Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




http://abdulrahmanmajid.blogspot.com

H.Abdul Rahman,Lc.*

Setiap kali kita mendengar kata peradaban pasti akan terlintas dibenak kita tentang kemajuan suatu komunitas yang diindentikkan dengan kekuatan yang bersifat materi. Kongklusi ini bukan suatu yang salah -walaupun terkadang kurang tepat- karena secara sepintas salah satu representasi dari sebuah peradaban adalah kekuatan materi. Namun sesungguhnya sebuah peradaban selalu mensyaratkan empat hal : pertama tempat, kedua manusia, ketiga nilai dan keempat sumberdaya. Sedangkan materi hanya bagian dari sumber daya yang bersifat ikutan dari komponen keempat.

Dalam sejarah tercatat bangunan peradaban ini sudah dirintis oleh Nabi Ibrahim as, sejak pertama kali beliau datang ke Mekkah. Landasan bangunan peradaban tersebut telah beliau semai dengan sebuah ungkapan doa yang menjadi sebuah kenyataan yang setiap kita bisa menyaksikannya sekarang, doa yang Allah abdikan dalam Surah Ibrahim (14) : 37

“Rabbana aku telah tempatkan istri dan anak keturunanku di lembah yang tidak ada pohon di dalamnya, Rabbana jadikan mereka orang-orang yang menegakkan shalat, jadikan hati sebagian manusia -yaitu yang beriman- cenderung untuk mengunjungi mereka dan karuniakan kepada mereka buah-buahan agar mereka menjadi orang-orang yang bersyukur”.

Dalam doa ini terkadung empat komponen syarat sebuah peradaban, yang pertama : manusia, dalam doa ini Nabi Ibrahim As menyebutkan dirinya, istri dan anaknya yang merupakan unsur pertama sebuah peradaban, yang kedua : tempat, Nabi Ibrahim menyebut lembah yang tidak ada pepohonan yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Mekkah, yang ketiga : nilai dalam bentuk keyakinan dan permohonan yang sarat dengan nilai-nilai yang mulia dan yang keempat : sumberdaya dalam bentuk kekuatan material yang di representasikan dengan uangkapan buah-buahan. Inilah cikal bakal peradaban yang kemudian hari menjadi pusat perubahan peradaban dunia.

Doa yang menjadi sumber Inspirasi peradaban.

Untaian doa yang dilantunkan oleh Nabi Ibrahim as mengandung nilai-nilai besar yang menjadi sumber inspirasi pembentukan sebuah peradaban, diantara nilai tersebut adalah :


  1. Keyakinan. Dalam kondisi yang secara rasional sangat sulit untuk dipenuhi keinginanannya, beliau mengungkapkan dua hal yang bertolak belakang, pertama : tanah yang gersang -tidak ada pohonan-, ini adalah satu kondisi yang disadari tidak mungkin mendapatkan buah sebagai bekal untuk istri & anaknya, kedua : meminta agar Allah mengaruniakan buah-buahan. Ini adalah sebuah keyakinan atas kemutlakan kekuasaan Allah yang bisa berbuat melampui batas-batas kausalitas rasioanalitas makhluk-Nya. Inilah telaga rasa optimis yang tidak akan pernah kering.

  2. Kekuatan spiritual. Disamping keyakinan yang sangat kuat, hal yang beliau minta adalah kekuatan membangun hubungan dengan Allah dalam bentuk menegakkan shalat. Karena dari sinilah otot-otot spiritual dan emosional seorang manusia yang merupakan subjek sebuah peradaban akan kuat. Bagaikan sebuah karet, jiwa seseorang yang memiliki hubungan yang baik denga Rabbnya akan kenyal, tidak mudah dihancurkan, dipatahkan dan dilemahkan.

  3. Hubungan dengan orang lain. Nabi Ibrahim menyadari bahwa tidak mungkin dia bisa hidup hanya dengan keluarganya saja, maka dia memohon kepada Allah agar Allah memberikan keistimewaan kepada Keluarganya sehingga hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, tentunya keistimewaan tersebut adalah nilai-nilai luhur berupa akhlak yang mulia. Dan dalam sejarah, Nabi Ibrahim dan keluarganya di kenal sebagai manusia yang memiliki kepribadian yang mulia sehingga banyak manusia yang simpati kepada mereka dan ingin tinggal bersama mereka.

  4. Kekuatan sumberdaya. Factor keempat ini merupakan ikutan/turunan dari dedikasi dan kekuatan kepribadian namun Nabi Ibrahim tetap memintanya secara khusus “Warzuqhum muinatsamarati”. Karena ketika kekuatan ini dimiliki oleh orang-orang shaleh maka akan dimanfaatkan untuk kemaslahatan kemanusiaan dan totalitas penyembahan kepada Rabb semesta Alam. Disamping itu ketika kekuatan ini menyatu dengan nilai-nilai maka akan mudah untuk mengeksekusi nilai tersebut dalam kehidupan nyata dan lebih luas dan ini akan memberikan pengaruh yang besar dalam proses pembentukan peradaban.

Aplikasi Nilai-Nilai Peradaban.

Dalam Ibadah Haji terdapat aplikasi nilai-nilai peradaban yang akan menjadikan umat Islam memimpin peradaban dunia, diantara aplikasi nilai peradaban tersebut :


  1. Rabbaniyah. Yaitu penegakan nilai-nilai ketauhidan, inilah tonggak utama sebuah peradaban. Maka Nabi Ibrahim sebagai pendiri Kota Mekkah merupakan pelopor ketauhidan dan perintah yang pertama kali Allah swt sampaikan ketika Nabi Ibrahim, as selesai membangun Ka’bah adalah menghilangkan segala bentuk sembahan selain Allah swt, sebagaimana firman-Nya :

    “Dan (ingatlah), ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu Ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud." (22:26)

  2. Persamaan. Dalam Ibadah Haji tidak ada perbedaan diantara manusia, mereka semua sama dalam satu pakaian, yang menunjukkan bahwa perbedaan diantara mereka hanyalah satu yaitu ketaqwaan. Dalam hal ini Baginda Rasul telah menegaskan dalam sabdanya :

    “Tidak ada keutamaan orang arab diatas selain arab, orang yang berkulit putih diatas yang berkulit hitam kecuali yang membedakan mereka adalah taqwa”.

  3. Perdamaian. Dalam Ibadah Haji tersemai semangat perdamaian dengan begitu kuat, karena ibadah haji dilaksanakan dibulan-bulan yang dihormati (Asyhurul hurum) yang tidak boleh ada peperangan di dalamnya. Dan bagi yang melaksanakan ibadah haji dilarang untuk berburu dan mencabut pohonan. Disamping itu dengan sesama muslim yang melaksanakan ibadah haji agar menjaga adab agar tidak ada yang disakiti. Allah swt abadikan dalam firman-Nya :

    “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.” (2:197)

  4. Kedisiplinan. Rangkaian ibadah haji sangat panjang dan melelahkan, maka ketika tidak dilakukan dengan kedisiplinan yang tinggi -terlebih ketika dilakukan oleh jumlah manusia yang sangat banyak- maka akan mengalami hal-hal yang bisa jadi justru tidak sesuai dengan tujuan dari pelaksanaan haji yaitu mendapat haji yang mabrur dengan semakin kokoh dan tercerahkannya jiwa.

  5. Terbiasa survive. Dalam melaksanakan haji suasanannya serba kurang, disamping waktu dan tenaga yang harus di kuras, maka sesungguhnya haji mengajarkan agar setiap mukmin menjadi manusia yang survive disetiap keadaan, karena hanya dengan sikap seperti itu sebuah peradaban bisa di bangun, dalam sebuah hadits Rasul saw mengisyaratkan hal tersebut :

    “Seorang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah swt dari Mukmin yang lemah dan di keduanya banyak kebaikan.” (HR.Bukhari).

Karakter Peletak Peradaban.

Sebagai peletak fondasi peradaban, Nabi Ibrahim dan keluarganya telah menjadi contoh yang nyata sebagai manusia-manusia tangguh yang pantas diabadikan oleh Allah dalam firman-firman-Nya sebagaimana Firman Allah dalam Surah 60:4 :

“Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia...”

Nabi Ibrahim, as dikenal sebagai Pelopor Tauhid yang berani mengorbankan jiwa raga untuk mempertahankan keimanannya sehingga dia harus di bakar oleh raja yang kejam yang dengan pertolongan Allah dia bisa selamat dari kobaran api.

Ibunda Hajar sebagai seorang Istri pejuang, diapun memiliki jiwa yang kuat dan keyakinan yang tangguh. Ketika dia ditinggal oleh suami tercinta di sebuah lembah yang gersang dan sunyi dengan perbekalan yang minim bersama bayi yang masih merah –setelah dia tahu bahwa kepergian suaminya karena perintah dari Rabbnya- maka dengan penuh keyakinan dia selalu berkata :

“Apabila ini adalah perintah dari Allah maka Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kami”.

Demikianlah kesusahan dan kesulitan ketika ditinggal sang suami bisa dia lewati dengan bekal keyakinan dan kekuatan jiwa.

Ismail as, sebagai buah dari seorang ayah yang taat kepada Rabbnya dan Ibu yang kuat keimanannya menjadi seorang anak yang sangat tangguh jiwanya, hal itu dibuktikan dengan jawaban yang melampui batas umurnya yang masih sangat belia ketika sang Ayah tercinta berkata :

"Hai anakku, Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS.37:102)

Demikian haji dan latarbelakang sejarahnya telah memberikan sebuah pelajaran yang sangat besar bahwa peradaban hanya mampu dibangun oleh manusia-manusia tangguh yang menyerahkan dirinya secara totalitas kepada Allah swt.

Dan Mekkah telah menjadi pusat peradaban dengan keistemewaan yang tidak dimiliki oleh tempat lain. Menjadi Pusat pelaksanaan Shalat, menjadi tempat yang dicita-citakan untuk dikunjungi dan menjadi tempat berkumpulnya berbagai macam kekuatan materi dan non materi yang dimiliki oleh Umat Islam sepanjang Zaman.

*- Ketua MPW Partai Keadilan Sejahtera Propinsi Kep. Riau

- Aleg DPRD I Prop. Kepri dari Fraksi PKS

Milis Eramuslim
Dikirim oleh: Alfaqir Ahmad Saikhudin Djaelani
Rabu, 17 Desember 2008


Cetak Artikel
  Cetak Artikel