Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Seperti biasanya malam itu (sekitar pkl 21.30 wib) saya dan dua orang tetangga kompleksku ngobrol di gardu siskamling samping rumahku. Sedang asyik kami ngobrol-ngobrol, dari soal politik, olah raga sampe masalah warga kompleks dibahas dengan lugas layaknya talk show di TV-tv yang sedang marak, lewatlah seorang tukang pisang dengan ditemani seorang bocah seumuran anak SD, menjajakan dagangannya. "pisang...pisang..." begitu teriaknya.

Terhenti sejenak obrolan kami mengamati si tukang pisang tersebut, muncul beberapa pertanyaan diantara kami; "mengapa sudah malam begini masih ada saja tukang pisang keliling?" celetuk salah satu tetangga sebut saja Dedi, "kenapa bawa anak kecil segala?" tandas Eri tetangga ku dengan kritisnya. "Ada apa keranjang pisangnya dipegangi anaknya itu?" tanyaku dengan penuh selidik.

Akhirnya kami mencoba menegurnya;
"Wah, malam-malam masih ada pisang ya mang?" tanyaku.
"Iya pak, ada pisang raja dan ambon, masih seger dan masak dipohon pak" sahut si tukang pisang.
"Ini anak mamang?" tanya Dedi.
"Iya pak, anak saya yang ke dua." sahutnya.
"Kok malam-malam ikut jualan apa tidak belajar?" tanya Eri penasaran.
"Sudah belajar pak tadi sore sebelum ngater bapak jualan" jawab anak itu.
"Kok Bapak malam-malam masih jualan bawa anak lagi, apa gak kasihan anak Bapak kan besok pagi-pagi harus ke sekolah" tanya ku.
"Bapak saya buta, jadi terpaksa harus diantar kalau mau jualan keliling pak" sahut anak itu menjelaskan.

Kami begitu kaget mendengar penjelasan seorang bocah ingusan yang begitu berbakti kepada orang tuanya yang sedang berusaha itu. Bagaimana tidak, seorang penjual pisang sampai malam begitu dia keliling kompleks ditemani anaknya yang seusia SD itu.
"Bapak kalau pagi mangkal di dekat pasar, selepas Ashar beliau keliling komplek pak, untuk menjual sisa dagangannya". timpal anak itu.
Itu semua dilakukan demi menghidupi dua anak dan sang istri.

Dengan rasa simpati kami saling bisik-bisik untuk membelinya. Karena begitu terharu saya dan dua orang tetanggaku membeli pisang dengan melebihkan pembayaran dari harga yang ditawarkanya.
Tapi apa yang kami lakukan rupanya mendapat tanggapan berbeda dari si tukang pisang. "Ini pak, kembaliannya seribu." tukas si tukang pisang."
Sudah buat bapak dan anak bapak saja" jawab kami serempak tanpa sadar.
"Maaf pak saya jualan bukan pengemis", sahutnya.
Dia mengembalikan semua kelebihan uang kami yang sebenarnya sengaja kami berikan.
Kemudian si tukang pisang permisi dan pergi bersama anaknya menjajakan dagangannya sembari menuju pulang ke kampungnya.

Terbetik dalam sanubari kami masing-masing, masih ada orang jujur & mulia di dunia ini. Uang lebih seribu rupiah pun tidak dia terima (karena bukan haknya) demi harga diri dan prinsip yang begitu luhur, "saya jualan bukan pengemis pak" dinyatakan oleh seorang tukang pisang yang buta.

Ada dua pelajaran berharga yang kita bisa petik dari kisah tersebut; pertama seandainya mental itu (tidak rakus pada harta yang bukan haknya) ada disanubari kita semua tentunya kesejahteraan yang merata akan lebih mungkin tercapai. Kedua betapa optimisnya si tukang pisang, dengan kondisi yang buta dia keliling kompleks sampe larut malam mencari rejeki, sementara kita orang yang lebih beruntung (mata normal) mungkin sudah santai nonton tv atau beranjak tidur. semoga kita bisa lebih mensyukuri nikmat dan anugerah Tuhan kepada kita semua.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Milis FEUI82
Dikirim oleh: Irwan B. Afiff
Jum'at, 24 Maret 2006


Cetak Artikel
  Cetak Artikel