Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Di dalam era keterpurukan ummat islam, sering kali terjadi ketika sebuah kelompok Islam dikritik/mengkritik oleh antar kelompok yang lain, dengan tujuan nasihat sesama saudara muslim. Tetapi apa yang terjadi, kadang kala sering kita saksikan ada kritikan yang bersifat kedengkian ataupun berlomba-lomba dengan cara yang tidak sehat. Yang akhirnya dari titik yang tidak sehat ini mulailah saling bermusuhan. Dan hilanglah rasa persaudaraan, bahkan pen-takfir-an sesama saudara muslim.

Untuk meluruskan akan hal itu, perlunya kita memahami bahwa;


  • Sesama muslim bersaudara.
  • Harus dibedakan antara individu jamaah dengan kelompok dakwah.
  • Tujuan perjuangan semata-mata untuk Allah swt (lillahi ta'ala).
  • Tidak fanatik terhadap kelompoknya, tapi fanatik terhadap hukum Allah.
  • Berusaha memahami perbedaan antar kelompok dengan berdiskusi.


Sesama muslim bersaudara

Jika ini yang kita tanamkan terhadap diri kita ataupun kelompok dakwah, maka apapun yang terjadi, maka tidak akan terjadi apa-apa yang kita tidak harapkan, misalnya saling dengki, hibah, bermusuhan, apalagi pembunuhan. Karena mereka adalah saudara kita. Ibaratnya kita punya abang atau adik, sedang mereka tidak sepaham dengan kita. Maka kita tidak akan menikam dari belakang, bahkan kita senatiasa siang dan malam mendoakan mereka agar diberi petunjuk ke jalan yang diridhoi Allah swt. Artinya kita berbeda dalam ide, tapi bersatu dalam yang ma'ruf dan hal-hal yang kita bisa kerja sama di dalam muaamalat.

Harus dibedakan antara individu jamaah dengan kelompok dakwah

Hal ini sering orang keliru dan tidak bisa membedakan antara kedua hal ini, padahal hal ini penting diketahui setiap orang. Padahal konkritnya sangat mudah untuk dipahami. Mungkin memang umat ini sudah terbiasa tidak mau pusing-pusing berfikir yang membuat dua hal ini terlalu tipis untuk dibedakan apalagi untuk didifinisikan.

Saya mencoba ingin membuat perumpamaan bahwa si A mempunyai kelompok namanya IAS (Islam Ahli Sorga) yang dipimpin oleh Z. Lazimnya yang namanya kelompok, biasanya kita pasti tahu ada pimpinannya, ada pemahamannya, ada pengikut/anggota yang beragam pengetahuannya, dsb.
Sepatutnya, jika ingin mengkritik si A maka berbeda dengan kita mengkritik IAS. Mungkin si A hanya ikut-ikutan didalam IAS, ataupun memang aktivis, tapi bukan konseptor di dalam IAS. Maka jika terdapat keburukan di dalam konsep-konsep IAS, maka IAS lah yang harus dikritik, bukan si A. Si A tetap saudara kita selagi mempunyai aqidah yang sama.

Di dalam organisasi IAS, kita tahu misalnya ada yang sholeh, ada yang gak bisa baca al-Qur'an, ada yang sembrono, ada yang baru belajar Islam. Yah namanya juga kelompok besar, sudah barang tentu juga anggotanya beragam. Pengetahuan yang diajarkan oleh suatu kelompok itu berproses tergantung lama dan baru nya ia bergabung, kecerdasan dan lain-lain yang membuat orang tersebut berbeda dengan fikrahnya dari kelompoknya. Sedang konsep kelompok IAS masyaAllah, sangatlah bagus. Misalnya mau berusaha ingin menyelamatkan umat Islam dari api neraka. Nah ketika kita mengenal di dalam kelompok itu si A tidak bisa baca al-Qur'an, kemudian kita katakan ; "Apa itu IAS, mau menyelamatkan orang dari api neraka ??? Baca Qur'an aja gak bisa !!! ".
Nah bentuk ini disebut generalisir atau simplikasi yang tidak menggunakan cara pandang intelektual. Juga redaksi seperti ini dikarenakan kedengkian, karena ketika kita katakan IAS begini dan begitu tapi yang kita lihat si A itu. Kenapa kita tidak melihat si Z juga member dari IAS yang lain, yang hafidz al-Qur'an dan bahkan seorang mujtahid. Maka perlakuan seperti ini tidak kita katakan termasuk dalam katagori nasihat, juga tidak bisa menggunakan hadits "addiinu an-nashiihah". Walaupun boleh jadi bermanfaat bagi yang dinasehati, jika yang dinasehati juga tidak dengki dan memaklumi kejadian itu.

Tujuan perjuangan semata-mata untuk Allah swt (lillahi ta'ala).

Kalau saya boleh mengatakan bahwa kedengkian itu adalah input. Maka segala macam penilaian yang keluar (output) yang terjadi adalah permusuhan, kedosaan dan irrasional. Tapi jika sebagai inputnya nasihat , maka yang akan keluar (outputnya) adalah rahmat, persaudaraan dan ketaqwaan.

Kembali lagi saya mencoba mengulangi contoh kepada si A di dalam IAS yang dipimpin Z ; Tujuan kaum muslimin, apapun kelompoknya, jika aqidahnya sama pasti mereka mempunyai tujuan "lillahi ta'ala". Ketika si A berkiprah dan sibuk kerja-kerja dakwah untuk mengatakan bahwa ; Babi haram. Bank ribawi haram dan pelakunya masuk neraka. Kita harus menerapkan Islam agar kita terbebas dari api neraka, dsb. Maka kita tidak boleh menolak ide si A dengan mengatakan ; "ude deh, jangan ngomong mulu ! Baca qur'an aja gak bisa !". Atau dengan mengatakan ; "Ente tau apa sih ?!" Padahal apa yang dikatakan si A itu benar dan itu yang diadopsi IAS. Seharusnya kita malah mendukung apa yang dikatakan si A.

Memang kedengkian kadangkala membuat kita ingin merendahkan orang, agar dagangan kita laku dan kita sajalah yang diterima oleh orang yang kita dakwahi. Seharusnya juga jika memang tujuan kita liLlahi ta'ala (untuk Allah), sepatutnya kita bersyukur ada orang yang sudah meringankan beban dakwah kita, bukan malah merintangi dan di fitnah.

Tidak fanatik terhadap kelompoknya.

Arti fanatik yang saya maksud disini adalah "bener salah adalah urusan kelompok saya, kamu gak boleh ikut campur".
Padahal berdirinya kelompok dakwah atau kelompok Islam bertujuan untuk mempermudah perjuangan Islam. Ketika ada nasehat dari kelompok lain yang diambil dari nilai-nilai Islam, sepatutnya kita menerimanya. Sebaliknya jika ada hal-hal aneh (tidak islami) yang diadopsi oleh kelompok kita, maka sepatutnya kita harus mengoreksinya, kalau perlu jika nasihat kita tidak diterima, maka kita tinggalkan kelompok itu. Kita tetap tidak keluar dari Islam. InsyaAllah dengan kita berpegang teguh pada buhul Islam ketika kita bergabung dalam sebuah jamaah dakwah, maka pasti kita tidak akan tersesat, kecuali jamaah itu yang sesat.

Berusaha memahami perbedaan antar kelompok dengan berdiskusi.

Jika kita memiliki point-point sebelumnya, yaitu ;


  • Sesama muslim bersaudara.
  • Harus dibedakan antara individu jamaah dengan kelompok dakwah.
  • Tujuan perjuangan semata-mata untuk Allah swt (lillahi ta'ala).
  • Tidak fanatik terhadap kelompoknya.


Maka ketika berdiskusi dan berinteraksi dengan kelompok lain, walaupun diskusi itu bisa memanas bahkan mungkin terjadi perdebatan, insyaAllah semua ini akan tetap terjaga di dalam wilayah nasihat, bukan kedengkian. Begitu juga lawan diskusi kita, setelah lepas dari forum itu hubungan sesama saudara muslim tetap terjaga.
Hal ini biasa dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu di dalam memahami perbedaan. Hikmah diadakan diskusi ini adalah agar kita dapat memahami dalil-dalil mana yang lebih kuat. Begitu juga agar generasi dan umat di masa mendatang tidak mengikut apa yang tidak ada bagi mereka ilmu.

Sebelum saya sudahi tulisan ini, saya mencoba untuk mengambil ibroh para sahabat, yang ketika itu diperintahkan untuk menyerang Yahudi Bani Quroidhoh. Maka Rosululluh saw, mengatakan "janganlah kamu sekali-kali sholat asr kecuali jika kamu sudah sampai di kampung Bani Quroidhoh". Di dalam hadits yang lain ada tambahan kalimat dengan "jika kamu beriman dengan Allah dan Rosulnya". Itulah komando Rosul yang diterima Sahabat saat berangkat ke Bani Quroidhoh. Tapi ketika diperjalanan, waktu Asr hampir habis dan kampung Yahudi yang dituju belum juga dijumpainya. Maka dalam hal ini, sebagian Sahabat melakukan sholat Asr dan yang lainnya tetap tidak melakukannya hingga sampai di Bani Quroidhoh. Artinya secara ekstrim Sahabat terbagi dua, sebagian Sholat Asr dan sebagian tidak (kecuali setelah sampai di kampung Bani Quroidhoh, saat Maghrib).

Urusan inipun diadukan kepada Rosululloh saw. Rosul pun, menanggapinya dengan senyum dan membenarkan keduanya. Artinya bahwa kedua kelompok itu mengambil alasan yang cukup kuat ketika mengintrepetasi komando Rosul. Walaupun dibalik itu kebenaran sebenarnya cuma satu, yaitu dari Allah swt. Penafsiran, intrepetasi dan ijtihadiyyah, cenderung debatable, dan koridor itu terbuka selagi bukan hal yang ushul dan yang bersifat Qoth'i dalalahnya. Untuk itu kita haruslah memahami perbedaan yang bukan dari kelompok kita, dan tak mengapa jika dibenturkan dalam rangka mencari dalil dan alasan yang lebih kuat (arjah).

InsyaAllah tulisan di atas hanyalah opini saya, siapapun bisa membantahnya jika mempunyai argumentasi lain yang lebih baik.

WaLlahu a'lam bis-showab.
Abu Ibrahim

Milis Eramuslim
Dikirim oleh: Abu Ibrahim
Jum'at, 1 Februari 2008


Cetak Artikel
  Cetak Artikel