Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Sebelum masuk ke persoalan Meridian Makkah (39 49' BT) yang diusulkan sebagai Meridian Nol Hijriyyah, mari kita lihat terlebih dulu kenapa Meridian Greenwich ditetapkan sebagai Meridian Nol, untuk kemudian kita bandingkan sifat dasar kalender Gregorian/Masehi (yang murni solar) dengan kalender Hijriyyah (yang murni lunar).

Beda dengan garis Lintang Nol (Ekuator) yang bisa ditentukan secara eksak lewat pengukuran posisi Matahari dan terkait erat dengan sumbu rotasi Bumi, tidak ada fenomena alami yang bisa digunakan untuk menetapkan secara eksak letak garis bujur nol atau Meridian Nol. Maka titik dimanapun di muka Bumi ini bisa ditetapkan sebagai Meridian Nol, asalkan populer dan disepakati bersama.

Pada masa Mesir Kuno misalnya, Ptolomeus menetapkan Meridian Alexandria sebagai Meridian Nol. Seiring runtuhnya peradaban Mesir Kuno, perkembangan kemudian beralih ke India dimana ilmu astronomi berkembang pesat di anak benua ini. Dan astronom-astronom India menetapkan Meridian Arin/Ujjayn (sekarang di bujur 75 47' BT) sebagai Meridian Nol. Di Arin ini pula kemudian dibangun observatorium besar pada masanya, yang terdiri dari gnomon raksasa (sesuai teknologi saat itu). Ketika Islam berkembang, astronom Muslim kemudian mengikuti tradisi India ini hingga beberapa lama kemudian. Namun di masa Ibn Maimun (Maimonides), ada kesepakatan di antara geografer dan astronom Muslim masa itu untuk menggunakan bujur 59 BT sebagai Meridian Nol, yakni meridian yang melintas di dekat kota Mashad (Iran) sekarang.

Meridian Greenwich baru ditetapkan sebagai Meridian Nol pada 1851 atas upaya Sir George Airy, direktur Royal Observatory of Greenwich. Penetapan ini "menyontek" tradisi Arin/Ujjayn yang menjadi Meridian Nol karena adanya bangunan observatorium besar. Namun Greenwich baru ditetapkan secara formal sebagai Meridian Nol pada Oktober 1884 saat berlangsung konferensi meridian internasional yang difasilitasi Presiden Chester Arthur di Washington, yang dihadiri 25 negara. Dari hasil voting, mayoritas delegasi memilih Greenwich sebagai Meridian Nol, karena POPULARITAS-nya. Memang sejak masa Airy Meridian Nol Greenwich telah diperkenalkan secara massif oleh pelaut-pelaut Inggris ke rekan-rekan mereka, sehingga pada 1884 itu dua pertiga armada kapal di Eropa dan Amerika telah menggunakan Greenwich sebagai referensinya. So, tentu saja ketika divoting jadi menang mudah.

Namun penetapan ini bukannya tanpa masalah. Perancis - yang selalu bersaing dengan Inggris sejak 1066 CE ketika William menginvasi Britania dan mengobarkan pertempuran Hasting - memilih abstain pada voting dan memutuskan menggunakan Meridian Paris sebagai Meridian Nol-nya. Ini bertahan sampai beberapa dekade, sebelum kemudian bergabung dengan Greenwich.

Namun "perseteruan" belum usai. Ketika tiba era satelit-satelit navigasi (seperti Navstar Global Positioning Systems yang mendunia itu), Bureau International de l'Heure mengkompilasi hasil-hasil observasi bintang-bintang dari berbagai negara guna menetapkan Meridian Nol Geodetik Sistem WGS84, yang kemudian menghasilkan Universal Time (UT). Hasilnya, Meridian Nol Geodetik WGS84 itu tidak tepat berimpit dengan garis nol Greenwich, namun melintas 102,5 meter di sebelah timurnya. So, kisahnya seperti Tugu Khatulistiwa Pontianak (yang juga tidak tepat berada di lintasan garis Khatulistiwa, namun terpisah sekitar 105 m).

Tentu saja ini menyebalkan buat otoritas Greenwich yang aristokrat itu. Konon saking sebalnya, Greenwich kemudian menandai lintasan Meridian Nol Geodetik WGS84 di lingkungan mereka dengan BAK SAMPAH (!), bandingkan dengan Meridian Nol Greenwich yang dihias lempengan baja dengan lampu bersinar di dalamnya, masih dilengkapi lagi dengan sorotan sinar laser dan tiap orang yang melintas di atas lempengan baja ini akan mendapat surat keterangan telah berdiri di Meridian Nol Greenwich. Namun bak sampah ini tidak menghalangi kian populernya sistem WGS84. Kini dari urusan meteorologi, seismologi, telekomunikasi satelit dan seluler hingga penerbangan antariksa semuanya merujuk ke sistem ini.

Sifat Dasar Gregorian

Kalender Gregorian ini kalender hitungan murni yang berbasis surya (solar). Hitungan berpusat pada Meridian Nol Geodetik WGS84, dimana daerah-daerah lain di Bumi tinggal menyesuaikan dengan memperhatikan beda waktunya. Secara astronomis kalender ini mempunyai Julian Day (JD), yakni jumlah hari yang telah dilalui semenjak 1 Januari 4712 BCE pukul 12:00 UT. Misalnya tanggal 6 Mei 2006 pukul 11:00 WIB itu punya JD = 2454592,66667.

Transisi JD ditetapkan terjadi ketika Matahari dalam posisi transit di Meridian Nol Geodetik, sehingga arah bayangan sinarnya tepat berimpit dengan meridian ini. Namun mengingat transitnya Matahari di Meridian Nol Geodetik tidak selalu terjadi tiap pukul 12:00 UT (ingat adanya perata waktu atau equation of time yang selalu berubah secara periodik sepanjang tahun Julian), sehingga kemudian ditetapkan transisi Julian Day berlangsung tiap pukul 12:00 UT. Konsekuensinya pergantian hari di Bumi juga berlangsung pada pukul 12:00 waktu setempat.

Dalam praktiknya, pergantian hari sipil di kalender ini ditetapkan tidak sama dengan transisi JD. Dengan anggapan merepotkan dan tidak praktis, maka transisi hari sipil kemudian dimanipulasi, sehingga ditetapkan terjadi tiap pukul 00:00 waktu setempat. Maka meski Meridian Nol Geodetik WGS84 itu berlokasi di Greenwich, namun garis Batas Penanggalan Internasional (IDL) untuk kalender Gregorian terletak di bujur 180 yang berselisih 12 jam terhadap UT. Secara kebetulan garis bujur ini melintas di wilayah yang sangat jarang populasi manusianya, karena membelah Samudera Pasifik.

Manipulasi waktu memang acap diterapkan pada kalender Gregorian ini. Sebut saja misalnya konsep DST (Daylight Saving Time) yang diterapkan di musim semi - panas (Maret - Oktober) di mayoritas negara-negara empat musim. Dengan alasan di musim semi - panas waktu siangnya terlalu panjang sehingga tidak produktif, maka dilakukanlah manipulasi dimana waktu setempat dikurangi 1 jam. Namun belakangan setelah manfaatnya dirasakan tidak ada (atau sangat minim) maka beberapa negara memutuskan menanggalkan konsep DST.

Terlepas dari masalah manipulasi waktu ini, ada konsistensi antara benda langit acuan (Matahari) dengan definisi pergantian hari (yakni saat Matahari transit di Meridian Nol Geodetik) dalam kalender Gregorian.

Sifat Dasar Hijriyyah

Berbeda dengan Gregorian, kalender Hijriyyah itu jenis kalender observasional (pengamatan), yang berbasiskan peredaran Bulan (lunar) murni dengan definisi transisi antar harinya ditetapkan pada saat sunset (ghurub) setempat. Dalam kalender ini juga terdapat Hijri Day (HD) yang mirip dengan JD dalam kalender Gregorian. Bedanya, HD selalu berbentuk bilangan bulat karena dalam kalender Hijriyyah tidak menggunakan suatu meridian pun sebagai acuan. HD dihitung sejak sunset 15 Juli 622 CE.

Disini memang tak ada manipulasi, karena transisi hari sipil juga berlangsung pada saat yang sama dengan transisi HD. Transisi hari ini memang tidak ada rujukan langsungnya, sejauh ini, dengan sumber-sumber hukum Islam, namun secara tak langsung termatub dalam beberapa hadits Nabi SAW yang menyebut transisi lunasi (baca : bulan Hijriyyah) berlangsung pada saat maghrib. Logikanya, jika transisi lunasi berlangsung saat sunset maka transisi hari juga berlangsung pada saat yang sama.

Transisi lunasi dalam kalender ini murni ditentukan berdasarkan visibilitas (keterlihatan) hilaal. Disinilah persoalan terpeliknya berada, karena Umat Islam belum memiliki satu definisi bersama yang operasional tentang hilaal. Memang pengertian "hilaal" telah dieksplisitkan dalam Qur'an dan Hadits Nabi SAW, namun derivasinya ke definisi operasional (misalnya yang berdasarkan parameter fisis-astronomis seperti elongasi minimum, persamaan matematis minimum dll) belum disepakati bersama.

Dari sudut pandang sains (khususnya astronomi dan optika), definisi operasional hilaal memang sudah bisa ditegakkan secara valid dan reliabel, yakni sepanjang memenuhi persamaan matematis Yallop atau Odeh (meski ini juga tidak mutlak, karena masih mengandung ketidakpastian sebesar 22). Dari definisi ini bisa diketahui daerah mana di Bumi (dalam koordinat lintang bujur dan elevasi nol meter dpl) yang diprediksi bisa melihat hilaal untuk pertama kalinya (alias FVA/"first visibility area"). Dan lokasi FVA ini ternyata random, tidak terkonsentrasi pada daerah tertentu di muka Bumi (misalnya, terkonsentrasi pada Meridian Makkah).

Harus disadari bahwa kalender Hijriyyah memang unik. Untuk transisi harinya, ia menggunakan peredaran Matahari seperti halnya kalender surya, hanya saja transisi itu didefinisikan terjadi pada saat sunset. Sementara pada saat transisi lunasi, kalender ini menggunakan KOMBINASI peredaran Matahari dan Bulan, dimana didefinisikan pada saat sunset, Bulan telah mewujud menjadi hilaal (Bulan dalam fase sabit paling tipis yang sudah bisa diamati).

Implikasi Meridian Nol Hijriyyah

Penetapan Meridian Makkah sebagai Meridian Nol Hijriyyah sebenarnya tidak membawa banyak implikasi. Mari kita ambil ilustrasi zona Waktu Indonesia bagian Barat (WIB) sebagai contoh. Selang waktu WIB dengan Meridian Makkah tetap 4 jam, tidak berubah. Demikian juga arah kiblat dari WIB tetap di sekitar azimuth 295 dengan sedikit variasi sangat kecil dari satu tempat ke tempat lain (dalam orde menit busur).

Sekarang, mari anggap bahwa garis Meridian Nol Hijriyyah (alias MNH) itu berimpit dengan Meridian Makkah (tanpa harus dimanipulasi misalnya dengan menggesernya ke garis bujur yang berselisih 180 terhadap Meridian Makkah). Dan mari ingat definisi transisi hari dalam Hijriyyah : terjadi pada saat sunset. Ambil contoh saat Matahari terbenam di Meridian Makkah dan itu menandai awal hari Jum'at. Pada saat itu kita yang ada di zona WIB sudah 4 jam memasuki hari Jum'at dan mungkin sebagian dari kita sedang menjalankan rutinitas tahlilan dan yasinan. Sementara saudara-saudara kita yang ada di Maroko misalnya (zona waktu = Waktu Makkah - 3 jam), tentu saja mereka belum memasuki hari Jum'at karena belum sunset. Dan saudara-saudara muslim yang ada di pantai timur benua Amerika (zona waktu = Waktu Makkah - 6 jam) bahkan baru melaksanakan ibadah shalat Dhuhur di hari Kamis karena Matahari masih ada di atas kepala mereka.

Kondisi seperti itu juga tetap tak berbeda meskipun MNH digeser ke Meridian Nol Geodetik WGS84. Ketika Matahari sedang sunset di Makkah, tetap saja kita di zona WIB sudah mendahului 4 jam sementara mereka yang ada di pantai timur Amerika menyaksikan Matahari masih di atas kepala. So, baik MNH ditetapkan berimpit dengan Meridian Makkah ataupun Meridian Nol Geodetik WGS84, tidak ada perbedaan dalam melaksanakan ibadah shalat lima waktu dan shalat Jum'at. karena waktu-waktu shalat ditetapkan berdasar kedudukan lokal Matahari, bukan merujuk pada kedudukan global yang dipatok pada letak Meridian Nol Hijriyyah.

Implikasi baru akan muncul pada transisi lunasi. Berbeda dengan kalender Gregorian dimana hitungan jumlah hari dalam lunasinya sudah eksak (Januari = 31, Februari = 28 atau 29 untuk kabisat, Maret = 31 dst) dan tidak didasarkan pada fenomena alam tertentu, transisi lunasi Hijriyyah bergantung kepada visibilitas hilaal. Dan visibilitas hilaal adalah persoalan statistik. Pada bola Bumi ini senantiasa terdapat daerah yang pertama kali bisa melihat hilaal (terutama dengan alat bantu) yang dinamakan daerah first visibility area (FVA). Nah sebagai persoalan statistik, maka letak FVA ini random, tak pernah menggerombol di satu tempat di muka Bumi.

Inilah persoalannya. Memang dalam ilmu falak dikenal sistem hisab urfi, yang mendasarkan transisi lunasinya pada pola mirip Gregorian (misalnya Muharram = 30, Shaffar = 29 dst kecuali untuk Sya'ban, Ramadhan dan Zulka'idah). Jika sistem urfi' dipakai dan Meridian Nol Hijriyyah ditetapkan berimpit dengan Meridian Makkah, maka kita akan menjumpai pola konsistensi yang sama dengan kalender Gregorian. Namun mayoritas pakar falak lebih menyarankan penggunaan sistem hisab hakiki yang mendasarkan pada kemungkinan munculnya hilaal, untuk kemudian dilengkapi dengan rukyat pada 3 awal bulan suci. Dan dengan sifat random FVA, maka sulit sekali untuk menerapkan transisi lunasi itu ditetapkan bermula dari Meridian Nol Hijriyyah di Makkah. Kita bisa lihat hal ini misalnya seperti untuk menetapkan 1 Jumadil Ula 1429 H ini. Dengan menggunakan kriteria Yallop, kita tahu FVA itu ada di koordinat 62 LU 51 BB. Tentu rancu sekali jika kemudian kita memaksakan menggeser FVA ke 50 BT (Meridian Makkah). Jika itu terjadi, ya artinya kita sedang melakukan manipulasi waktu, hal yang dikecam dalam Qur'an. Selain itu, hal ini juga merubah sifat dasar kalender Hijriyyah dari murni observasional menjadi "hitungan", satu hal yang lagi-lagi tak ada rujukannya.

International Lunar Dateline

Alih-alih menetapkan Meridian Makkah sebagai MNH, sejumlah cendekiawan Muslim dipelopori Prof. Ilyas di Malaysia pada 1980-an, memilih untuk mendeskripsikan entitas baru yang disebut International Lunar Date Line (ILDL) atau Garis Batas Penanggalan Lunar Internasional. Beda dengan International Date Line (IDL) pada kalender Gregorian yang berfungsi sebagai meridian transisi hari, ILDL lebih berperan sebagai garis transisi lunasi. Dan garis ini SELALU TIDAK BERIMPIT dengan salah satu garis meridian manapun di Bumi. Dan sesuai dengan sifat random FVA, lokasi garis ILDL ini pun selalu berpindah pindah dari satu transisi ke transisi lunasi berikutnya.

Jika kita konsisten untuk berpegangan pada ILDL ini, sebenarnya persoalan kalender Hijriyyah universal sudah terselesaikan dengan sendirinya. Acuannya sederhana. Di sebelah barat garis ini, jelas hilaal lebih mungkin nampak, sementara di sebelah timurnya hilaal mustahil/tak mungkin nampak. Dan jelas juga, jika kita konsisten dengan penggunaan ILDL ini, kita tidak perlu mengompromikannya dengan sistem yang dipakai dalam kalender Gregorian (seperti yang selama ini berlangsung, ntah disengaja apa tidak).

So, ini memang terdengar 'menjijikkan' bagi sejumlah saudara kita ketika kota suci Makkah dengan Meridiannya ternyata tidak selalu berada dalam lokasi ILDL. Namun hal ini masih lebih baik ketimbang kita harus melakukan manipulasi waktu, dengan menetapkan Meridian Makkah sebagai ILDL padahal senyatanya tidak selalu demikian. Dan manipulasi waktu semacam ini, kita tahu, dikecam dalam Qur'an.

Salam,
Ma'rufin

Milis Eramuslim
Dikirim oleh: lasykar5
Selasa, 13 Mei 2008


Cetak Artikel
  Cetak Artikel