Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Suatu hari, ada pertemuan orangtua murid dengan guru di sekolah. Dalam acara ramah tamah, saya ngobrol dengan ibu guru anakku. "Mami, anaknya sering nggak konsentrasi di kelas. Ulangan hasilnya jelek tuh dibanding anak-anak yang lain," dan seterusnya. Dalam perjalanan pulang, anakku berunjuk rasa. Dengan cemberut dia berkata, "Ma, sungguh bu guru nggak fair. Di depan mama kejelekanku aja yang dilaporkan. Aku improve lho Ma. Benar Ma. Dulu pertama-tama aku belum ngerti, memang banyak fail, tapi sekarang udah nggak lagi. Tapi kenapa yang diomongin ke Mama yang dulu sekali? Ih, bener-bener nggak fair!"

"Oke-oke, Mama tahu kalau kamu improve. Mama menghargai kerja kerasmu. Mama mau kasih contoh cerita. Suatu hari, ada murid ketahuan mencontek. Oleh si guru, penemuan itu diceritakan di depan para guru saat meeting. Apa yang terjadi kemudian? Saat si anak mendapatkan nilai bagus, walaupun dengan belajar benar, tanpa mencontek, tetapi di dalam pikiran si guru, jangan-jangan hasil bagus karena mencontek. Nah lho. Kasihan nggak? Padahal murid itu hanya sekali-kalinya mencontek dan sudah kapok saat ketahuan waktu itu. Nah, Sama seperti kasusmu. Bukan hanya sekali tapi beberapa kali nilai kamu jelek, walaupun kamu merasa improve, tapi di pikiran gurumu, masih yang terbayang yang jelek aja. Supaya jelek jadi bagus, ya kamu harus buktikan dengan hasil bagus-bagus-bagus yang lebih banyak, jadi jeleknya ganti bagus. Artinya, ya harus belajar lebih keras lagi, ngerti nggak? Mama percaya kamu bisa! Cia yoooo!" Anakku tersenyum puas dengan jawaban mamanya. Kami pun pulang dengan perasaan nyaman.

Bisa menyadari bahwa `tiada manusia yang sempurna' dan berlapang dada memaafkan kesalahan orang lain kepada kita adalah hal yang baik. Tetapi mampu menyadari, memaafkan, dan melupakan kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita, itu jauuuh lebih baik ! Demi damainya hati sendiri.

"Selamat hari raya Idul Fitri, Maaf Lahir dan Batin." Semoga keikhlasan kita memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, lahir dan batin, diridhoi oleh Allah Swt. Amin.

oleh Lenny Wongso

Milis FEUI82
Dikirim oleh: Irwan B. Afiff
Jum'at, 20 Juli 2007


Cetak Artikel
  Cetak Artikel