaknya syariat Islam dalam satu payung. Khilafah Islamiyah. Allahu Akbar!

Hepi Andi

Milis Sabili
Dikirim oleh: Ummu Ja'far
Selasa, 29 Maret 2005


Cetak Artikel
  Cetak Artikel