Kaligrafi Nama AllahLogo Situs Keluarga ilma95
Home
 ~  Home
 | 
Pedoman Shalat
Pedoman Shalat
 | 
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid
 | 
Pojok Anak
Pojok Anak
 | 
Kumpulan Artikel
Artikel
 | 
Lagu Rancak Ranah Minang
Lagu Rancak
Ranah Minang
 | 
Cerdas Cermat Islami
Cerdas Cermat Islami
 | 
Edukasi
Edukasi
 ~ 
 




Budaya Jawa mengenal kesaktian. Orang sakti adalah orang yang memiliki kemampuan menghadapi hambatan dengan cara luar biasa, misalnya tidak mempan peluru atau senjata tajam, bisa berjalan di atas air, bisa menghilang dari pandangan mata dan sebagainya. Kesaktian ada yang diyakini bersumber dari kekuatan yang melekat pada dirinya, ada juga kesaktian yang melekat pada benda-benda tertentu. Benda yang memiliki tuah kesaktian itu disebut aji-aji, atau jimat, dari bahasa Arab 'azimat, ada yang berujud keris, cincin, besi kuning dan lain-lainnya. Orang yang ingin sakti biasanya ingin mengumpulkan benda-benda bertuah kesaktian sebanyak-banyaknya. Para pemimpin politik menginginkn aji-aji yang diperuntukkan guna memperkokoh kekuasaannya, penjahat menginginkan aji-aji untuk memperdaya korban, orang malas kerja menginginkan aji-aji yang dapat digunakan untuk memperoleh harta tanpa kerja, dan orang genit mencari aji-aji yang dapat digunakan untuk memelet lawan jenis.

Cara berfikir jalan pintas ini juga dilekatkan kepada pejabat birokrasi yang suka memperkaya diri dengan jalan pintas, yakni dengan mensiasati peraturan atau menyimpang dari aturan, atau nekad melanggar aturan demi unuk memperoleh uang banyak dalam waktu singkat. Praktek ini juga disebut korupsi. Pusat perhatian pejabat koruptor adalah pada bagaimana mengumpulkan kekayayaan sebanyak-banyaknya ke kantong sendiri selagi memegang wewenang, mumpung masih menjabat. Karena ada kesamaan cara berfikir dengan cara berfikir orang sakti yang menghadapi hambatan dengan cara luar biasa, maka kepandaian para koruptor ini disebut dengan aji mumpung, yakni memanfaatkan peluang semaksimal mungkin selagi mememegang kekuasaan.

Para pelaku aji mumpung ini memang orang yang memiliki kecerdasan menyangkut angka-angka, tetapi tidak cerdas menyangkut ruang dan waktu. Ia cerdas menghitung angka-angka rupiah yang bisa digelapkan, tetapi tidak cerdas pada ruang yang akan ditempati dan seberapa lama ia dalam keadaan tidak nyaman. Bayangkan , seorang mantan pejabat pemilik aji mumpung bisa memiliki rumah sampai 25 rumah di Jakarta, deposito dengan entah berapa digit, tapi pada usia senja pasca pensiun, ia terseret ke masalah hukum untuk mempertanggungjawbkan aji mumpungnya sewaktu menjabat, dan klimaknya tak satupun rumahnya yang bisa ditempati, karena ia harus menempati ruang kecil di penjara selama 7 tahun. Bayangkan, mestinya dalam usia senja tinggal berbahagia bersama cucu, eh.. malah waktunya harus dihabiskan di ruang sempit penjara.

Lima Aji Mumpung Positip
Jika dalam praktek korupsi, aji mumpung itu negatip, Nabi Muhammad s.a.w memperkenalkan lima aji mumpung yang positip. Salah satu hadis Rasul mengatakan; Ightanim khomsan qobla khomsin; Rebutlah lima aji mumpung sebelum datangnya lima hambatan:


  1. Hayataka qobla mautika. Mumpung masih hidup sebelum mati, pergunakanlah umur itu se produktif mungkin, karena hanya ketika hidup orang bisa berinvestasi untuk kebahagiaan akhirat nanti. Jika orang sudah mati maka produktifitasnya habis, selain tiga perkara; amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh. Maka mumpung masih hidup, perbanyak amal jariah, yakni amal yang kemanfaatannya berumur panjang dan dimanfaatkan oleh orang banyak, misalnya bikin jembatan, jalan, gedung sekolah, masjid, rumah sakit dsb. Ajarkan ilmu pengetahuan yang anda miliki kepada orang lain, maka selagi ilmu anda diamalkan, anda masih tetap dapat pahalanya, dan didiklah anak anda hingga menjadi anak saleh, karena hanya doa anak saleh yang dijamin diterima Tuhan.

  2. Syababaka qobla haramika. Mumpung masih muda, sebelum pikun, gunakan masa muda untuk belajar dan bekerja keras, karena belajar di waktu muda seperti orang melukis di atas batu, tidak mudah hilang, sedangkan belajar di waktu tua apalagi setelah pikun, seperti melukis di atas air, langsung lupa. Juga bekerja keraslah di usia muda untuk menabung, agar di usia tua nanti tinggal menikmati buah dari tanaman ketika masih muda. Orang, ketika sudah pikun, ia kembali lemah sepeti anak-anak, kembali bodoh seperti ketika belum sekolah

  3. Shihhataka qobla saqamika. Mumpung masih sehat, sebelum sakit. Sehat bukan saja kenikmatan, tetapi juga peluang. Dalam kondisi sehat orang bisa mengerjakan banyak hal, bisa mengatasi banyak hambatan, bisa mengumpulkan cadangan untuk jika sewaktu-waktu sakit. Sehat itu satu kenikmatan yang jarang disadari, baru setelah sakit orang menyadari betapa bermaknanya sehat.

  4. Ghinaka qobla faqrika,. Mumpung masih punya, masih kaya, belum bangkrut, gunakan kekayaan anda untuk hal-hal yang positip bagi orang banyak, keluarga, tetangga atau masyarakat luas, karena jika anda keburu bangkrut anda tidak lagi mampu memberi, dan baru menyadari betapa bermaknanya kontribusi orang kaya. Ciri orang kaya adalah sudah tidak punya kebutuhan dan memiliki kemampuan untuk memberi. Jika orang sudah pegang banyak tetapi kebutuhannya malah lebih banyak sehingga ia tidak mampu memberi malah mengambil jatah orang miskin, maka orang seperti itu bukanlah orang kaya. Oleh karena itu ada orang kaya harta miskin hati, dan ada orang yang miskin harta tapi kaya hati. Orang yang kaya hati, punya lima ribu rupiah masih bisa memberi empat ribu rupiah. Ayo mumpung masih kaya, belum bangkrut.

  5. Sa'atika qobla dloiqika. Mumpung masih punya kelapangan, belum terhimpit kesempitan, mumpung sempat belum sempit, gunakan kesempatan itu untuk melakukan hal yang terbaik. Kesempatan sering tidak datang dua kali, jangan sia-siakan kesempatan. Jangan salah pilih dan salah mengambil keputusan ketika kesempatan terbuka. Banyak orang menggunakan "kesempatan" dalam "kesempitan" yang berujung pada penyesalan yang panjang, hanya nikmat sesaat berujung pada derita selamanya. Hati-hati terhadap permulaan kesempatan.

Wallohu a'lamu bissawab.

Wassalam,
agussyafii

Milis Eramuslim
Dikirim oleh: Agus Syafii
Selasa, 6 Nopember 2007


Cetak Artikel
  Cetak Artikel