Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Sebuah kotak mungil, ringan. Dibungkus dengan kertas kado nan indah. Diikat dengan pita kuning nan manis. Cantik! Selembar kertas krem bertulisan tangan rapi terselip diantaranya.
Aku menimangnya. Nyaris tak berani membuka bungkusnya. Bukan, bukan tak berani tepatnya. Tapi sayang. Kado kecil itu rasanya terlalu indah untuk dibuka. Lagipula, perjalananku masih panjang.

Takut kalau dibuka akan rusak. Seharian aku membiarkannya tetap di dalam kantong kertas pembungkusnya dan hanya menentengnya saja. Bahkan memasukkannya dalam tas pun aku tak rela. Khawatir ringsek. Tapi akhirnya malam itu kubuka juga. Mula-mula hanya satu sisi kertas yang kubuka. Kemudian kuintip isinya. Kucoba tarik dari satu sisi. Tak bisa. Ternyata permukaan kertas kado diselotip ke badan kotak. Rasa penasaran akhirnya membuatku memutuskan untuk menyobek bungkusnya. Tiga kotak mungil-mungil menyembul. Tersusun rapi, direkat dengan selotip.

Aku memandangi kotak-kotak mungil itu. Masing-masing berisi satu set bros dan peniti unik bercorak etnik, dengan warna dan model yang berbeda.
Sergapan haru menyelusup ke dadaku. Selintas terbayang wajah lewat di benak.
Bertempat di toko buku di sebuah kawasan perdagangan di Surabaya pada hari Sabtu yang panas, seorang gadis berjilbab rapi menemuiku dengan senyum manis tersungging di bibir. Sedikit terpana aku menyambut uluran tangannya. Cepat aku memutar memoriku, mencoba menemukan file ingatan tentangnya. Wajahnya teramat familiar, namun aku tak jua menemukan identitasnya. Dia kemudian menyebut nama. Aaah! Seorang ukhti yang dengannya aku bertukar cerita dan foto lewat multiply. Meskipun begitu, rasanya sudah lama kami bersahabat.
Aku sama sekali tak menduga bahwa kami akhirnya berjumpa pula. Dan bros itu, menjadi kenang-kenangan terindah yang kuperoleh darinya. Menjadi tanda atas persahabatan kami.

Ketika aku melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, tiga set bros itu terus kujaga. Aku menempatkannya dengan hati-hati di dalam ransel. Bahkan memakainya pun aku sayang. Bagiku, hadiah dari teman adalah salah satu jenis benda yang paling kucintai. Aku akan berusaha merawatnya sebaik-sebaiknya, sebagaimana aku menyimpan kenangan atasnya di ruang-ruang dalam hatiku yang paling dalam.

Ketika mampir ke rumah orang tua di Solo, kotak-kotak bros itu kukeluarkan kembali dari tas. Aku sisihkan di tempat yang aman agar nanti saat kembali ke Jakarta, benda itu tetap utuh dan tidak tergores sedikit pun.
Suatu ketika, Ibu melihatnya.
"Brosnya cantik. Beli dimana?" tanyanya.
"Hadiah dari teman...," jawabku kalem.
"Itu ada yang bentuknya jepitan, bisa dipake untuk menjepit kerudung ibu, nggak?" Tanya ibu lebih lanjut.
"Ibu mau?" Ibu mengangguk.
Sedikit rasa berat melintas di dada, ketika aku mempersilahkan ibu memilih salah satu dari tiga kotak itu.
Bagaimanapun, aku mencintai benda-benda itu. Bagaimana pun hadiah mungil dari sahabat yang entah kapan akan kutemui lagi itu amat berharga. Tapi bukankah memberikan barang yang kita cintai kepada orang lain memiliki nilai tinggi di mata Allah? Pikiran itu membuatku melepasnya dengan gembira. Daripada hanya kusimpan saja, pasti akan lebih bermanfaat ketika bros-bros cantik itu digunakan oleh mereka yang membutuhkan. Apalagi, untuk ibunda tercinta. Apalagi, dalam rangka mendukung ibu untuk lebih sering mengenakan kerudung (dan semoga suatu saat, ibu akan berjilbab rapi setiap hari).

Solo kutinggalkan, menuju Jakarta yang telah menjadi kampung halamanku sepuluh tahun terakhir. Dua kotak bros masih bersamaku. Tetap kusimpan rapi dan kujaga hati-hati.

Di Jakarta, lagi-lagi bros itu hanya kusimpan saja. Setiap kali memandangnya dan ingin mengenakannya, aku selalu saja merasa sayang. Nanti saja kalau ke kondangan, begitu pikirku.
Sampai pagi tadi. Seorang mbak menginap di tempat tinggalku semalam. Selembar jilbab menutup kepalanya, rapi terjulur ke dada, menyempurnakan baju-baju panjang yang telah dikenakannya selama ini. Aku tak punya kado apa-apa untuk kedatangannya yang cukup mendadak. Pun penampilan barunya yang baru kuketahui ketika kami bertemu.
Tiba-tiba aku teringat akan dua set bros itu. Maka sepenuh cinta, kupersembahkan satu set hadiah cinta itu kepada Mbak jilbaber baru yang juga kucintai.
Bersamanya, insyaAllah bros itu akan lebih bermanfaat dan lebih berkesan. Dan bros itu, di dalamnya terkandung kisah perjalanan dan cinta antar sahabat, cinta saudara yang dipersatukan oleh iman.

Pagi ini juga, di atas jilbab krem yang kukenakan, kusematkan sebuah bros berwarna perak bercorak ukiran etnik. Satu set yang tersisa, akhirnya sempat menghiasi jilbabku. Meski mungkin, suatu saat nanti, bros cantik itu akan kembali berpindah tangan.
Lagi, terbayang wajah manis seorang ukhti yang menghadiahkannya padaku beberapa pekan lalu.
Terima kasih, ukhti. Semoga Allah memberikan berkah atas ketulusanmu. Semoga Allah mengaruniakan hidayah bagi orang-orang yang bersaudara karenaNya melalui perantaraan hadiahmu.

Azimah Rahayu
13/10/2005 04:16 WIB

Milis Eramuslim
Dikirim oleh: Manaf
Sabtu, 29 Oktober 2005


Cetak Artikel
  Cetak Artikel