Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Ketika puluhan ribu orang memburu terbitan perdana majalah Playboy Indonesia dengan harga tergolong mahal, maka perhatikanlah ini: Hirma Maya Maysaroh, 10 tahun, sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Dia miskin, lumpuh, kurus, matanya cekung. Dia anak yatim. Ketika puluhan ribu orang membuang uang puluhan ribu rupiah hanya ingin menyaksikan gambar-gambar gadis Playboy --yang diharap dapat memuaskan nafsunya-- maka perhatikanlah ini: Muhini beranak tiga, berbagai penyakit menderanya. Suaminya sudah tiada.

Muhini dan Hirma Maya Maysaroh --ibu dan anak. Kedua-duanya, seperti diberitakan Republika (11/4), lumpuh dengan penyebab berbeda. Muhini, 48 tahun, terkena stroke dan menderita tuberkulosa (TB). Penyakit TB itu menyebar pula pada anak bungsunya, Hirma. Selain TB, Hirma --hanya kulit melapisi tulang-tulang tubuhnya-- juga menderita gizi buruk. Berat badannya 18 kilogram dari semestinya 25 kg. Kulitnya rusak dan terdapat luka borok di paha kirinya.

Muhini kini dirawat di lantai delapan Rumah Sakit Tarakan, Jakarta, atas bantuan Camat Tamansari dan Lurah Pinangsia. Putrinya, Hirma, dirawat dua lantai di bawahnya di rumah sakit yang sama. Muhini dan Hirma lebih beruntung karena ada yang peduli.

Bagaimana dengan Suharto dan mungkin ratusan bahkan ribuan lain anak-anak yang menderita gizi buruk? Pelajar SMP kelas 1 MTs Dua'ul Fukro Bojong Bitung, Kabupaten Tangerang, itu hanya pasrah ketika berat badannya semakin turun dan hanya tersisa 18 kg. Orang tuanya, pedagang kecil, tak punya apa-apa untuk menolong anaknya meregang nyawa. Suharto, 11 tahun, wafat pertengahan bulan lalu dalam belitan kemiskinan.

Kini, pikirkanlah sampai awal April ini saja sudah ada 741 balita yang tercatat berstatus gizi buruk di Jakarta. Jumlah ini bagian dari 76.178 anak di seluruh Indonesia. Angka itu diberitakan menurun sekitar 1,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun apa pun, ada banyak orang tak berdaya, menderita, dan bahkan sedang meregang nyawa di sekeliling kita.

Kemiskinan dan ketidakberdayaan ada di sekeliling kita --sementara pada saat bersamaan, sebagian dari kita dengan gagah mengeluarkan puluhan ribu rupiah memburu Playboy hanya untuk memuaskan nafsu. Kita lebih suka bertengkar tentang RUU Antipornogafi dan Pornoaksi, lebih suka menyalahkan pemerintah seakan pemerintah memiliki lampu Aladin yang dapat melakukan apa saja seketika.

Kita telah berubah menjadi bangsa yang suka bergunjing dan menyalahkan. Pemimpin-pemimpin politik --yang pernah berkuasa-- agaknya merasa begitu gagah ketika mencela, seakan mereka adalah orang-orang yang berhasil dan sangat mencintai rakyat. Mereka tampil dalam wajah yang berseri, padahal persoalan hari ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari masa ketika mereka berkuasa. Tidakkah sangat indah jika mereka berkata: Ayo, kita bersama membangun bangsa ini, sebab rakyat yang menderita itu adalah juga pendukung saya.

Hirma Maya Maysaroh sedang menderita. Ribuan lain juga bernasib sama. Mereka tak memerlukan politisi yang bertengkar, saling menyalahkan, dan mencari celah agar dianggap sebagai pahlawan. Mereka tak memerlukan Playboy, media-media pengumbar tubuh wanita, dan cerita-cerita tentang perselingkuhan. Mereka tak membutuhkan mal-mal baru untuk orang-orang memamerkan kekayaannya.

Hirma Maya Maysaroh dan puluhan ribu anak-anak lainnya tak butuh semua itu. Mereka membutuhkan kepedulian, kasih sayang, dan cinta kita. Jangan biarkan mereka letih mengetuk-ngetuk pintu rumah kita, karena jemarinya sangat lemah: Bukalah pintu selebar-lebarnya untuk mereka, anak kita, yang kedinginan dan dalam gulita.

< Oleh: Asro Kamal Rokan >

Milis FEUI82
Dikirim oleh: Irwan B. Afiff
Jum'at, 21 April 2006


Cetak Artikel
  Cetak Artikel