Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Ketika memerintah, al-Ma'mun menulis surat kepada penguasa Romawi, meminta supaya dikirimi buku-buku Filsafat dan budaya Yunani, untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab.

Penguasa Romawi bermusyawarah dengan para menterinya, "Bagaimana? Haruskah kita memberikan kepada mereka buku-buku turats kita?"

Salah seorang uskup yang ada di sana berkata, "Kirimkan saja kepada mereka. Demi Tuhan, tidaklah seorang ahli agama mempelajarinya, kecuali buku-buku itu akan menjadi musibah bagi mereka. Isi buku-buku seperti inilah yang telah menghancurkan agama Musa. "

Apa yang dikatakan oleh uskup penasihat Kaisar Romawi itu benar-benar terjadi. Saat banyak pelajar dan ulama Islam meninggalkan al-Quran, as-Sunnah, dan warisan para salaf; saat mereka lebih memilih budaya Yunani sebagai konsentrasi kajian dan mengadopsinya begitu saja, mereka pun mulai kebingungan dan diliputi keraguan. Kesesatan adalah muara akhirnya.

Terpengaruh oleh apa yang mereka baca, sebagian pelajar Islam yang bergabung dengan orang-orang Zindiq semacam Abdullah bin Muqaffi', seorang sastrawan dan penulis yang masyhur di masa al-Ma'mun, menyatakan bahwa al-Quran adalah makhluk.

Darul Hikmah yang didirikan oleh al-Ma'mun menjadi pusat penerjemahan buku-buku Filsafat Yunani. Kepada al-Ma'mun mereka berkata, "Anda harus meyakini bahwa al-Quran itu makhluk. Jika tidak, Anda sama saja dengan orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa Isa bukanlah makhluk. Apatah lagi di dalam al-Quran disebutkan bahwa Isa adalah kalimat Allah (an-Nisa': 171)."

Al-Ma'mun menelan mentah-mentah pernyataan mereka. Lebih buruknya, al-Ma'mun memaksa semua orang untuk meyakini apa yang diyakininya dan menyiksa mereka yang tidak sependapat dengannya. Semua ini atas usulan seorang tokoh bid'ah yang bernama Ahmad bin Abu Duad.

Ketegaran Imam Ahmad

Menurut riwayat yang shahih, hanya ada tiga ulama pada masa itu yang bersikukuh berpendapat bahwa al-Quran adalah kalam Allah. Dari ketiganya, Imam Ahmad bin Hambal adalah yang paling masyhur. Yang demikian itu karena Imam Ahmad tinggal di Baghdad, ibukota negara; dan beliau adalah ulama Ahlussunnah nomor wahid saat itu. Perlu dicatat, bahwa fitnah Khalqul Quran menyeruak setelah wafatnya Imam Syafi'i, guru Imam Ahmad bin Hambal. Ada juga yang menyebutkan bahwa Imam Syafi'i sempat mendapati awal tersebarnya fitnah ini.

Imam Ahmad ditangkap, dipenjara, dan disiksa dengan cambuk sampai robek perut dan punggung beliau. Meski demikian, beliau tetap pada pendirian dan akidahnya, bahwa al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Meski sebenarnya Imam Ahmad terhitung sebagai orang yang mendapatkan keringanan untuk mengucapkan kalimat kufur, beliau memilih untuk mempertahankan akidahnya. Beliau memilih derita di dunia asalkan dapat menyelamatkan umat dari kesesatan bid'ah ini.

Era al-Ma'mun berakhir dan digantikan oleh al-Mu'tashim, namun ini bukan berarti ujian yang diderita oleh Imam Ahmad berakhir. Al-Mu'tashim melanjutkan penyiksaan kepada para ulama Islam, termasuk Imam Ahmad bin Hambal. Sampai akhirnya al-Mutawakkil menggantikan al-Mu'tashim yang meninggal dunia. Al-Mutawakkil membebaskan Imam Ahmad dan semua ulama Islam yang disiksa oleh dua penguasa pendahulunya.

Ya Allah teguhkanlah hati kami seteguh hati Imam Ahmad bin Hambal!

Selengkapnya di :

http://www.ar-risalah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=61&Itemid=50

Milis Tauziyah
Dikirim oleh: Wirawan
Kamis, 23 Oktober 2008


Cetak Artikel
  Cetak Artikel