Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Minggu, 27 Jan 2008,
Sisi Gelap Paus Pius XII

Sejarah kehidupan Paus adalah sejarah yang penuh dengan ironi. Demikianlah setidaknya kesan yang akhir-akhir ini mencuat ke permukaan. Kehidupan Paus yang merupakan representasi orang-orang suci telah ternodai oleh sekian fakta sejarah yang mengungkap sisi gelap di balik kedudukannya sebagai benteng moral umat (moral force).

Setelah penyimpangan seksual para Paus terbongkar, kini bentuk-bentuk destruksi moral lainnya, seperti diskriminasi rasial, misalnya, sedikit demi sedikit mulai terkuak. Kenyataan inilah yang menimpa Eugenio Pacelli, Paus Pius XII yang lahir di Roma pada 2 Maret 1876. Nama besar serta latar belakang keluarga yang baik ternyata tidak berbanding lurus dengan realitas kepemimpinannya yang banyak menuai kritikan. Sebagaimana kita ketahui, Pacelli adalah sosok cerdik yang selalu berlindung di bawah payung otoritas gereja ketika mengeluarkan kebijakan-kebijakan konspiratif bernuansa rasial, sehingga jejak-jejak kelamnya banyak yang tidak tersingkap.

Beberapa abad sebelum Pacelli lahir, Nostradamus (1503- 1566) --seorang pengarang ramalan terkenal asal Perancis-- memang sudah meramalkan tentang munculnya seorang Paus yang sangat membahayakan, tidak hanya bagi umat Kristiani sendiri tetapi juga bagi masa depan umat manusia pada umumnya. Tentu sang Paus itu tak lain adalah Pacelli. Ramalan ini ditulis dalam buku Les Propheties yang di terbitkan di Lyon pada 1555 dalam bentuk syair.

"Sesudah kematian Paus yang sangat uzur itu, seorang Paus separuh umur akan dipilih. Dia akan dituduh membahayakan Jabatan Suci (Holy See) dan akan bertahan selama satu masa yang lama, melakukan pekerjaan berkontroversi."

Ramalan ini ternyata bukan isapan jempol. Setelah Paus Pius XI meninggal pada 10 Februari 1939 dan diganti Eugenio Pacelli, banyak keputusan kontroversial yang dilakukan dengan menggunakan otoritas lembaga Kepausan sebagai legitimasinya. Di antara sekian keputusan kontroversial itulah yang coba dibedah dengan cukup kritis oleh John Cornwell melalui buku Hitler's Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler ini.

Jejak kelam Pacelli sebenarnya sudah terlihat sejak ia menjabat sebagai Sekretaris Negara Vatikan, di mana pada 1914 ia menandatangani sebuah perjanjian dengan Serbia yang memberi andil meningkatnya ketegangan yang memicu Perang Dunia I. Dalam perjanjian yang dikenal dengan Konkordat Serbia tersebut, Vatikan secara tidak langsung memberi peluang kepada Serbia untuk melakukan pencabutan hak-hak protektorat Kekaisaran Austro-Hungaria atas kantong-kantong Katolik yang berada di wilayah Serbia (hlm. 53).

Dua puluh tahun kemudian setelah Konkordat Serbia berlalu, tepatnya pada 1933, Pacelli bersama Adolf Hitler menandatangani sebuah Konkordat yang ditengarai menjadi pemicu munculnya serentetan konfrontasi berbau rasial yang berimplikasi besar terhadap dunia: tragedi Holocaust, suatu pembantaian terhadap jutaan warga keturunan Yahudi di berbagai negara Eropa semasa Perang Dunia II oleh Nazi Jerman.

Ketika tragedi Holocaust ini meledak, Pacelli yang menjabat sebagai Paus Pius XII tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya diam. Keputusan ini diambil karena dalam perjanjian Konkordat disebutkan tentang jaminan tidak adanya intervensi terhadap rezim Hitler yang memang berkeinginan kuat untuk membumihanguskan kaum Yahudi. Sebagaimana yang selalu didengung-dengungkan Hitler bahwa "orang-orang Yahudi akan dimusnahkan, paling tidak untuk selama 1000 tahun!"

Berdasarkan fakta ini, kemungkinan masih menguatnya sikap antipati -untuk tidak mengatakan anti-Judaisme- sang Paus Pius XII pada orang-orang Yahudi bisa dibenarkan. Sebab kalau dirunut dari sisi kronologis-historisnya, antipati Kristen pada orang-orang Yahudi terlahir dari keyakinan semenjak masa gereja Kristen awal, bahwa orang-orang Yahudi telah membunuh Yesus Kristus (hlm.19). Dengan demikian, tidak heran jika dikatakan bahwa antara Pacelli dan Hitler sebenarnya mempunyai inisiatif dan komitmen yang sama, yakni "mengamini" dan mendukung tragedi Holocaust sebagai bagian dari agenda politis.

Karena itu, pernyataan Pacelli bahwa negoisasi Konkordat-nya dengan Hitler merupakan upaya untuk membumikan perdamaian dan mempererat hubungan antara Istana Kepausan dan Jerman, hanyalah sebentuk apologi yang menyimpan keculasan dan kekejian. Sebab, bersamaan dengan itu Pacelli bersama Hitler diam-diam melakukan penggembosan terhadap pihak-pihak dan institusi-institusi yang diprediksi dapat menentang keputusan-keputusan yang nantinya akan dihasilkan.

Jelas ada sesuatu yang ambigu dari pernyataan dan sikap Pacelli tersebut. Kita bisa membacanya secara kritis, bagaimana mungkin Pacelli berinisiatif melindungi orang-orang Yahudi dari kekejian rezim Hitler jika dalam perjanjian Konkordat disebutkan bahwa ia tidak akan mencampuri urusan-urusan pemerintah? Bahkan sebagai imbalan dari kesepakatan itu, bukankah gereja Katolik di Jerman beserta partai politik dan ratusan asosiasi serta surat kabar dengan "suka rela" mengikuti inisiatif Pacelli untuk menarik diri dari tindakan sosial dan politik?

Dalam konteks inilah sangat tampak keculasan Pacelli dalam menggunakan lembaga Kepausan sebagai legitimasi untuk membungkam kritik massa yang kontra dengan keputusan-keputusan kontroversialnya. Lewat keberhasilannya menutup sejarah kelam, tak pelak jika Pacelli di usia tuanya meraih reputasi sebagai orang bijak dan orang suci.

Namun demikian, sepandai-pandai orang menyimpan bangkai pasti tercium juga baunya. Pacelli kini tidak lagi menjadi ikon yang dibanggakan. Di Eropa, kisahnya hampir menyamai Hitler. "Pacelli bukanlah sebuah potret kejahatan namun sebuah potret tentang dislokasi moral yang fatal --pemisahan kekuasaan dari kasih Kristiani. Konsekuensi-konsekuensi dari pemutusan tersebut berupa kolusi dengan tirani dan, akhirnya, dengan kekejaman," tulis John Cornwell dalam buku ini. (*)

A. Yusrianto Elga, pengelola Taman Baca "kutubuku" Jogjakarta

Judul Buku : Hitler's Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler
Penulis : John Cornwell
Penerbit : Beranda, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2008
Tebal : xxxi + 520 Halaman

Milis Eramuslim
Dikirim oleh: Beranda Publishing
Senin, 4 Februari 2008


Cetak Artikel
  Cetak Artikel