Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Mengapa Winnie Mandela meninggalkan Nelson Mandela setelah menunggunya selama 27 tahun masa di penjara? Mengapa banyak petinggi negara dan eksekutif ternama sepertinya mempunyai lebih dari satu "kepribadian"? Mengapa si komunikator ternama dengan rambut aduhai itu mengajak teman baik Anda untuk "affair kucing-kucingan ala remaja" di luar negeri, padahal ketenarannya sudah mencapai seantero dunia dan dikenal sebagai humanis yang humoris? Artis X yang tampak benar-benar humanis di hadapan publik bisa dengan tiba-tiba menjadi seorang kleptomania di toko pakaian.

In a nutshell, mengapa orang-orang ternama tampaknya tidak perduli dengan apa yang dia lakukan di luar pekerjaannya? Bukankah mereka sepatutnya selalu menjaga diri dan tindakan sehingga tidak mencoreng reputasi mereka?

Mengapa kedengarannya dunia begitu penuh dengan "gossip" dan isyu-isyu yang bertolak belakang? Bahkan salah satu teman saya bilang, "Saya sudah susah respek terhadap petinggi-petinggi negara. Mereka cuma baik di depan publik, di belakang mereka itu busuk."

Jawabannya simple saja. Setiap orang mempunyai kepribadian "mitos" (kepribadian yang dikenal publik, di mana terbatas hanya dengan penampakan-penampakan di muka publik saja, atau "public face") dan kepribadian "historis" (kepribadian sebenarnya yang penuh dengan kekurangan dan kelebihan, yaitu "actual face"). Istilah ini saya pinjam dari analisis politik piawai, Bung Eep Saefulloh Fatah, yang dulu sesama rekan mahasiswa almamater saya di UI, dari bukunya yang berisi kumpulan tulisan-tulisannya Mencintai Indonesia dengan Amal.

Di samping itu, ingatlah bahwa alam berputar atas prinsip yin dan yang. Di dalam kebaikan, selalu ada keburukan. Di dalam kebajikan, selalu ada kebodohan. Walaupun kedengarannya simplistic, prinsip yin-yang ini dapat diterapkan di hampir semua fenomena kehidupan, termasuk dalam perilaku (behavior) seseorang. Secara individu, jelas semua orang berada di tempat yang netral, namun perilakunya yang selalu mengalir dan bergulir dalam siklus yin dan yang.

Kembali kepada Winnie Mandela, selama 27 tahun ia menunggu Nelson di penjara atas aktifitas-aktifitas anti-apartheidnya. Ia memandang suaminya sebagai suatu simbol, suatu mitos humanis dari kebesaran manusia dalam bertahan (endure) di tengah kesulitan. Diam-diam, ia mengagumi Nelson sebagai seorang manusia "super."

Sayangnya, Winnie tidak siap ketika Nelson pulang ke rumah setelah masa tahanannya selesai. Ia mengharapkan Nelson tetap bertindak sebagai mitos. Wah, ternyata, ia salah sangka.

Coba saja Anda bayangkan, apa yang akan Anda lakukan setelah ke luar dari penjara yang telah mengekang Anda selama 27 tahun?

Pertama, Anda sudah kehilangan orientasi dan "lupa" bagaimana hidup "normal" di dalam rumah tangga dengan istri Anda yang tercinta. Mungkin saja Anda menjadi tergila-gila akan hal-hal yang tidak Anda dapatkan selama di penjara. Bisa menjadi "gila makan", "gila pakaian baru", "gila tidur", "gila ngobrol", dan lain-lain yang tidak bisa Anda lakukan selama dalam masa kekangan.

Bagaimana Winnie melihat Nelson Mandela sekarang? Totally berbeda dari mitos seorang humanis pejuang hak azasi bukan? Tiba-tiba, seorang Nelson tidak ada lagi bedanya dari suami-suami lainnya yang Winnie temui. In the end, he is just a human, not a myth.

Hal-hal seperti ini juga terjadi terhadap public figure lainnya, termasuk pejabat dan selebriti yang sering kita baca beritanya di media massa. Di rumah (baca: di luar mata publik), mereka hanyalah orang biasa. Kadang kala ngomel sana, ngomel sini. Kadang-kadang ingin tidur sampai siang. Sering lupa di mana menyimpan sesuatu. Ada pula yang punya urgensi seksual yang agak "menyimpang."

Sayangnya, penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh public figure di Indonesia tidak mendapatkan "audit" dari sistem check and balance, sebagaimana yang dialami public figure di Amerika Serikat, misalnya. Terlepas dari imaji Hollywood yang ditayangkan di layar perak, di mana Americans digambarkan sebagai bangsa yang bombastis dan gemar mengumbar nafsu, para public figure di sini, terutama kaum politisinya, sangat disorot oleh masyarakat.

Sebagai contoh, pemain Star Trek Jeri Ryan yang berperan sebagai cyborg Seven of Nine pernah mengunjungi club malam bersama suaminya yang senator Illinois Jack Ryan. Believe it or not, ini menjadi skandal seks tanpa seks pertama di Amerika Serikat yang menjatuhkan pamor seorang politisi. Ternyata, publik Amerika Serikat jauh lebih konservatif daripada yang kebanyakan orang bayangkan. Sebagai pasangan suami istri yang mengunjungi klub malam bersama tanpa melakukan seks publik, ternyata ini memberi pesan yang tidak disukai oleh publik karena jenis klub yang dikunjungi cukup kinky. Maka jatuhlah Jack Ryan dari kursi senator.

"Historical persona" seseorang ternyata dapat menjatuhkan "mythological persona" seseorang dalam sekejap. Hal ini, di Indonesia, masih sangat terpisah (walaupun banyak yang bertanya-tanya dan agak "kecewa" dengan kepribadian historis pejabat dan selebriti). Contohnya saja, berapa banyak pejabat Indonesia yang suka main perempuan? Tetap saja kepribadian mitosnya yang kita hargai. Kalau ini terjadi di Amerika Serikat, sudah tidak ada ampun lagi bagi karir politis yang bersangkutan. Mungkin juga ini karena banga Indonesia adalah bangsa yang pemaaf.

Kedua, siklus yin dan yang bergulir terus dari waktu ke waktu. Segala sesuatu di dalam alam ini, termasuk manusia, mengalami siklus yin dan yang. Dari positif menjadi negatif. Dari bagus menjadi busuk. Dari jauh menjadi dekat.

Jika seseorang mengalami masa yin di dalam "kepribadian mitos"nya, seperti karir yang hancur dan proyek yang gagal, hal-hal seperti ini tampaknya dapat secara langsung terlihat oleh orang lain. Beda halnya jika masa yin yang dialami ada di dalam "kepribadian historis."

Mariah Carey dan Whitney Houston, misalnya, pernah mengalami nervous breakdown di muka umum. Ini adalah kepribadian historis mereka yang menderita. After all, mereka hanyalah manusia biasa. Karir mereka sempat tersendat, namun beberapa waktu kemudian mereka berhasil menggulirkan masa yin menjadi masa yang (kemenangan) kembali.

Kesimpulannya, yin dan yang mempengaruhi kepribadian "mitos" (public face) dan kepribadian "historis" (actual or private face). Keempat hal ini saling berkait satu sama lain dan bisa saling menjatuhkan atau saling membangun. Memandang dunia dari ke-empat kaca mata ini akan membuat Anda semakin mengerti apa yang sedang terjadi di sekeliling Anda.

Dunia ini berubah terus dan perubahan tidak bisa dihindari. Kuncinya adalah sikap kita dalam menghadapi dan memanipulasi perubahan baik dalam kepribadian "mitos" maupun "historis."[]

Sumber: Mitos vs. Historis: Siapkah Anda? oleh Jennie S. Bev. Jennie

Milis FEUI82
Dikirim oleh: Irwan B. Afiff
Jum'at, 3 Agustus 2007


Cetak Artikel
  Cetak Artikel