Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Oleh Wildan Nugraha

PERNAH dalam salah satu acara peluncuran buku di Bandung, saya mendengar seorang berkenegaraan Prancis dengan bahasa Indonesianya yang lancar, bercerita sedikit soal kedekatan masyarakat mereka dengan buku. Katanya, menjelang libur Natal dan Tahun Baru di Prancis, banyak buku sastra, seni, dan budaya diterbitkan ulang secara khusus. Orang-orang banyak membelinya untuk dihadiahkan kepada kerabat dan kolega.

Saya kira, kebiasaan seperti itu sangat menarik buat siapa pun yang merasa akrab dengan buku, tidak terkecuali di negara ini. Namun, kebiasaan saling menghadiahkan buku mungkin bisa dibilang jarang buat orang Indonesia. Barangkali, hal ini berkaitan dengan berbagai angka statistik yang menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia sangat rendah. Kebanyakan orang akan merasa biasa-biasa saja bila bukan merasa aneh, kalau tiba-tiba ada yang memberinya hadiah berupa buku. Sebab, "katakan dengan buku" bukan ungkapan yang umum dalam budaya kita. Jauh kalah dengan, misalnya, "katakan dengan bunga".

Kalau tidak salah, awal tahun 1990-an di televisi pernah ada iklan layanan masyarakat tentang budaya cinta buku. Pada tayangan pendek itu, seorang remaja putri sedang kegirangan sehabis menerima hadiah buku dari kawannya. Pengemasannya sederhana, agak kaku, tidak menarik, dan seingat saya, penayangannya tidak lama, segera menghilang dan tidak ada kelanjutannya. Sangat disayangkan sebenarnya. Saya membayangkan andai sekarang ada iklan kampanye cinta buku seperti itu lagi di televisi.

Sementara ini, membandingkan budaya literasi Prancis dengan Indonesia memang (masih) terlalu timpang. Bila mau jujur, membicarakan buku, terlebih karya sastra dan sastrawannya, buku-buku falsafah dan pemikiran, terasa eksklusif buat konteks Indonesia. Kalau bukan karena merasa asing dengan apa yang dibicarakan, kebanyakan masyarakat juga acap terpatok bahwa buku bukanlah kebutuhan penting yang harus dikonsumsi, dibeli, dimiliki. Kondisi ini diperburuk oleh kenyataan bahwa harga buku relatif mahal, dan dengan adanya krisis ekonomi yang bergelombang-gelombang, daya beli masyarakat kita tidak kunjung membaik.

Lantas, mengakses ruang publik bernama perpustakaan umum sepertinya belum dijadikan pilihan oleh banyak masyarakat dalam mengisi waktu luangnya, atau untuk menggali informasi. Di lain pihak, masih terbatas gebrakan mengejutkan dari para pustakawan atau pegiat literasi buat menggenjot minat baca masyarakat secara umum, hingga ke daerah-daerah pelosok.

Tentu, pemerintah---dengan daya besarnya---harus (terus) memperhatikan masalah literasi masyarakatnya. Hal ini memang tampak sebagai kerja panjang, sebab bukan perkara sederhana. Konstruksi sosial masyarakat Indonesia yang terlihat lebih akrab dengan budaya lisan, tentu mesti menjadi catatan tersendiri. Namun, harus disadari pula bahwa budaya tulis umumnya berperan penting dalam banyak perjalanan bangsa-bangsa di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Kita tahu bahwa tokoh-tokoh cendekia pendiri dan pendahulu bangsa ini, adalah orang-orang yang menghargai budaya tulis. Soekarno dan Hatta, misalnya, kita tidak lupa, sangat akrab dengan buku.

Mereka, para arsitek pelbagai kemajuan, tidak mengalienasikan buku dari kehidupan sehari-hari. Mereka sadar bahwa menjadikan buku sebagai kawan akrab adalah laku yang baik, bermaslahat, memendam berkah jangka panjang. Mereka, misalnya, saling menghadiahkan buku sebagai lambang keakraban dan kasih sayang. Mereka yakin bahwa gagasan-gagasan di dalam buku, seperti kata penyair Sapardi Djoko Damono dalam tulisannya, bisa diam-diam masuk ke kamar orang-orang yang menyediakan waktu khusus buat menghayatinya, lebih panjang dari pertemuan yang mungkin hanya sebentar. Lebih dari itu, sebuah buku bisa bertahan berpuluh-puluh tahun dan diam-diam menyusup ke pembaca.

"Katakan dengan buku", mungkin adalah ungkapan yang sebenarnya akrab bahkan mesra. Ia bisa membekas lama hingga berpuluh-puluh tahun. Bahkan mungkin selamanya.***

Wildan Nugraha, bergiat di FLP Bandung
(Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Februari 2009)

Milis Tauziyah
Dikirim oleh: Nugroho Laison
Selasa, 24 Februari 2009


Cetak Artikel
  Cetak Artikel